Budaya

Urutan Perkawinan Suku Makassar

Urutan perkawinan suku Makassar sesungguhnya cukup rumit dan panjang. Namun, perlahan kebiasaan itu mulai hilang dan disederhanakan.


perkawinan suku makassar
Ilustrasi

Perkawinan atau pernikahan sepertinya jadi salah satu fase penting dalam kehidupan sebagian besar manusia. Tidak terkecuali orang dari suku Makassar. Bagi kami, perkawinan yang mempertemukan dua mempelai dan sekaligus menyatukan dua keluarga adalah sebuah momen penting dan krusial. Persiapannya sungguh menguras tenaga, utamanya bagi kedua mempelai. Masa persiapannya kadang tidak hanya sebulan-dua bulan, tapi bahkan bisa berbulan-bulan hingga setahun. Apalagi bagi mereka yang sangat memegang teguh adat istiadat.

Sejak zaman dahulu, perkawinan sebagai sesuatu yang sakral bagi orang suku Makassar selalu dipandang penting. Selalu menjadi salah satu bagian dari penyempurnaan kehidupan seorang anak manusia. Bagi orang suku Makassar, mereka yang belum menikah belum dianggap utuh sebagai manusia atau disebut tau sipue (manusia separuh).

Ada pepatah dalam suku Makassar yang berbunyi; tenapa na ganna se’re tau punna tenapa na situtu ulunna na salanggana. Pepatah ini berarti; belum sah seorang disebut manusia bila belum terhubung antara kepala dan bahunya. Perkawinan dianggap sebagai proses menyatukan kepala dan bahu, menjadikan seorang manusia menjadi utuh. Suami dan istri dianggap akan saling melengkapi satu dan lain dan menjadi manusia yang utuh.

Karena itulah, anak bujang dan perawan yang sudah dianggap cukup umur untuk menikah akan segera dicarikan jodohnya. Dalam suku Makassar, pertimbangan pertama dalam mencari jodoh adalah kasiratangngang atau kesepadanan. Kedua mempelai harus sepadan dan jangan sampai terjadi perbedaan yang sangat mencolok.

Dalam perkawinan suku Makassar, perkawinan paling ideal adalah perkawinan dalam lingkup keluarga utamanya yang berada dalam garis horisontal. Perkawinan antara sepupu satu kali (sampo sikali; Makassar) adalah perkawinan terbaik dan disebut sialleang baji’na atau saling mengambil yang terbaik. Sementara urutan terbaik berikutnya adalah antara sepupu dua kali (sampo pinruang; Makassar) yang disebut nipassikaluki atau saling dikaitkan. Lalu yang ketiga adalah perkawinan antara sepupu tiga kali (sampo pintallung; Makassar) yang disebut nipakabani bellayya (mendekatkan yang telah jauh).

Namun, tentu saja ketiganya tidak mengikat. Orang Makassar bebas menikah dengan siapa saja, sepanjang keluarga besar menganggap calonnya sepadan dan pantas.

Baca juga partikel khas dalam percakapan sehari-hari orang Makassar di sini

Zaman dahulu perkawinan suku Makassar adalah mutlak menjadi urusan orang tua. Anak sama sekali tidak punya hak untuk menentukan dengan siapa dia akan menikah, utamanya anak perempuan. Semua proses dari pemilihan jodoh hingga perkawinan, semua menjadi hak dan tanggung jawab orang tua. Anak yang akan jadi mempelai hanya menurut saja. Saat ini, hal tersebut tentu sudah tidak berlaku. Anak sudah punya hak untuk memilih dan memutuskan dengan siapa dia akan menikah.

Urutan Perkawinan Suku Makassar

Secara garis besar, perkawinan suku Makassar dipisahkan dalam tiga fase, yaitu: sebelum akad nikah, akad nikah, dan setelah akad nikah. Setiap fase punya sub fase lagi yang kadang kala memakan banyak waktu dan tenaga.

Hal pertama yang harus dilalui adalah proses yang disebut accini’ rorong. Di fase ini keluarga pihak lelaki akan mencoba menyelidiki apakah ada kemungkinan mereka untuk masuk melamar seorang anak gadis yang dianggap pantas dan setara untuk menjadi istri anak mereka. Proses penyelidikan ini diikuti dengan proses yang disebut appesak-pesak atau meraba-raba. Seorang perempuan yang dipercaya akan diutus untuk menyelidiki lebih jauh, apakah di anak gadis sudah ada yang melamar atau belum.


Anak gadis Bugis Makassar

Setelah semua dianggap aman, maka keluarga pihak lelaki akan datang untuk menyampaikan maksud mereka secara resmi. Proses ini disebut ajjangang-jangang atau menerbangkan burung. Satu delegasi yang biasanya berisi tiga atau empat orang dari keluarga lelaki akan datang dan menanyakan secara resmi apakah keluarga lelaki bisa datang meminang atau tidak. Bila sudah disetujui, maka selanjutnya proses akan masuk ke fase berikutnya. Delegasi tersebut akan memberitahukan waktu kedatangan perwakilan mempelai pria untuk melamar.

Fase berikutnya disebut mange assuro atau datang melamar. Di fase ini serombongan delegasi dari keluarga pihak lelaki datang secara resmi mengajukan lamaran kepada pihak keluarga perempuan. Di acara ini disepakati jenis dan jumlah sunrang (mas kawin), doe’ balanja (uang belanja atau kadang disebut uang panaik) dan tanggal pernikahan.

Fase berikutnya adalah appanaik leko’ caddi atau membawa daun sirih kecil. Di fase ini, wakil dari keluarga lelaki akan datang membawa 12 bosara’ (besek atau bakul khas Bugis-Makassar). Untuk keluarga bangsawan, bosara’ berjumlah 14. Bosara’ ini berisi barang hantaran berupa beras segenggam, kelapa, gula merah, sirih, pinang dan kapur serta biasanya uang belanja yang sudah disepakati serta cincin pengikat. Dengan selesainya fase ini berarti resmilah kedua calon mempelai ini bertunangan. Keluarga keduanya kemudian akan menyampaikan berita ini ke keluarga besar mereka serta kerabat dan tetangga.

Basa-basi orang Makassar berbeda dan punya ciri khasnya sendiri. Lengkapnya bisa dibaca di sini

Fase selanjutnya adalah appanaik leko’ lompo atau membawa daun sirih besar. Hampir sama dengan fase sebelumnya, di fase ini rombongan dari keluarga lelaki akan datang membawa bosara’ dan barang hantaran lain. Selain sirih, pinang, dan kapur, bosara’ juga akan berisi tembakau, gula merah, kelapa, pisang, nenas, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lainnya. Hadir pula dalam hantaran itu berbagai macam kue-kue adat seperti cucuru’ bayao, se’ro-se’ro, roko’ roko’ unti dan lain-lain. Sebagai pelengkap, dibawa pula berbagai macam perhiasan, kebutuhan wanita dan alat-alat kecantikan. Di fase ini, rombongan dari keluarga calon mempelai lelaki biasanya diiring alunan musik tradisional seperti gandrang, gong dan pui-pui.

Tiga hari sebelum hari perkawinan tiba, calon mempelai perempuan akan mengikut prosesi yang disebut abbarumbung atau diasapi.  Prosesi ini dimaksudkan untuk membersihkan tubuh si mempelai perempuan agar segar dan wangi di hadapan suaminya nanti.

Malam sebelum akad nikah, keluarga calon mempelai perempuan akan menggelar acara yang disebut akkorontigi. Acara ini semacam pelepasan untuk si calon mempelai perempuan. Wakil dari keluarga besarnya akan bergantian memberikan ramu-ramuan daun pacar di tangan si calon mempelai perempuan. Di beberapa tempat acara ini juga dilengkapi dengan pembacaan barzanji atau oleh orang Makassar disebut abbarazanji.

Dengan selesainya korontigi, maka selesai pula prosesi persiapan menyambut akad nikah.

Akad Nikah dan Nilekka

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Mempelai lelaki datang dengan diantar oleh rombongan keluarga besarnya. Salah seorang pria akan ditugaskan untuk membawa sunrang atau mas kawin, mendampingi sang mempelai. Rombongan ini juga dilengkapi dengan alunan musik tradisional.

Rombongan akan diterima oleh wakil dari mempelai perempuan di depan pagar atau di depan tangga rumah. Setelah alunan musik yang disebut tunrung pakanjarak selesai, wakil mempelai perempuan akan mendendangkan syair yang disebut pakkiyo bunting (pemanggil pengantin). Isi syair ini sangat dalam dan filosofis, menggambarkan kebesaran hati keluarga mempelai perempuan menerima si lelaki dan bagaimana mereka berharap keduanya akan menua bersama, hingga maut memisahkan.

Salah satu isi pakkiyo bunting tersebut adalah:

Nampako ri ujung borikku, ri cappa pa’rasangangku, na kurappoiko cini, kutimbarangi ko pangngai.

Artinya; Baru saja engkau tiba di ujung negeriku, di tepi kampungku, telah kuiringi kau dengan pandanganku, kupersembahkan kasih sayang.

Setelah prosesi selesai, mempelai lelaki dan rombongannya dipersilakan masuk ke dalam rumah dan acara akad nikah dimulai. Saat itu mempelai perempuan tidak dihadirkan. Mempelai perempuan akan berada di dalam kamar, menanti kedatangan lelaki yang akan resmi menjadi suaminya.

Setelah akad nikah selesai, mempelai lelaki akan dibawa ke kamar tempat perempuan yang sekarang resmi menjadi istrinya telah menunggu. Namun, perjalanannya tidak akan mudah karena akan ada beberapa orang yang menghalanginya termasuk penjaga pintu yang tidak mau membukakan pintu. Si penjaga itu baru mau membuka pintu setelah salah seorang pendamping mempelai lelaki memberinya uang. Ini disebut pannyungke pakke’bu’ atau pembuka pintu.

Setelah pintu terbuka, maka bertemulah dua insan yang telah sah menjadi pasangan suami dan istri.

Namun, rentetan prosesi perkawinan suku Makassar belum selesai sampai di situ. Setelah semua acara pernikahan selesai termasuk resepsi, maka kedua mempelai kemudian diarak ke rumah keluarga mempelai lelaki. Prosesi ini disebut nilekka. Keduanya akan menghabiskan beberapa malam di rumah keluarga mempelai lelaki sebelum akhirnya mereka berdua pamit (appala’ kana; Makassar). Si perempuan yang sekarang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga besar si lelaki akan menyerahkan sarung kepada mertuanya. Sarung ini sebagai persembahan menantu kepada mertuanya dan dibalas pula oleh sang mertua dengan sarung.

Kedua mempelai akan tiba kembali di rumah mempelai perempuan, dan di sana akan diadakan prosesi pamungkas yang bernama appakabajikang atau saling memperbaiki/menyempurnakan. Setelah selesainya proses ini, maka berarti selesai sudah semua rangkaian perkawinan suku Makassar.


Infografis urutan perkawinan suku Makassar

*****

Menilik prosesnya bisa dibayangkan betapa rumit dan panjang proses yang harus dilalui. Belum lagi detail dari tiap proses yang sebenarnya punya aturannya masing-masing. Ada syair yang harus dihapal, ada pantun, ada aturan-aturan adat yang mengikat. Pokoknya rumit dan sungguh menguras energi. Mungkin karena alasan itu pula, di zaman sekarang prosesi perkawinan suku Makassar yang lengkap seperti di atas sudah jarang digelar. Kecuali untuk para bangsawan. Mereka yang berasal dari keluarga kebanyakan, biasanya memilih prosesi yang lebih sederhana. Tidak lagi serumit prosesi aslinya.

Perkembangan zaman memang banyak memangkas ritual budaya dan adat istiadat yang bagi zaman sekarang dianggap sangat tidak praktis dan membuang waktu. Memang disayangkan juga karena bagaimanapun adat istiadat itu punya makna filosofisnya sendiri-sendiri. Tidak terkecuali proses pernikahan suku Makassar.

Bagaimana dengan proses perkawinan di tempat asalmu? Apakah juga sama rumitnya? [dG]

Sumber: buku “Manusia Makassar”, Prof. DR. Hj. Sugira Wahid, Penerbit Pustaka Refleksi.

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (12)

  1. Di tempatku pernikahan orang Bugis sudah seperti orang Jawa. Karena adat tercampur. Heheheheeheh

  2. ya Akhi, coba dicari dalilnya apakah prosesi pernikahan ini sudah sesuai syariah, apalagi ada istilah ajjangang-jangang, itu seperti menyamakan prosesi pernikahan dengan memelihara ternak. Bertaubatlah akhi..

    eh, btw artikel ini sa mau bookmark siapa tahu nanti saya pakai klo ada rezeki mendapat jodoh (lagi) dari suku Makassar. makasih ya Akhi, tp jangan lupa carikan dalil syari nya juga sekalian ya..

    • aminn, saya doakan semoga segera mendapatkan jodoh orang Makassar jadi bisa menyelenggarakan acara pernikahan dengan adat istiadat suku Makassar

  3. Moderen ini saya lihat budaya dan adat kita sudah ada beberapa yang hilang secara perlahan-lahan. Mungkin karena banyaknya yang mencari pasangan di luar suku Bugis dan Makassar atau bisa juga karena banyaknya pendatang, sehingga adatnya juga tidak diikutkan semuanya.

  4. Wuih ada tawwa infografisnya. Mantap, Daeng.

    Untuk keluarga bangsawan, bosara’ berjumlah 14, kalo di suku Bugis 24 … biasa tong yang begini ini bikin sedikit rusuh 😀

    Tapi begitulah, kita masih terikat dengan budaya ya … cuma kalo yang paham betul mi tata cara dalam Islam, terhindar mi dari yang sebenarnya tidak begitu esensial mi.

  5. kalau bugis ada mapprola setelah acara nikah. mungkin sama dengan nilekka

  6. Kalau pa’paccing masuk dimana Daeng, ?

    Woww,,baru saya tau semua urutannya seperti di atas ,,sangat detail twwa penjelasannya..

    Tapi kalau sepupu 1 kali jarang mi ditemukan..

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.