PapuaPerjalanan

Menikmati Senja Kaimana

Setelah datang di kali pertama gagal menemukan senja indah di Kaimana, akhirnya kali ini saya berhasil bertemu dengan senja yang terkenal itu.

Kalian pernah mendengar lagu “Senja di Kaimana” tidak? Kalau tidak, ya wajar saja karena lagu ini termasuk lagu lawas. Super lawas malah. Lagu “Senja di Kaimana” dinyanyikan oleh Alfian – yang namanya saja mungkin asing buat kita – dan populer di tahun 1960-an. Saya bahkan tidak yakin ada pembaca blog ini yang sudah lahir di dekade 1960-an itu. Jadi tidak heran kalau banyak dari kita yang tidak tahu lagu ini, kecuali mungkin mereka yang rajin mengulik lagu-lagu Indonesia lawas.

Lagu itu berkisah tentang sepasang kekasih yang menikmati senja di Kaimana, ditemani semburat senja yang menawan di batas lautan, bercerita tentang cinta dan perasaan mereka. Seperti layaknya lagu-lagu cinta.

Tapi yang unik dari lagu ini tentu saja lokasinya, Kaimana. Di tahun 2010-an saja sepertinya masih banyak orang Indonesia yang tidak tahu di mana itu Kaimana, apalagi di tahun 1960-an. Ketika Irian Jaya – nama lawas Papua – masih sangat asing di telinga sebagian besar orang Indonesia.

Senja di Kaimana

Kaimana berada di bagian “leher” kepala burung, nama yang selau disematkan untuk menggambarkan pulau Papua yang memang sepintas mirip kepala burung. Kaimana berada tepat di seberang Fakfak yang berada di bagian mulut bawah kepala burung itu. Menghadap persis ke laut Arafuru.

Dulunya Kaimana termasuk dalam wilayah Kabupaten Fakfak, salah satu kabupaten tertua di Papua. Wilayah Kabupaten Fakfak bahkan sampai ke wilayah yang sekarang bernama Kabupaten Mimika di bagian selatan Papua. Kaimana baru menjadi kabupaten sendiri di tahun 2002, hampir bersamaan dengan mekarnya Provinsi Papua Barat. Sekarang Kaimana masuk sebagai satu dari 13 kabupaten/kota di Papua Barat.

Pertama kali mendatangi Kaimana di bulan Juni lalu, saya langsung mendapati sebuah wilayah yang unik tapi khas Papua Barat. Saya bilang unik, karena rasanya berbeda jauh dengan banyak wilayah Papua yang pernah saya datangi.

Saya bisa merasakan kalau Kaimana adalah gradasi dari Maluku ke Papua. Orang-orang di Kaimana lebih mirip dengan orang Maluku daripada orang Papua, kecuali para pendatang dari Sulawesi, Jawa, Sumatera dan daerah lain tentunya. Ini tentu masuk akal kalau melihat sejarah panjang Kaimana. Sejak dulu, Kaimana dan Fakfak memang jadi salah satu daerah yang masuk dalam pengaruh kerajaan Ternate dan Tidore. Jadi tidak heran kalau pengaruh itu masih terasa sampai sekarang. Baik dari budayanya maupun orang-orangnya.

Kita mudah menemukan orang-orang dengan perawakan khas orang timur; kulit gelap, rambut keriting, tapi beragama Islam. Berbeda dengan gambaran orang timur yang biasa saya dapati. Meski tidak sekental Fakfak, tapi kita masih bisa dengan jelas menemukan jejak-jejak peleburan budaya Maluku di Kaimana. Sebagai kota pesisir, Kaimana juga jadi salah satu kota yang sangat terbuka untuk para pendatang.

Tapi ada tiga hal yang sangat menarik yang saya garis bawahi kalau berbicara tentang Kaimana.

Pertama, bagian kota tua. Saya pernah bilang, kalau ada orang yang ingin membuat film dengan latar Indonesia tahun 1960-an maka kawasan kota tua Kaimana bisa jadi pilihan. Di wilayah itu, bangunan tua masih berdiri dengan kokoh, lengkap dengan arsitektur tahun 1960-annya. Sebagian besar adalah toko. Tinggal mengganti kendaraan yang lewat dengan kendaraan dari tahun 1960-an, maka kita bisa mendapatkan situasi kota di Indonesia di dekade 1960-an atau 1970-an.

Kedua, ikan lautnya. Tuhan! Saya suka ikan laut di Kaimana. Rasanya sungguh segar dan enak! Dulu saya pikir ikan laut di Makassar sudah yang paling enak, tapi sekarang saya harus merevisi pendapat itu. Ikan laut di Kaimana – dan Fakfak  serta Raja Ampat – adalah yang paling the best saat ini. Tidak percaya? Kalian bisa coba sendiri.

Ketiga, senjanya. Tidak salah kalau kota ini menobatkan diri sebagai “Kota Senja Indah”, seperti yang mereka tuliskan di Bandara Utarom, Kaimana. Waktu pertama datang ke Kaimana dulu, saya masih belum beruntung. Belum berhasil menemukan senja yang menawan. Tapi ketika datang kedua kalinya, saya bersyukur karena ternyata saya berjodoh dengan senja Kaimana. Saya dan kawan berhasil menemukan senja yang indah di tepian Kaimana, di Taman Senja yang dulu juga jadi taman tempat menjamu Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana.

[metaslider id=13121 cssclass=””]

*****

Kaimana dan Fakfak memang dua kabupaten yang tahun ini akhirnya berhasil saya datangi, dan keduanya memang punya daya tarik luar biasa yang membuat saya jatuh cinta. Saya menyukai nuansa kota yang masih terkesan tua dan bergerak lambat dengan orang-orang yang ramah dan terbuka. Saya juga menyukai beragam hasil lautnya yang begitu nyaman di lidah, serta tentu saja suasana pantai di sore hari. Rasanya saya beruntung bisa mendatangi kedua kota ini. Apalagi bisa menikmati senja di Kaimana yang sudah terlanjur populer itu.[dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Jika sekarang saja suasana senjanya sekeren dan seromantis itu, apalagi dulu pada saat lagu tersebut diciptakan ya Daeng. Memang untuk dapat menghasilkan sebuah hasil foto keren itu tidak semata2 tergantung dari jenis kamera yang digunakan, tapi dipengaruhi juga oleh timing karena momen berharga bisa datang sewaktu2 tanpa direncanakan.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.