TAHUN BARU [HARUSNYA] SEMANGAT BARU
Posted by ipul on January 5, 2009Bagi saya (dan mungkin juga anda) yang sehari-harinya adalah orang yang terjebak dalam rutinitas eight to five, maka hari senin yang lembab, dingin dan basah karena hujan setelah liburan panjang adalah hari yang sangat berat. Bagaimana tidak, bila dalam waktu seminggu sebelumnya saya sudah sangat menikmati ritual bangun telat, bangun setelah matahari sudah cukup menyengat atau hujan sudah cukup lelah untuk membasahi bumi. Yup, seminggu berlibur adalah waktunya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bermalas-malasan, dan kalau sudah capek bermalas-malasan maka selanjutnya adalah mengerjakan beberapa pekerjaan yang tak sempat terselesaikan di waktu normal.
Selama liburan panjang tersebut saya memang lebih banyak di rumah, berinteraksi sepuas-puasnya dengan 2 malaikat kecil yang lagi lucu-lucunya, mengerjakan proyek yang tertunda, menonton tivi dan memutar beberapa film sambil tentu saja tak lupa untuk bermalas-malasan. Bahkan malam tahun barupun yang bagi banyak orang dirayakan secara khusus bahkan sampai menghambur-hamburkan uang banyak berlalu tanpa ada sesuatu yang spesial dari saya. Hanya hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV bersama keluarga, menonton Harry Potter and The Goblet of Fire (meski sudah beberapa ditonton) dan dilanjutkan dengan Da Vinci Code. Nothing spesial, malah saya sempat kesel sama suara kembang api di sekitar rumah yang mengganggu tidur Hilmy.
Tahun baru memang tak pernah terlalu spesial bagi saya. Seumur-umur hanya dua kali saya merayakan tahun baru, pertama waktu masih ABG bersama teman-teman dan kedua saya terpaksa ikut acara tahun baruan bersama tetangga karena toh acaranya digelar tepat di depan rumah. Selebihnya acara pergantian tahun hanya dilewatkan dengan menonton TV atau bahkan hanya dengan tidur.
Tahun ini keinginan untuk menggelar acara semakin hilang, rasanya sungguh tak tega bersenang-senang di malam pergantian tahun sedangkan jauh di Gaza sana ada banyak saudara kita yang sedang meregang nyawa dan sedang dalam penderitaan hebat karena serangan tentara Israel. Bukan mau sok-sokan teman, tapi sebagai manusia yang masih punya nurani saya tetap saja merasa tak tahan melihat anak-anak kecil tak berdosa yang menangis kesakitan dan menjadi korban kebiadaban tersebut. Ini bukan masalah ideologi lagi saya kira, meskipun yang menjadi korban tersebut bukan muslim saya rasa kita akan tetap merasa sedih dan tak tahan melihat akibat dari nafsu biadab tersebut. Jadi, makin lengkaplah alasan saya untuk tidak merayakan tahun baru secara khusus.
Nah, kemudian..di tahun yang baru orang-orang biasanya punya rencana-rencana menghadapi tahun yang baru atau yang lazim disebut resolusi. Hmm..tahun lalu saya juga punya resolusi, resolusi yang sebagian besar ternyata tak menjadi kenyataan. Jadi, tahun ini saya takut mau bikin resolusi lagi, takut menumpuk utang banyak-banyak. Saya hanya mau fokus pada sisa resolusi tahun lalu yag belum sempat dipenuhi. Di samping itu yang pengen selalu bisa menyemangati diri sendiri agar bisa jadi lebih baik dari waktu ke waktu. Itu saja..











