Tiba-Tiba Tokyo


Eh tiba-tiba kembali lagi ke Jepang. Semua berawal dari “pembelian impulsif” setelah pulang dari Jepang tahun lalu.


Langit Tokyo sudah gelap ketika kami keluar dari stasiun kereta Higashi Nihombashi. Hotel kami kebetulan tidak jauh dari stasiun itu, kami tinggal keluar dan jalan kaki sekitar 100an meter. Begitu keluar stasiun, angin dingin menyergap. Tidak terlalu dingin sebenarnya, lebih ke sejuk. Menurut prakiraan cuaca, suhu malam itu sekitar 21 derajat celcius. Cukup sejuk buat orang tropis seperti kami.

Ini adalah kali kedua saya ke Jepang. Semua berawal dari lawatan bulan Oktober tahun lalu yang menyisakan rasa ingin kembali ke negeri matahari terbit itu. Sekira sebulan setelah kunjungan pertama itu tiba-tiba sebuah penawaran diskon pesawat muncul di aplikasi Traveloka. Tiket Jakarta-Tokyo pergi-pulang hanya dibanderol di harga sekitar Rp.7 jutaan menggunakan maskapai ANA. Ini bukan maskapai abal-abal tentunya, salah satu maskapai terbaik Jepang. Harga segitu sudah termasuk makan-minum di pesawat, hiburan, dan bagasi yang bahkan besarannya samai 2×23 Kg. Banyak!

Dan tanpa berpikir panjang, penawaran itu langsung saya sambut. Pembelian impulsif, hehehe. Kapan lagi dapat penawaran semurah itu dari ANA.

Menjelang Musim Panas

Kami memilih bulan Mei, selain karena memang promonya ada di bulan itu, juga karena Mei belum masuk ke musim panas. Masih lumayan sejuk. Konon, Jepang di musim panas lumayan kurang nyaman karena panasnya hampir sama dengan Indonesia. Jadi kalau hanya mau merasakan panas, kenapa harus jauh-jauh ke Jepang, iya kan?

Bulan Mei menurut prakiraan cuaca masih lumayan nyaman. Suhu masih berkisar di antara 17 sampai 23 derajat celcius sambil sesekali ditemani hujan ringan. Yah lumayanlah, masih sangat nyaman untuk berwisata.

Dan ternyata memang benar, meski rasanya tidak sedingin ketika kami datang di bulan Oktober lalu, Jepang masih lumayan sejuk. Kami tetap harus memakai jaket meski bukan jaket tebal seperti tahun lalu. Hanya jaket tipis, sekadar mengusir rasa dingin.

Bahkan sekali waktu saya keluar hotel tanpa jaket sama sekali, walaupun pada akhirnya agak menyesal karena ternyata cuaca berubah cukup drastis. Maklum, orang tropis yang tidak terbiasa mengecek prakiraan cuaca. Di Indonesia suhu dan cuaca biasanya tidak akan berubah sangat ekstrem, berbeda dengan negara empat musim. Pagi-pagi terlihat cerah dengan matahari yang bersinar, tapi beberapa jam kemudian langit tiba-tiba mendung dan suhu turun sampai beberapa derajat. Tidak heran kalau orang-orang di negara empat musim itu sangat membiasakan diri mengecek prakiraan cuaca sebelum keluar rumah.

Suasana di sekitar stadion

Melihat Pesumo

Kami menginap di kawasan Chuo City, tidak jauh dari Sungai Sumida. Tidak terlalu jauh juga dari stasiun Ryogoku tempat dulu kami menginap. Entah kenapa, saya suka kawasan ini, salah satunya mungkin karena dekat dengan Ryogoku Kokugikan National Sumo Arena, tempat berlangsungnya kejuaraan nasional sumo. Maklum, saya menyukai olahraga khas Jepang itu.

Sebenarnya ada harapan bisa melihat langsung pertandingan sumo, apalagi waktu kami di Jepang bertepatan dengan pelaksanaan kejuaraan nasional sumo. Sayangnya karena memang tidak direncanakan jadi kami terlambat mengecek tiket dan sudah kehabisan. Tapi mumpung menginap tidak jauh dari stadion, jadi bolehlah sekalian jalan-jalan ke sana melihat keramaian pelaksanaan kejuaraan sumo.

Ketika kami tiba, ternyata suasana memang ramai. Ada banyak orang yang berkumpul di sekitar stadion, sebagian sudah masuk lewat pintu yang disediakan, sebagian lagi hanya berkumpul di sekitar stadion. Mereka mungkin seperti kami, turis yang tidak berhasil mendapatkan tiket.

Beruntungnya lagi karena beberapa pesumo terlihat mondar-mandir di sekitar stadion. Tidak ada satupun yang saya kenal karena sepertinya sebagian dari mereka masih pesumo pemula. Meski begitu, melihat langsung pesumo yang berbadan tambun itu rasanya sudah cukup menyenangkan. Saya sampai tidak bisa menahan diri untuk berfoto bersama salah satu pesumo muda yang kata teman, “Badannya masih kecil.”

Pesumo yang berjalan-jalan

Tak apalah, yang penting bertemu pesumo hehehe.

Melihat langsung pesumo dan suasana sekitar stadion adalah salah satu kegiatan kami di Tokyo. Sisanya adalah seperti biasa, belanja! Hahahaha

Tokyo Adalah Belanja

Entah kenapa, salah satu kenikmatan di Tokyo – dan Jepang secara keseluruhan – adalah berbelanja. Barang-barang di sana banyak yang unik dan bagus, plus harganya masih sangat terjangkau kalau tidak mau dibilang murah dibandingkan barang yang sama di Indonesia.

Salah satunya tentu saja adalah barang milik Uniqlo, produsen pakaian dari Jepang. Kami berkunjung ke salah satu Uniqlo terbesar yang letaknya di Ginza, dan tentu saja kami tidak pulang dengan tangan kosong. Bukan apa-apa, barang di sana banyak yang bagus dan murah.

Misalnya saja sebuah jaket wind breaker yang di Uniqlo Indonesia mungkin sekitar Rp.300an ribu, di sana hanya seharga 1.200 Yen atau kira-kira 130an ribu. Beda jauh kan? Kami memang hanya mengincar barang-barang diskon yang ada di Uniqlo, karena untuk barang yang tidak diskon biasanya harganya tidak berbeda jauh.

Tempat belanja lain yang juga sangat menarik perhatian adalah Daisoo dan Muji, dua waralaba milik Jepang yang kerap menawarkan barang-barang unik dan murah. Khusus untuk Daisoo, rata-rata barangnya ada di harga 100Yen. Semacam toko Serba Rp.50.000,- di Indonesia. Bukan hanya harganya yang murah, tapi jenisnya juga beragam dan unik. Selain untuk kebutuhan sendiri, cocok juga untuk dibeli sebagai oleh-oleh.

Masih di Tokyo saja berat dari koper kami sudah bertambah meski secara harga sebenarnya tidak terlalu banyak. Kebanyakan yang dibeli memang barang-barang murah atau barang-barang diskon.

Sumida River di malam hari

****

Kami menghabiskan dua malam di Tokyo sebelum kemudian bergeser ke kota lain, Kanazawa. Kanazawa bukan kota besar, sepertinya tidak terlalu sering disebut seperti orang menyebut Tokyo, Osaka, atau Kyoto. Tapi ternyata kota ini juga cukup menyenangkan. Kecil dan tenang, serta masih menyimpan banyak bangunan tradisional. Saya suka kota-kota seperti Kanazawa yang tidak sepadat dan setergesa-gesa Tokyo. [dG]