PapuaPerjalanan

Jatuh Cinta Pada Fakfak


Sebuah perjalanan ke Fakfak yang membuat saya jatuh cinta pada kota ini. Kota yang tenang, terasa lambat, dan penuh dengan tanjakan. Lautan di depan dan tebing di belakang.


Suatu hari di tahun 2004, dalam perjalanan ke Semarang saya bertemu seorang lelaki Papua di atas angkutan umum. Kami berkenalan, mengobrol sejenak, dan kondisi sebagai sesama pendatang di tanah Jawa membuat kami langsung akrab. Perawakannya khas orang Papua, berkulit gelap dan berambut keriting. Saya lupa namanya siapa, tapi saya ingat kalau namanya seperti nama laki-laki muslim pada umumnya. Saya mengira dia muallaf, karena waktu itu dalam pikiran saya semua orang Papua terlahir sebagai Nasrani.

“Kakak muallaf ya?” Tanya saya memastikan.

“Ah tidak, saya Islam dari lahir. Orang tua saya juga Muslim,” jawabnya.

Dia lalu bercerita kalalu di tanah aslinya – Fakfak, ada banyak orang Papua yang Muslim. Tidak seperti kebanyakan orang Papua yang saya tahu, yang memeluk agama Kristen atau Katolik.

Dan itulah pertama kalinya saya sadar kalau ternyata orang Papua bukan hanya memeluk agama Nasrani. Ada juga orang Papua yang memeluk agama Islam secara turun temurun. Utamanya mereka yang tinggal di daerah kepala burung. Di sekitar Sorong, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.

Menginjakkan Kaki di Fakfak

Tanggal 25 September 2021, akhirnya saya menginjakkan kaki di Fakfak, Papua Barat. Matahari tepat di atas kepala, udara terasa panas meski angin laut berembus kencang. Bandara Torea, Fakfak berada di tepi pantai. Tepatnya di antara pantai dan tebing. Dua hal yang sangat akrab dengan Fakfak. Pantai dan tebing.

Saya jadi ingat kata-kata dari Mamat Alkatiri, seorang komika yang berasal dari Fakfak. Dia pernah bilang kalau di Fakfak tidak ada tukang becak. Alasannya, kota itu sangat tidak ramah pada tukang becak karena jalanannya sebagian besar memang menanjak dan menurun.


Jalanan Fakfak yang tidak rata

Dan apa yang dibilang Mamat itu benar adanya. Kota Fakfak hanya punya sedikit bagian yang datar, itupun lebih banyak di wilayah reklamasi yang oleh mereka disebut dengan “jalan baru.” Sisanya jalan menanjak yang sebagian malah sangat ekstrim. Benar-benar tidak ramah buat tukang becak karena bisa dipastikan betisnya bisa meledak.

Fakfak berada tepat di tepi pantai dengan pemandangan pantai dan lautan lepas di depannya dan tebing tinggi di belakangnya. Sangat kontras, tapi sekaligus menampilkan dua pemandangan yang luar biasa. Birunya laut di depan, dan hijaunya pepohonan di belakang.

Fakfak dikenal sebagai salah satu kota tua di Papua. Jejaknya bahkan bisa ditelusuri jauh di masa Kerajaan Majapahit dalam kitab klasik Negara Kertagama pada 1365 M. Fakfak juga menyimpan jejak masuknya tiga agama yang menjadi agama mayoritas hingga saat ini, yaitu: Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Ketiga agama tersebut dianggap sebagai agama keluarga di Fakfak sehingga ada istilah “Satu tungku tiga batu, satu hati satu saudara.” Ini menggambarkan bagaimana ketiga agama tersebut bisa hidup damai berdampingan di Fakfak.

Zaman dahulu, Fakfak mendapatkan banyak sekali pengaruh dari Kerajaan Tidore dan Ternate di Maluku. Mereka sudah punya hubungan yang sangat erat yang kemudian meninggalkan banyak jejak hingga saat ini. Salah satu yang sangat mudah dilihat adalah pakaian adat orang Fakfak yang sangat mirip dengan pakaian adat orang Tidore dan Ternate. Secara fisik pun, sebagian orang Fakfak sangat mirip dengan orang Maluku. Bertubuh langsing, kulit tidak terlalu gelap seperti orang Papua pegunungan, dan rambut yang lebih ke ikal daripada keriting.


Bersama nona Fakfak

Saat Papua mulai masuk menjadi bagian dari Indonesia, Fakfak adalah salah satu kabupaten di bawah pemerintahan Provinsi Irian Jaya. Fakfak menjadi pusat pemerintahan yang membawahi wilayah Kaimana sampai ke Mimika. Tahun 1999, Mimika mekar menjadi kabupaten sendiri dan tahun 2002 gantian Kaimana yang mekar menjadi kabupaten sendiri.

Kota yang Tenang

Pagi datang dengan perlahan di Fakfak. Saya keluar dari balkon hotel, memandang jauh ke teluk di depan mata yang perlahan disirami matahari pagi. Di sebelah timur matahari mulai muncul, sinarnya kuning dan menerangi bumi. Udara terasa sangat segar dan sepertinya sayang kalau saya hanya menikmati pagi dari hotel.

Saya keluar dari hotel, mulai berjalan ke arah pusat kota Fakfak. Meniti jalan menurun yang curam dengan ditemani matahari pagi yang mulai hangat dan udara yang masih segar. Beberapa anjing liar tiduran di tengah jalan, mungkin menikmati sepinya jalan sebelum manusia-manusia mulai beraktivitas.


Pagi di Fakfak

Di bagian kota lama, sebagian besar toko masih tutup. Hanya ada beberapa anak sekolah yang meniti jalan sepi menuju ke sekolah mereka. Suasana kota lama benar-benar seperti mengantarkan saya ke zaman puluhan tahun lalu. Arsitekturnya masih mempertahankan arsitektur lama, lengkap dengan papan nama toko yang masih bertahan sejak zaman tujuh puluhan atau mungkin bahkan enam puluhan.

Di daerah kota tua juga berdiri sebuah klenteng besar yang jadi penanda hubungan orang Fakfak dengan orang Tionghoa. Sebuah hubungan yang juga sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan menandai bagaimana orang Fakfak bisa menerima dengan tangan terbuka beragam suku yang datang. Termasuk orang-orang Tionghoa.


Tanda kalau tokonya sudah tua
Kelenteng di tengah kota Fakfak

Dari kawasan kota tua saya terus berjalan ke bawah ke tepi pantai di lokasi reklamasi lalu berhenti di tugu Tiga Tungku dan Fakfak City. Matahari mulai memanas, tapi terasa masih sangat bersahabat. Di pelataran yang menjorok ke laut itu, saya menikmati pagi dan debur ombak yang malas di pagi hari. Ibu-ibu petugas kebersihan bekerja membersihkan jalan. Hanya satu-dua orang yang melintas di jalan besar itu, padahal matahari sudah mulai meninggi.

Benar-benar sebuah tanda kota yang tenang dan santai. Kota yang tidak terburu-buru dan lebih menikmati detik demi detik. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada Fakfak.

*****

Senja di Fakfak

Saya baru sekali datang ke Fakfak, tapi entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Kota kecil yang tenang dan lambat bergerak, tapi memberi rasa nyaman. Saya bahkan bermimpi kalau kota ini bisa jadi kota yang pas untuk menghabiskan masa tua. Punya rumah di sana, punya kebun, punya kegiatan yang bisa mendatangkan pengaruh positif untuk anak-anak atau para warga di sana. Sebuah mimpi yang yah namanya juga mimpi, jangan tanggung-tanggung.

Fakfak dengan kota yang berkontur dan tidak ramah pada tukang becak itu, dengan warga yang ramah, dan tentu saja dengan makanan hasil laut yang enak dan gurih. Mungkin memang saya harus kembali lagi ke sana.  Suatu hari nanti. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Terima kasih. Cerita ini amat mengundang. Tampaknya memang tenang kotanya, dan saya rindu kota yang tak bergegas.
    Ungkapan satu tungku tiga batu amat menarik.

  2. Memang menyenangkan bisa berinteraksi seperti ini, banyak cerita tentang sejarah kota yang jarang tersebar. bangunan-bangunan itu menjadi bukti kuat

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.