Perjalanan

Pertama Kali Bersama Pedulilindungi

Pengalaman menggunakan aplikasi PeduliLindungi ketika harus menggunakan pesawat terbang. Ternyata ada beberapa perbedaan cara penggunaan di bandara yang berbeda.

Tanggal 18 September kemarin, akhirnya saya harus kembali ke Manokwari, Papua Barat. Setelah dua bulan lebih berada di Makassar dalam rangka work from home, situasi COVID-19 yang mulai melandai membuat kami sudah bisa kembali ke kantor dan melakukan kegiatan tatap muka. Itu juga yang membuat saya harus kembali ke base di kota Manokwari.

Dan ini juga yang jadi pengalaman pertama saya menggunakan PeduliLindungi.

Sepertinya sebagian besar dari kita sudah tahu tentang aplikasi ini. Aplikasi buatan pemerintah Republik Indonesia yang bertujuan untuk memantau pergerakan warga dan menyimpan semua data vaksinasi COVID-19 serta hasil tes COVID-19. Aplikasi yang jadi salah satu syarat ketika akan masuk ke mal, pusat perbelanjaan, dan tentu saja ketika akan melakukan mobilisasi ke daerah lain. Utamanya ketika menggunakan moda pesawat terbang.

Memang masih ada banyak kontroversi dan perdebatan terkait PeduliLindungi. Mulai dari aplikasi yang menyendot banyak baterai karena mengakses lokasi setiap saat, hingga isu kebocoran data. Pemerintah sendiri sudah mengelak soal isu kebocoran data tersebut dan mengaku kebocoran tersebut terjadi karena oknum orang dalam, bukan karena usaha peratasan.

Memasang PeduliLindungi

Karena harus terbang ke luar provinsi, maka mau tidak mau saya harus memasang aplikasi PeduliLindungi. Sebelumnya saya tidak pernah merasa harus memasangnya. Toh semua kegiatan saya lebih banyak dilakukan dari rumah. Saya jarang sekali keluar rumah, apalagi ke mal. Bahkan sebelum pandemi pun saya lupa kapan terakhir kali saya ke mal.

Tapi karena harus naik pesawat ke Manokwari, maka tentu saja saya harus memasang aplikasi ini.

Dua akses pertama yang diminta aplikasi ini adalah akses ke lokasi dan kamera. Akses ke lokasi karena dia akan merekam terus pergerakan kita, sekaligus memberi tahu kondisi daerah di sekitar kita. Apakah kita sedang berada di zona risiko rendah, sedang, atau tinggi.

Akses kamera diminta karena kita akan menggunakan aplikasi ini untuk memindai (scan) barcode yang ada di bandara tempat kita berangkat, atau ketika akan masuk dan keluar mal.

Aplikasinya sendiri menurut saya cukup berat, tidak terlalu berat, tapi tidak seenteng aplikasi seperti Tokopedia, Gojek, atau Traveloka. Mungkin karena fungsinya yang lebih banyak atau ada sebab lain, entahlah.

Setelah memasang aplikasi di handphone, hal berikutnya yang saya lakukan adalah mendaftar. Saya memang belum pernah mendaftar di website PeduliLindungi, jadi ini pertama kalinya. Ketika mendaftar, kita harus memasukkan NIK, alamat email, dan nomor handphone. Kita akan mendapatkan kode OTP melalui SMS yang bisa digunakan untuk masuk ke aplikasi. SMS berisi OTP ini datangnya agak lama, saya bahkan harus melakukan pendaftaran beberapa kali. Jangan lupa, lokasi di handphone harus tetap diaktifkan.

Kesan pertama ketika masuk ke aplikasi adalah, saya bingung mengakses beragam fitur di sana. Saya bahkan harus mencarinya di Google untuk bisa tahu di bagian mana saya bisa melihat status vaksinasi saya. Ternyata semua informasi itu ada di bagian Paspor Digital. Di sana ada nama kita dan informasi kapan kita vaksin, status kita yang ditandai dengan warna hijau, kuning, dan merah, serta bagian yang berisi hasil tes COVID-19 yang bisa digunakan sebagai syarat perjalanan.

Halaman paspor digital

Tes COVID-19 Masuk ke PeduliLindungi

Karena harus melakukan perjalanan lintas provinsi yang salah satu syaratnya adalah hasil tes PCR COVID-19, maka 2×24 sebelum saya berangkat saya mendatangi salah satu klinik BUMN di Makassar. Hasil test PCR hanya berlaku 2×24 sebelum keberangkatan, dihitung dari tanggal pengambilan sampel.

“Hasil tesnya keluar besok malam pak, langsung ke PeduliLindungi,” kata petugas di klinik itu ketika saya tanya.

Dan benar saja, keesokan harinya hasilnya sudah masuk ke aplikasi PeduliLindungi. Awalnya saya bingung mencari hasilnya. Di halaman depan sudah ada informasi kalau hasil PCR sudah keluar dengan status negatif. Tapi, hasilnya dilihat di mana? Itu sebelum saya tahu halaman Paspor Digital.

Di halaman itulah semua informasi tentang vaksinasi dan hasil tes COVID-19 kita terdaftar. Tentu saja bila tes dilakukan di klinik yang diakui pemerintah. Hal yang sama tidak saya temui ketika melakukan tes swab antigen di Sorong, hasilnya masih dalam bentuk kertas dan tidak masuk ke aplikasi PeduliLindungi. Belakangan hasilnya memang masuk ke PeduliLindungi, tapi itu setelah perjalanan sudah dilakukan.

Pengecekan di Bandara Sultan Hasanuddin

Tibalah saat saya harus ke bandara. Aplikasi PeduliLindungi sudah saya siapkan, dan setidaknya saya sudah tahu apa yang harus saya perlihatkan ke petugas. Sayapun sudah mengisi e-Hac yang sekarang sudah diintegrasikan dengan aplikasi PeduliLindungi. Tidak seperti sebelumnya ketika e-Hac berdiri sendiri.

Masalahnya adalah, ketika mengisi e-Hac kita masih harus memasukkan NIK secara manual. Tidak otomatis muncul, padahal kita sudah login di akun milik kita yang salah satunya berisi informasi NIK. Ini cukup merepotkan bagi sebagian orang yang tidak menghapal NIK-nya, karena mereka harus mengeluarkan KTP dan memasukkannya secara manual. Sisanya sih sepertinya pengisian e-Hac yang lalu.

Ketika tiba di bandara, seorang petugas di depan sudah mengadang. Dia meminta saya memperlihatkan tiket pesawat dan aplikasi PeduliLindungi. Saya kira dia akan memindai barcode di aplikasi yang berisi data saya, tapi ternyata tidak. Mungkin dia hanya melihat status saya yang berwarna hijau, menandakan saya sudah vaksin dan hasil tes PCR negatif.

“Silakan pak,” Katanya sambil memberi jalan.

Di depan pintu masuk ada barcode besar yang terpasang, lengkap dengan instruksi untuk memindainya. Tapi karena tidak ada petugas di sana, sebagian besar orang hanya berlalu tanpa melakukan pemindaian. Sayapun begitu. Saya tidak tahu kalau barcode itu harus dipindai dengan aplikasi PeduliLindungi. Informasi itu baru saya tahu belakangan.

Proses check in berjalan seperti biasa, hanya berbeda di bagian ketika petugas counter check in meminta kita memperlihatkan aplikasi PeduliLindungi. Saya pikir, “Koq ini terlalu sederhana ya untuk sebuah pemeriksaan? Bukannya ini malah lebih gampang bocor?”

Belakangan saya baru tahu kalau petugas counter chek in melakukan pengecekan silang dengan data NIK yang kita punya. Mereka terhubung ke server PeduliLindungi, jadi ketika mereka memasukkan nomor NIK penumpang, status yang muncul akan memperlihatkan apakah si penumpang itu sudah berstatus hijau, atau masih kuning, apalagi merah.

“Pengecekan terakhir dilakukan oleh petugas check in melalui NIK untuk memastikan penumpang layak terbang atau tidak,” kira-kira begitulah penjelasan akun twitter Angkasa Pura. Penjelasan ini membalas twit saya yang mempertanyakan asumsi saya tentang lemahnya pemeriksaan penumpang di bandara Sultan Hasanuddin.

Ternyata itu memang cuma asumsi saya karena pemeriksaannya tetap tergolong ketat dengan mengandalkan NIK dan data dari PeduliLindungi.

Halaman depan PeduliLindungi

Pengecekan di Bandara Rendani

Sehari setetelah tiba di Manokwari, saya harus bersiap untuk berangkat lagi ke Sorong. Dan kali ini perjalanan dimulai dari Bandara Rendani, Manokwari. Sama seperti ketika akan menuju Manokwari dari Makassar, kali ini saya juga mengikuti tes COVID-19. Bedanya, kalau dari Makassar ke Manokwari saya harus menjalani tes PCR, maka dari Manokwari ke Sorong cukup dengan swab antigen.

Hasil tes swab antigen dari klinik langganan ini langsung masuk ke aplikasi PeduliLindungi, tentu karena kliniknya diakui secara pemerintah.

Bedanya dengan Makassar, di Manokwari kita masih harus melakukan validasi PeduliLindungi di counter khusus di bagian depan bandara. Validasinya gampang, kita cuma memperlihatkan paspor digital di aplikasi PeduliLindungi yang memperlihatkan hasil tes COVID-19 dan sertifikat vaksin. Tentu saja ada keterangan HIJAU yang menandakan status kita.

Dari counter tersebut kita akan diberikan satu kartu kecil yang menandakan kalau kita sudah melakukan validasi. Kartu kecil ini diperlihatkan di counter chek in selain memperlihatkan KTP. Prosesnya sedikit berbeda memang dengan proses di bandara Hasanuddin, Makassar.

Proses yang sama juga dilakukan di bandara Domine Eduard Osok, Kota Sorong. Kita harus melakukan validasi dulu di bagian counter di depan bandara.

*****

Setelah sekian lama berdiam di rumah dan tidak kemana-mana, akhirnya memang saya harus bepergian ke banyak tempat, dalam satu rangkaian perjalanan pula. Perjalanan ini yang kemudian membuat saya harus berurusan dengan PeduliLindungi, aplikasi yang sekarang sudah jadi syarat utama bagi warga negara Indonesia yang harus kemana-mana, atau bahkan sekadar harus masuk ke mal.

Sejauh ini, saya kira performa PeduliLindungi sudah cukup mewadahi kebutuhan kita. Di luar beberapa kekurangannya seperti aplikasi yang masih agak berat, tampak muka yang masih kurang nyaman dan sedikit menyulitkan, sampai aplikasi yang memakan banyak baterai karena terus menerus meminta akses lokasi, bahkan saat tidak digunakan.

Ini kita bicara soal fungsi ya, belum soal keamanan data. Saya tidak tahu banyak soal itu, tapi saya harap sih PeduliLindungi bisa benar-benar menjaga kerahasiaan data kita. Bukan begitu? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Sekarang hampir semua kudu bawa peduli lindungi hehehee. Ngomong-ngomong jadwal vaksinnya hampir barengan, duluan saya selisih dua hari

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.