PapuaPerjalanan

Akhirnya ke Piaynemo

Pertama ke Raja Ampat, saya tidak tertarik ke Piaynemo yang menurut saya sudah sangat mainstream. Beruntung karena akhirnya saya bisa diajak ke sana.

Keringat mulai bercucuran dari kening, napas mulai tersengal-sengal, dan rasanya jantung berdetak jauh lebih kencang. Untungnya angin lautan yang bertiup masih bisa membawa rasa segar, pepohonan yang menjulang di sekeliling pun masih bisa meneduhkan dari ganasnya matahari pagi menjelang siang. Satu per satu anak tangga yang totalnya konon lebih dari 300 anak tangga itu perlahan terlewati. Puncak sudah semakin dekat.

Tangga menuju puncak

Piaynemo, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di sana. Tempat yang selalu muncul di mesin pencari Google setiap kali kita mengetik nama Raja Ampat. Bisa dibilang Piaynemo memang sudah jadi salah satu ikon Raja Ampat. Kalau kalian melihat foto gugusan pulau karst di hamparan laut biru, bisa jadi itu adalah foto dari Piaynemo kalau bukan Wayag. Piaynemo dan Wayag adalah dua gugusan pulau karst yang sangat terkenal dari Raja Ampat.

Piaynemo lebih populer dan fotonya lebih mudah ditemukan karena memang jaraknya lebih dekat dari Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Sejam perjalanan dengan kapal boat, kita sudah bisa tiba di kawasan Geosite Piaynemo. Sedangkan Wayag butuh sekira tiga-empat jam dari Waisai ke arah utara.

Piaynemo yang semakin terkenal pun sudah dimaksimalkan oleh pemerintah daerah Raja Ampat bekerja sama dengan kampung. Kawasan ini diperbaiki, tangga ke puncak bukit tempat melihat pemandangan sekitar dipercantik, diberi tangga kayu yang nyaman, toilet umum dihadirkan, pokoknya sangat ramah untuk wisatawan.

Sedangkan Wayag belum. Konon, butuh kerja keras untuk sampai ke puncak bukit tempat melihat pemandangan. Kita harus memanjat karang dengan sudut 45 sampai 60 derajat. Tangan harus dilapisi kaus tangan agar tidak lecet karena karang. Benar-benar perjuangan berat yang kelak terbayar dengan pemandangan sekitar dari puncak bukit itu.

Disambut Keindahan

Memasuki kawasan Geosite Piaynemo,  pemandangan yang memanjakan mata akan segera menyambut kita. Laut biru yang bercampur dengan hijau tosca yang bening seolah karpet yang dibentangkan. Sungguh berat menahan hasrat untuk tidak melompat dari kapal. Bukit-bukit karst yang berbalut warna hijau dan abu-abu berada di sekeliling, seperti pilar dan tembok yang berdiri kokoh.

Memasuki kawasan Geosite Piaynemo

Di bagian depan sebelum tangga naik ke bukit, kita akan disambut dermaga dan beberapa pedagang lokal serta tempat retribusi. Semua kapal yang berlabuh wajib membayar Rp.300.000,- untuk speed boat dan Rp.600.000,- untuk kapal besar. Sebuah gerbang besar bertuliskan Piaynemo menyambut kita, berdiri tegak di atas jembatan kayu yang mengarah ke tangga.

Tangga itulah yang kemudian jadi awal sebuah perjalanan yang akan cukup menyiksa buat mereka yang tidak terbiasa berolahraga. Konon ada 300 lebih anak tangga yang harus dijejaki sampai ke puncak bukit. Anak tangga dari kayu itu disusun rapi dan cukup lebar sehingga cukup memberikan kenyamanan. Ada beberapa persinggahan serupa halte bis yang disiapkan, khusus buat mereka yang butuh beristirahat.

Gerbang menuju bukit

Ratusan anak tangga itu akan berakhir pada sebuah anjungan di puncak bukit. Di anjungan itu kita bisa dengan bebas melihat ke sekeliling. Hamparan laut dan gugusan karst yang memanjakan mata. Ada dua tingkat anjungan yang bisa dipakai untuk menikmati pemandangan sekaligus berfoto. Berfoto memang kemudian jadi tujuan utama kebanyakan wisatawan.

Kita mungkin sudah sering melihat beragam foto dari orang-orang yang berdiri di tepi anjungan, bersandar pada pagar kayu dengan senyum sumringah di bawah matahari yang terik dengan latar pemandangan memukau. Tapi yang tidak banyak kita tahu adalah, untuk menghasilkan foto seperti itu kita harus bersabar. Di waktu tertentu, anjungan itu sangat sesak oleh wisatawan meski petugas tetap membatasi maksimal 30 orang di atas anjungan itu.

“Permisi pak,”

“Maaf, bisa gantian?”

“Yuk, buruan yuk. Banyak yang antri,”

Antri yaaa

Kalimat-kalimat seperti itu jadi sangat lazim kita dengarkan. Semua yang datang ke sana sepertinya memang harus sabar dan tidak boleh terlalu bersantai. Kamu bukan satu-satunya yang mau berfoto di sana. Jadi jangan berpikir kamu akan punya waktu untuk mengatur kamera, lampu, dan asesoris lainnya. Tidak akan cukup waktu untuk itu karena di belakangmu banyak orang lain yang juga sudah menunggu giliran. Mungkin ini hanya bisa dilakukan kalau kita menyewa anjungan itu selama beberapa puluh menit. Atau, kamu adalah bagian dari rombongan pejabat.

Andalan Raja Ampat

Piaynemo memang sudah jadi salah satu andalan Raja Ampat, khususnya bagi mereka yang mengejar wisata yang umum. Artinya bukan wisata petualangan atau yang lebih menguras tenaga dan keberanian. Tantangannya hanya dua; harga yang mahal dan ratusan anak tangga. Tidak seperti Wayag misalnya yang katanya sampai pernah merenggut nyawa wisatawan yang kecapean.

Tapi bagi mereka yang ke Raja Ampat karena butuh petualangan lebih, Piaynemo mungkin akan terlihat biasa saja. Mungkin mereka lebih memilih menyelam di beberapa spot diving yang ada di Raja Ampat, atau bahkan sekadar snorkeling di Arborek misalnya.

Piaynemo memang hanya menawarkan pemandangan yang indah dari puncak bukitnya, tapi buat sebagian orang itu sudah cukup. Makanya tidak heran kalau Piaynemo selalu masuk dalam brosur perjalanan wisata yang ditawarkan di Raja Ampat. Bahkan ada yang bilang, tidak sah ke Raja Ampat kalau belum punya foto dari Piaynemo.

Pemandangan dari bukit Piaynemo

Tapi sepertinya kita semua sepakat kalau Raja Ampat bukan cuma Piaynemo. Kabupaten yang luasnya sama dengan Provinsi Jawa Timur itu punya banyak sekali keajaiban alam yang patut dinikmati. Alam bawah laut ataupun daratannya masih banyak yang perawan, belum dikunjungi manusia. Para peneliti kelautan mengakui kalau kepulauan Raja Ampat adalah laboratorium bawah laut yang sangat kaya. Daratannya pun begitu, masih banyak pulau tak berpenghuni yang memungkinkan kita bisa melihat binatang – khususnya burung – endemik Papua. Termasuk tentu saja cenderawasih yang semakin langka itu.

*****

Kawasan sekitar Piaynemo

Ini kali kedua saya ke Raja Ampat. Saat pertama kali ke sana di tahun 2018 saya memang tidak memasukkan Piaynemo sebagai salah satu tujuan. Selain karena mahal, sayapun menganggap harga yang saya keluarkan tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Bayar mahal untuk melihat pemandangan sepertinya tidak semenarik bayar mahal untuk berenang atau snorkeling di beberapa titik. Tapi saya beruntung bahwa akhirnya saya bisa kembali ke Raja Ampat dan mengunjungi Piaynemo, tanpa mengeluarkan uang sepersepun. Akhirnya bisa ke Piaynemo juga. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Karena pandemi, semuanya jadi sepi. Tapi untuk mengambil foto di sini lebih nyaman, tidak banyak bocor dan berebut waktu.

  2. saya pas ke Raja Ampat malah ke Wayag.. dan benar, untuk naik ke puncaknya saat itu butuh perjuangan meniti batu-batu karang tajam.. sampai di puncak, tidak ada platform untuk berfoto..

    sementara Piaynemo sangat bertolak belakang! ?

    buat saya, Raja Ampat adalah Mekahnya diving! keindahan Raja Ampat itu bukan di atas permukaan.. tapi di bawah permukaan laut.. ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.