Budaya

Gegar Budaya yang Saya Alami di Indonesia

Beberapa catatan kecil dari gegar budaya yang saya alami di beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Wikipedia, Kejutan budaya atau gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Sebenarnya bukan cuma negara asing, tapi juga tempat asing yang tidak pernah atau belum pernah dikunjungi sebelumnya.

Sejak beberapa tahun lalu, saya mulai sering mendatangi beberapa tempat di Indonesia dan artinya bersinggungan dengan budaya yang berbeda dengan budaya yang asal saya. Beberapa di antaranya cukup terasa, tapi sisanya biasa saja.

Beberapa gegar budaya yang saya rasakan adalah:

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

Nyablaknya Orang Betawi

Ketika pertama kali ke Jakarta di pertengahan 90-an, Indonesia sedang punya sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Kalian pasti tahu kalau sinetron ini mengambil latar kehidupan orang Betawi pinggiran Jakarta. Di situlah untuk pertama kalinya saya melihat gambaran kehidupan orang Betawi yang di sinetron beberapa di antaranya digambarkan sebagai orang yang nyablak.

Nyablak secara mudahnya diartikan sebagai ceplas-ceplos meski konon arti aslinya adalah besar mulut. Orang-orang banyak mengartikan nyablak itu sebagai perilaku ketika seseorang ceplas-ceplos dalam berbicara tanpa berpikir panjang dulu. Gambaran inilah yang salah satunya digambarkan di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Awalnya saya kira itu cuma penggambaran di sinetron saja. Cuma untuk mendramatisir atau bahkan melebih-lebihkan. Tapi ternyata tidak saudara-saudara. Ketika saya tiba di Jakarta kali pertama itu, saya bisa melihat bagaimana orang Jakarta (mungkin bukan Betawi, mungkin Betawi) yang bicaranya benar-benar nyablak. Ceplas-ceplos dan tidak dipikir dulu.

Ini lumayan membuat saya kaget, karena kadang mereka bisa dengan mudahnya nyablak kepada orang tuanya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam kehidupan di sekitar saya. Berani nyablak sama orang tua, bisa-bisa kami berakhir di hukuman seperti cubitan.

Halusnya Orang Jawa

Ini juga kejadian di ketika di Jakarta. Tapi kali ini ketika saya sempat tinggal cukup lama di Jakarta, tepatnya Jakarta coret. Saya bekerja di sebuah perusahaan dan tentunya berkontak dengan banyak sekali teman-teman dari berbagai daerah. Sebagian besar dari Jawa.

Bisa dibilang itulah kali pertama saya banyak berinteraksi dengan teman-teman bersuku Jawa. Dan interaksi itu ternyata cukup membuat saya merasakan gegar budaya.

Ada perbedaan besar antara kebiasaan kami orang Makassar dan orang Jawa (khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta) dalam berbicara. Kami, tentu saja menggunakan intonasi yang tinggi dalam berbicara. Itu belum termasuk kecepatan yang akhirnya membuat banyak teman-teman dari Jawa yang mengira kami sedang marah ketika berbicara.

“Jangan marah mas, kan saya cuma nanya,” kata seorang teman dari Solo ketika mendengar jawaban seorang teman dari Makassar. Jawaban yang sederhana dengan nada biasa – menurut kami – ternyata dianggap sebagai bentakan bernada marah dari teman itu.

Benar-benar gegar budaya buat saya.

Mari makan!

Serba Santan di Sumatera

Saya tahu kalau makanan dari Sumatera itu akrab dengan santan. Salah satu yang paling akrab tentu saja makanan padang. Tapi, saya tidak menyangka kalau makanan sehari-hari mereka memang akrab dengan santan. Saya pikir, makanan bersantan itu hanya di warung makan seperti makanan coto bagi orang Makassar. Bukan makanan sehari-hari.

Eh ternyata saya salah. Ketika punya kesempatan berlama-lama di Sumatera saya bisa menemukan kenyataan bahwa ternyata santan memang jadi makanan sehari-hari orang Sumatera. Khususnya orang Jambi dan Padang, daerah yang saya telusuri waktu itu.

Sebagai sarapan, pemilik rumah yang kami tempati sudah menyuguhkan makanan lengkap. Lengkap maksudnya dari sayur, ikan, sampai sambal. Jangan lupa sayurnya bersantan dan sambalnya lumayan pedas. Saya yang tidak biasa sarapan berat terpaksa harus menyantap makanan tersebut. Apalagi karena tuan rumah seperti memaksa kami – saya dan teman – untuk sarapan.

“Makanlah, tak elok kalau tak makan. Sudah disiapkan juga,” kata tuan rumah.

Terpaksalah makanan berat itu kami santap, meski rasanya terlalu berat buat saya. Benar-benar sebuah gegar budaya.

Makanan Manis di Jawa

Ini berhubungan dengan makanan juga. Ketika kerap bolak-balik ke Jawa, saya mulai merasakan gegar budaya berhubungan dengan makanan orang Jawa yang rasanya sangat manis di lidah Sulawesi saya. Sayurnya mirip kolak, kata saya. Saking manisnya.

Salah satu yang sampai sekarang masih belum bisa saya nikmati adalah gudeg. Salah satu alasannya karena pertama kali makan gudeg di Jogja saya langsung merasakan gudeg asli yang rasanya benar-benar manis. Susah rasanya untuk melewati tenggorokan saya saking enegnya.

Ketika di Jakarta pun, saya kesulitan menikmati beragam makanan di sekitar tempat tinggal yang sebagian besar adalah makanan dari Jawa. Walhasil, berat badan saya turun jauh sampai ke angka 40-an. Kurus sekali saya waktu itu.

Benar-benar gegar budaya yang cukup berpengaruh bagi saya.

Saat di Asmat

Banyak Gegar Budaya di Papua

Akhirnya jalan hidup membawa saya ke Papua dan kemudian tinggal di sana bertahun-tahun. Ternyata, namanya beda budaya tetap saja ada meski Papua dan Makassar bisa dibilang masih satu wilayah timur Indonesia. Masih ada kemiripanlah, minimal makanannya tidak semanis makanan di Jawa.

Tapi tetap saja, namanya beda budaya maka gegar budaya pasti terasa.

Paling pertama adalah ketika bersinggungan dengan orang Papua pesisir, khususnya di Asmat. Mereka dengan tampilan yang menurut saya intimidatif, badan tinggi kekar, kulit gelap, tatapan tajam, dan brewok di wajah ternyata sangat ramah. Saat berpapasan di jalan, selalu saja ada senyum yang mengembang dan sapaan lembut. Apalagi ketika berpapasan dengan anak-anak. Mereka bisa dengan sangat riang menyapa kita.

Ini adalah gegar budaya buat saya. Kami orang Makassar ini tidak terbiasa berbasa-basi dengan orang tidak dikenal. Paling kami hanya tersenyum dan mengangguk ramah, tidak sampai mengeluarkan sapaan.

Gegar budaya lain yang awalnya juga kerap saya temukan adalah ketika melihat banyak sekali orang Papua yang terbiasa menyirih. Mengunyah pinang dan sirih. Ketika keluar dari bandara Sentani pertama kalinya, saya menemukan bekas ludah pinang berceceran di jalan, meninggalkan bekas kemerahan. Saya langsung berpikir, ini mungkin bekas darah sisa perkelahian atau pembunuhan. Ternyata bukan.

Ada banyak sebenarnya gegar budaya yang saya temukan di Papua, meski skalanya kecil dan kadang malah membuat geli. Tapi setidaknya itu dulu yang saya ingat. Mungkin akan saya ceritakan di lain waktu.

*****

Budaya yang berbeda memang kerap menimbulkan gegar budaya. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, di negeri kita sendiri yang begitu luas dan beragam ini gegar budaya pasti akan kita temui. Tapi buat saya, justru inilah yang membuat kita harus bersyukur. Bersyukur bahwa negeri kita teramat kaya oleh perbedaan dan keragaman. Janganlah berusaha membuatnya seragam, apalagi dengan memaksakan satu standar yang sama. Pasti akan membosankan. Betul, kan? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Sederhananya, bahkan ketika kita lepas dari rumah saja kadang ada kejutan yang seperti itu. Apalagi kalau sampai beda pulau, beda adat, dan yang lainnya ahhahhahha

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.