Budaya

Kenali Orang Sulsel dari Gaya Bahasanya Ini.

Balla Lompoa dan Istana Tamalate

Beberapa orang bisa dikenali asalnya dari gaya bahasanya, termasuk orang Sulsel. Berikut adalah ciri khas berbahasa orang Sulsel yang sangat mudah dikenali.


Tiap daerah pasti punya gaya bahasanya sendiri-sendiri. Sesuatu yang bisa sangat khas dan langsung menunjukkan identitas daerah pemakainya. Orang Jawa misalnya, bisa langsung kita kenali dari gaya bahasanya yang medhok. “Lah gimana, wong embernya aja mbocor,” kalau dengar orang berbicara seperti itu pastilah bisa langsung kita tuduh dia orang Jawa. Atau ketika ada yang bicara seperti ini, “Saya mah apa atuh, cuma orang biasa saya mah,” maka penuturnya bisa kita tuduh sebagai orang Sunda, apalagi kalau lengkap dengan dialeknya yang mendayu-dayu.

Orang Sulsel juga begitu. Selain dialek yang khas, sebenarnya ada beberapa gaya bahasa orang Sulsel yang bisa langsung dikenali meski itu hanya lewat bahasa tulisan. Biasanya, ini muncul secara tidak sengaja, tentu karena gaya bahasa ini sudah mendarah daging dan ada dalam DNA kami.

Sebagai orang Sulsel sejak lahir, saya punya sensitivitas terhadap gaya bahasa ini. Saya kadang bisa dengan tepat menebak seseorang berasal dari Sulsel hanya dengan melihat gaya bahasa tulisannya. Saya coba bagikan ya beberapa gaya bahasa yang khas itu.

#1. Penuh Kasih.

Ini bukan dalam arti harfiah ya. Kasih yang saya maksud bukan perasaan sayang atau cinta, tapi kata kerja memberi. Orang Sulsel itu bisa ditandai dari gaya bahasa mereka yang penuh dengan “kasih”.

Kasih makan kucing, kasih berdiri meja, kasih tidur anak, kasih mati lampu, kasih belajar teman.

Itu hanya beberapa contoh betapa orang Sulsel itu dalam berbicara sering penuh dengan “kasih”. Kadangkala ini tidak disadari oleh penuturnya, bahkan ketika mereka mencoba menulis atau berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Namanya saja sudah ada dalam darah kan ya? Kadang muncul tanpa disengaja.

#2. Suka Membunuh.

Ini juga bukan dalam arti harfiah ya, kiasan saja. Tapi memang, orang Sulsel itu suka “membunuh”. Contohnya dalam kalimat ini:

Tolong bunuh dulu itu lampu, terang sekali.

Gara-gara kalimat seperti itu, seorang teman di Jakarta pernah bilang, “Gila ya kalian orang Makassar. Lampu aja dibunuh.” Hahaha, padahal ya bukan begitu maksudnya. Orang Sulsel hanya menggantikan kata “matikan” dengan kata yang lebih to the point, “bunuh”. Toh hasil akhirnya sama saja. Sama-sama mati.

#3. Mi di Mana-Mana.

Ini juga sangat spesifik dan benar-benar khas Sulsel. Sebuah partikel yang menegaskan sebuah kegiatan boleh atau telah dilakukan. Misalnya:

Ambil mi, beli mi, bawa mi, kasih mi.

Kalau Anda mendengar orang berbicara dengan menggunakan “mi” seperti di atas, maka yakinlah dia pasti orang Sulsel atau pernah tinggal lama di Sulsel. Bukan apa-apa, penempatan “mi” dengan tepat itu agak susah dilakukan oleh orang yang tidak pernah tinggal lama di Sulsel atau bukan orang Sulsel. Mungkin itu salah satu alasan kenapa jarang ada karakter di sinetron atau film nasional dari Sulsel. Karena memerankan orang Sulsel bukan cuma meniru logatnya saja, tapi juga harus tepat menggunakan beberapa partikel khasnya.

Tulisan tentang partikel khas ini pernah saya tulis di sini.

#4. Menambah Atau Mengurangi Huruf.

Orang Sulsel menyebutnya “okko” sebuah istilah dalam permainan engklek (di Sulsel disebut dende) ketika kaki sang pemain menyentuh garis. Okko dalam bahasa adalah ketika penuturnya menghilangkan satu huruf di belakang kata, atau malah menambah huruf yang tidak seharusnya. Misalnya:

Saya mau makanG dulu, atau Saya lihat dia di belakan.

Dua contoh di atas adalah kasus yang paling sering ditemui. Sebenarnya ada beberapa jenis okko beserta tingkatannya, tapi nanti akan saya bahas tersendiri. Okko ini lebih sering dijumpai di bahasa lisan namun tidak jarang juga dijumpai di bahasa tulisan.

#5. Menggantikan Huruf “K” dan ‘T” dengan Tanda Petik.

Coba dengar kalimat yang dulu paling sering diucapkan oleh mantan Wapres Jusuf Kalla berikut ini:

Kita lebih senang karena lebih cepa’ lebih bae’

Itu Sulsel banget. Orang Sulsel dalam bahasa percakapan kerap mengganti huruf “K” dan ‘T” yang ada di akhir kata dan menggantinya dengan aposhrote atau tanda petik. Cepat jadi cepa’, baik jadi bae’, tidak jadi nda’, dan banyak lagi.

Sepertinya ini pengaruh besar sekali dari berbagai bahasa daerah di Sulsel yang memang aslinya tidak mengenal huruf K dan T di akhir kalimat, serta beberapa kata yang aslinya memang menggunakan penekanan di akhir kata.

Tapi ciri ini khusus dalam bahasa lisan saja, dan tidak dalam bahasa tulisan kecuali dalam keadaan non formal.

*****

Kira-kira itulah lima ciri khas orang Sulsel dalam berbahasa Indonesia. Ciri yang sangat bisa membuat mereka langsung ditebak berasal dari Sulsel. Kalau suatu saat nanti kalian yang bukan orang Sulsel bertemu, mendengar, atau melihat gaya bahasa seperti di atas maka yakinlah kalau dia hmmm mungkin 98% orang Sulsel, atau pernah tinggal di Sulsel dalam waktu yang lama sehingga tanpa sadar sudah terkontaminasi oleh ciri berbahasa orang Sulsel.

Bemana? Nda susah toh dikenali? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (6)

  1. Begitu mendarah dagingnya gaya bahasa Sulsel saya sehingga sering dalam menulispun saya menggunakan kata tidak dengan NDA.
    Biarmi deh…ka memang orang Sulselka ha-ha-ha

  2. Karena halus ki itu orang Makassar, jadi huruf T dan K nya bisa dak jelas kedengaran. Hahaha..

  3. Jadi ingat sodara dari Sulawesi pas di rumah. Logatnya kental dan memang begitulah kalau berbicara, kadang kami tertawa, tapi menyenangkan hehehhehe

  4. Dulu ketika punya acara di Makassar saya dua kali bertemu kata “bunuh”. Pertama mendengar kaget. Kedua kali sudah paham.

    “Bapak, kita bunuh semua komputer ini?” tanya seseorang. Itu yang pertama, di Mal Panakukkang.

    “Kalau malam mereka bunuh lampu-lampu itu,” kata orang lain di Losari.

    Lha wong Jawa saja pakai kata “matèni” (dibuat jadi mati) dan “dipatèni” (dibikin jadi mati) kok untuk alat bahkan mobil. Kenapa ndak ada yang takut?

  5. wahaha.. menarik ini.. sa cuma tau itu orang suka’ kasih artikel “mi”.. ?

    gimana? sudah cukup sulsel belum?

  6. Penggunaan mi, ki, ji, itu kayaknya cuma bakal saya mengerti kalau tinggal lama di Sulawesi Selatan. 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.