FilmReview

X Men; Dark Phoenix, Perpisahan Miskin Emosi

Poster X-Men Dark Phoenix

Sebuah film terakhir dari generasi pertama X-Men. Harusnya menjadi film yang dikenang, tapi kenyataannya tidak begitu. Setidaknya buat saya.


Sejak hadir di tahun 2000, X-Men tiba-tiba jadi salah satu film yang paling saya senangi. Menyenangkan melihat bagaimana perjalanan para manusia mutan ini berhadapan satu sama lain dan berjuang melawan stigma buruk yang dilekatkan manusia di sekitar mereka. Selama 19 tahun, kehadiran mereka sering saya nantikan dan bahkan berusaha saya tonton setiap serinya. Termasuk dua film sematan yang tetap berhubungan dengan X-Men: Deadpool.

Tahun ini, X-Men kembali hadir. X-Men; Dark Phoenix disebut sebagai film penutup dari X-Men generasi pertama di bawah 20th Century Fox. Selanjutnya X-Men akan diambil alih oleh Disney dan Marvel Cinematic Universe. Entah akan bagaimana nantinya, kita belum tahu.

Tapi sekarang mari kita membincangkan film terakhir dari rangkaian X-Men generasi pertama ini.

Menjanjikan di Awal.

Saya memulai detik pertama menonton X-Men: Dark Phoenix dengan ekspektasi rendah. Maksud saya, apa yang bisa diharapkan dari film yang hanya mendapatkan nilai 23% di Rotten Tomatoes dan 6,1/10 di IMdB? Tentu akan jauh bila dibandingkan dengan Logan (2017) yang menerima ganjaran nilai 93% di Rotten Tomatoes dan 8,1/10 di IMdB.

Film dimulai dengan kisah Jean Grey kecil. Sepanjang film, Jean Grey memang akan menjadi fokus utama bersama tokoh-tokoh utama X-Men yang sudah kita kenal sebelumnya. Sebuah kejadian yang berhubungan dengan kemampuan mutasi Jean membuatnya terjebak pada kejadian traumatis yang merenggut nyawa orang tuanya. Jean pun kemudian berakhir di Xavier School milik Charles Xavier (diperankan James McAvoy).

Lalu cerita berpindah ke tahun 1992, ketika Jean Grey (kali ini diperankan Sophie Turner) sudah lebih besar dan sudah menjadi bagian dari X-Men. Suasana ketika itu sangat kondusif buat para manusia mutan. Manusia menghargai keberadaan mereka, bahkan pemerintah secara resmi meminta bantuan mereka menyelesaikan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia biasa. Harmonis dan saling menghargai.

Namun, permintaan bantuan itu yang justru mengubah Jean. Dalam sebuah misi di luar angkasa, Jean terpapar suar matahari yang tanpa diketahuinya justru mengubah jalan hidupnya. Seperempat awal film jadi sangat menjanjikan.

Kita akan bisa menebak, suar matahari yang terpapar di tubuh Jean Grey pasti akan memberikan sesuatu. Mungkin saja bukan sesuatu yang baik. Dan benar saja, karena akhirnya Jean Grey memang berubah perlahan. Dari seorang mutan dengan hati yang lembut, menjadi mutan pemarah dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Sangat luar biasa sampai dia sendiri sulit mengontrolnya.


Jean Grey (Sophie Turner) yang menjadi semakin kuat dan tidak terkendali

Kekuatan baru Jean Grey membuatnya bisa membunuh siapa saja yang tidak disukainya, bahkan sahabatnya sendiri.

Kekuatan itu juga yang membuatnya harus berhadapan dengan sesama mutan, bahkan mutan yang selama ini dianggapnya keluarga sendiri. Dari seorang mutan berhati lembut, Jean Grey jadi mutan pembunuh yang diburu sahabat sendiri.

Di sisi lain, kejadian di luar angkasa yang menimpa Jean Grey membuat Raven/Mystic (diperankan Jennifer Lawrence) mempertanyakan maksud dari semua yang dilakukan oleh Charles Xavier. Benarkah dia memberi bantuan kepada manusia biasa untuk kepentingan para mutan, atau hanya untuk memuaskan ego pribadinya? Benarkah Charles memang peduli pada semua mutan, atau hanya ingin menyelamatkan dirinya tanpa peduli pada nasib para mutan?

Lalu ada juga Erik Lensherr/Magneto (Michael Fassbender) yang awalnya sudah tidak peduli sama sekali pada apapun yang dilakukan Charles Xavier dan semua anggotanya. Namun, Erik akhirnya harus peduli karena salah satu orang kesayangannya mati di tangan Jean Grey. Mau tidak mau, Erik terlibat juga pada saga antar mutan ini.

Sampai di sini, gambaran konflik ini terasa menjanjikan. Tapi ekspektasi tidak selamanya menjadi kenyataan.

Miskin Emosi.

Setelah menyelesaikan X-Men: Dark Phoenix, saya bisa mengerti kenapa Rotten Tomatoes dan IMdB memberinya skor rendah. Ada banyak hal yang patut dikritik dari film ini. Tapi yang paling utama adalah bagaimana cerita seperti tidak tuntas mengolah emosi para pemeran utama. Potensi konflik internal antar mutan sangat besar untuk digarap lebih serius. Emosi para tokoh utama menarik untuk ditampilkan sebagai cerita utama, tentu dengan Jean Grey sebagai pusatnya.

Tapi itu sepertinya tidak terjadi. Konflik batin dan emosi para pemeran hanya tampil sepotong-sepotong. Tidak benar-benar membekas.

Lalu hadir pula mahluk luar angkasa yang datang ke bumi karena planet mereka sudah hancur, sehingga mereka berniat mencari kehidupan baru di bumi dengan cara memusnahkan kehidupan yang sudah ada. Mereka mengincar kekuatan yang terserap ke dalam tubuh Jean. Kehadiran mereka membuat saya sempat bertanya-tanya; ini X-Men atau Guardian of The Galaxy?

Kehadiran mahluk asing ini membuat cerita X-Men; Dark Phoenix seperti mengkopi cerita di X-Men; Apocalypse. Para mutan akan terpecah, berkelahi sesama mereka sebelum akhirnya bersatu karena menemukan musuh yang sama.

Pertanyaan; apa tidak ada cerita baru yang bisa dibangun?

Di X-Men; Dark Phoenix, saya bisa merasakan karakter dan kharisma seorang Erik Lensherr/Magneto begitu besar. Bahkan mengalahkan Charles Xavier. Michael Fassbender mampu memerankan Erik dengan sangat baik, membawa karakternya menjadi manusia mutan yang berkharisma dan membuat kita melupakan fakta kalau di X-Men lain dia kerap menjadi antagonis.


Erik/Magneto yang berkharisma

Sophie Turner sendiri menurut saya cukup bagus memerankan Jean Grey meski penampilannya menjadi cacat karena naskah yang kurang kuat. Dia bisa memerankan Jean Grey yang galau karena kekuatan besarnya yang datang saat usianya masih muda, masih labil di sisi emosi.

Bagian paling mengganggu dari X-Men; Dark Phoenix ini adalah soal matinya beberapa karakter yang terasa aneh bila kita sudah menyaksikan film X-Men yang lain. Alurnya jadi tidak sinkron. Mati di film ini (yang berlatar 1992) tapi kenapa masih hidup di film lain yang latar waktunya lebih baru?

*****

Secara keseluruhan, X-Men; Dark Phoenix mengecewakan buat saya. Tidak banyak cerita menarik selepas menontonnya. Film ini akan saya kenang dalam waktu lama sebagai salah satu film yang mengecewakan. Tidak buruk, tapi cukup mengecewakan.

Satu-satunya hal yang bisa saya kenang dengan kenangan baik dari film ini adalah karena saya bisa menuntaskan kerinduan pada dek Sansa. Itu saja.

Apakah film ini layak ditonton? Yah tentu saja layak kalau kamu memang menyukai film bergenre aksi super hero. Soal apakah kamu akan menyukainya atau tidak, itu soal berbeda karena sebaiknya kamu menontonnya dulu sebelum tahu apakah memang film ini bagus atau tidak. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Review Overview

2.7
Review Summary Title Tidak terlalu buruk sebenarnya, tapi lumayang mengecewakan karena jalan cerita yang tidak terlalu kuat.

Comments (2)

  1. akhirnya nemu ulasan yang lengkapnya, terima kasih mas..

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.