Musik

Berselancar Bersama The Panturas


Cerita tentang sebuah band yang belakangan ini sedang sering saya dengarkan. Sebuah band yang memainkan genre surf rock.


Beberapa hari belakangan ini, ada sebuah band yang karyanya kerap saya dengarkan. Penampilan-penampilan mereka pun kerap saya tonton lewat YouTube. Nama bandnya The Panturas. Sebuah kuartet asal Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Namanya cukup unik, awalnya saya mengira mereka ini adalah kelompok musik dangdut yang membawakan musik-musik dangdut seperti yang biasa diputar di kafe-kafe sederhana sepanjang jalur pantura. Ternyata bukan.

The Panturas yang terdiri dari Acin (gitar/vokal), Kuya (drum), Gogon (bas), dan Rizal (gitar) membawakan musik dengan genre surf rock atau rock selancar. Kalau kalian belum tahu, surf rock itu adalah sebuah sub genre dari musik rock yang mulai populer taun 1960an dari California, Amerika Serikat. Akar munculnya sub genre ini adalah dari kebiasaan para peselancar di California yang merasa membutuhkan sebuah musik untuk mengiringi kegiatan mereka membelah ombak. Salah satu pelopornya yang paling terkenal adalah almarhum Dick Dale. Dick memainkan sebuah musik yang kental dengan permainan reverb gitar hingga suaranya terkesan becek. Genre ini juga berusaha menggaungkan suara deburan ombak dari suara instrumen mereka. Dick bahkan memasukkan unsur musik timur tengah dan Mexico ke dalam musiknya, ditambah dengan aroma-aroma tropis. Benar-benar pas sebagai musik pengantar berselancar.

Awalnya, genre ini dimainkan tanpa vokal. Benar-benar hanya instrumen saja, sampai akhirnya muncul sebuah band bernama Beach Boys yang memainkan genre ini dengan ditambahkan vokal. Orang-orang menyebutnya surf vocal.

Di Indonesia, genre musik ini tidak pernah benar-benar populer. Di periode 60an ada nama Eka Sapta yang membawakan genre musik ini di Indonesia. Kalau penasaran, kalian bisa mendengarkan musik mereka di website Irama Nusantara. Genre ini tidak pernah benar-benar populer di Indonesia hingga perlahan-lahan menghilang. Di dunia pun, genre ini perlahan menghilang dan melebur menjadi genre lain yang lebih terkenal yaitu punk.

Musik Selancar Dari Pegunungan

Kembali ke The Panturas. Keempat anak muda ini agak unik, mereka memainkan musik surf rock yang biasanya lekat dengan pantai padahal mereka aslinya berasal dari daerah dataran tinggi. Alasannya sebenarnya sederhana, ingin mencari sesuatu yang berbeda.

“Waktu itu di kampus pada mainin musik folk. Kami pengen sesuatu yang berbeda,” kata Acin sang vokalis di sebuah wawancara.

Semua berawal dari band yang dibentuk oleh Kuya, Rizal, dan Cecep (personil sebelum Gogon). Memainkan musik pop dan punk, mereka ternyata gagal untuk berkembang. Hingga akhirnya mereka mulai mencari genre lain yang berbeda dan akhirnya menemukan genre surf rock. Awalnya mereka hanya ingin benar-benar memainkan musik surf rock murni yang tanpa vokal. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkan vokal seperti yang dilakukan oleh Beach Boys. Acin yang bernama asli Abyan Nabilio dipilih sebagai vokalis karena suaranya yang unik. Para personel lainnya mendengarkan suara Acin yang memainkan lagu Oasis dan diunggahnya di Soundcloud.

Saya setuju dengan pilihan mereka. Suara Acin memang unik, terdengar seperti suara yang datang dari zaman tahun 60an atau 70an. Benar-benar pas dengan musik yang dibawakan oleh The Panturas.

Kehadiran Acin menyempurnakan personel The Panturas, apalagi saat itu ditambah dengan kehadiran Azis sebagai pemain kibor. Namun, belakangan Azis dan Cecep terpaksa mengundurkan diri karena kesibukan di luar band. Posisi Cecep kemudian digantikan oleh Gogon. Personel inilah yang bertahan sampai sekarang. Nama The Panturas sendiri menurut mereka adalah plesetan dari The Ventures, salah satu nama band surf rock dari Amerika Serikat.

Pilihan memainkan surf rock rupanya membawa berkah buat mereka. Setelah diunggah ke Soundcloud, single Fisherman’s Slut yang bercerita tentang perdagangan manusia di tengah lautan itu rupanya menarik banyak perhatian. Perlahan-lahan, nama The Panturas semakin dikenal orang. Tawaran manggung mulai ramai, dari panggung kecil dari kampus atau sekolah hingga ke panggung-panggung besar.

Tahun 2018, mereka merilis album perdana yang diberi nama Mabuk Laut.

Apresiasi Kinerja Ibu Susi

Karena mengusung tema surf rock, beberapa lagu mereka juga tidak jauh-jauh dari tema laut. Sebut saja lagu Fisherman’s Slut, lalu Queen of The South yang bercerita tentang Ratu Nyi Roro Kidul. Kemudian ada satu lagu yang berjudul Tenggelamkan! yang oleh mereka disebut sebagai apreasiasi untuk kinerja mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Lagu instrumental ini pun sudah balas diapresiasi oleh ibu Susi.


Fan art lagu Queen of The South

“Sebenarnya nggak sengaja sih. Nggak tahu aja kenapa banyak lagu kami yang temanya tentang laut,” kata Acin sang vokalis. Beberapa lagu mereka memang tidak berhubungan dengan laut, seperti misalnya lagu Sunshine dan Gurita Kota. Dengan irama yang masih kental surf rock, kedua lagu itu tidak ada hubungan langsungnya dengan laut.

Lagu Sunshine sendiri adalah lagu yang paling saya senangi. Iramanya memang kental dengan irama surf rock yang lekat dengan tahun 1960an. Apalagi karena liriknya yang cukup dalam dan ditambah dengan video klipnya yang menyentuh.

*****

Mendengarkan lagu-lagu dari The Panturas memang menyenangkan buat saya. Irama surf rock yang mereka mainkan memang bukan murni surf rock, mereka menyebutnya surf rock kontemporer. Tapi tidak masalah, karena irama mereka benar-benar menyenangkan. Setidaknya bagi saya. Ada semacam kenangan akan musik-musik lawas tahun 1960an yang kental dari musik yang dimainkan oleh The Panturas. Mungkin kalau kalian menyukai musik-musik lawas, musik dari The Panturas bisa jadi pilihan yang menyenangkan. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. Hebat eng masih mengikuti grup-grup musik baru.
    Aku sebagai anak lawas yang malas keknya kalo buat musik seleraku sudah berhenti di tahun 2000-an awal HAHAHAHAHAHA

  2. Salut dengan band-band yang seperti ini. Mereka tahu segmennya begitu spesifik dan mungkin belum banyak yang menyukai selera musik, tapi orang-orang ini melawan arus. Hehehhehe. Semoga tetap berkibar dengan baik.

  3. baru tau ada genre surf rock.. bayanganku kalo anak-anak surfing biasanya ya lagu-lagu rock tapi ngga nyangka ada genre ini.. ?

    aku malah kebayang lagunya Superman Is Dead kalo soal surf rock.. ternyata bukan..

    dan lagunya asyik juga iniii

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.