Bencana alam kerap datang melanda negeri kita, tapi sayangnya kita tidak sepenuhnya siap. Mitigasi bencana bagi orang Indonesia kerap masih terasa aneh. Kurang akrab.


Saya pertama kali merasakan langsung gempa bumi itu di tahun 2000. Saat itu saya sedang ada di Cileungsi, berkantor di sebuah perusahaan konstruksi yang berlantai tiga. Saya sedang ada di lantai tiga ketika tiba-tiba lantai rasanya bergoyang cukup keras. Hanya beberapa detik, mungkin tidak sampai semenit tapi goyangannya terasa cukup memusingkan. Saya dan beberapa orang teman terpaku di tempat, bingung harus bereaksi apa. Saya tahu ini adalah gempa, tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di luar ruangan kami beberapa orang mulai berlarian ke lantai bawah sementara kami yang ada di dalam ruangan itu lebih memilih untuk diam dalam kebingungan.

Persentuhan dengan gempa bumi semakin kerap saya rasakan ketika bekerja di Papua. Papua termasuk daerah yang paling sering merasakan gempa bumi. Saya lupa berapa kali saya merasakan gempa dalam kurun waktu hampir tiga tahun bekerja dan tinggal di Papua, tepatnya di Jayapura.

Tapi satu hal yang saya ingat adalah ketika suatu hari di kantor kami yang berlantai dua, tiba-tiba terasa ada getaran keras. Lantai bergoyang, air di dalam gelas yang ditaruh di atas meja juga bergoyang.

“Gempa ya?” Spontan saya bertanya ke teman yang ada di ruangan yang sama. Kami sama-sama terkesiap, bertukar pandangan lalu dengan cepat bergerak ke luar ruangan.

Di ruang tengah beberapa orang sudah berkumpul. Semua sama-sama merasakan getaran gempa dan sama-sama merasa bingung harus berbuat apa. Beruntung karena gempa itu hanya terjadi beberapa detik dan tidak ada kerusakan serius. Kami bisa bernapas lega, tertawa-tawa dan kembali ke ruangan masing-masing melanjutkan pekerjaan.

Di waktu yang lain, gempa yang datang terasa lebih keras. Kami bahkan memutuskan untuk berlari ke lantai satu dan keluar dari ruangan. Lalu bengong, bingung mau berbuat apa.

Tidak Tahu Harus Berbuat Apa

Apa yang terjadi di atas sepertinya juga terjadi pada banyak manusia di Indonesia. Bingung harus merespon apa ketika bencana datang, utamanya gempa bumi. Sebagian besar dari kita cuma mengandalkan insting tanpa bekal pengetahuan mitigasi bencana yang cukup. Beberapa bahkan mengambil keputusan yang salah dan justru berakibat fatal bagi dirinya.

Saya ingat cerita ketika tsunami mengguncang Aceh tahun 2014 yang lalu. Ketika gempa awal datang dan air laut surut, konon warga malah mendekat ke laut karena melihat kejadian itu sebagai kejadian yang unik dan tidak biasa. Tapi ternyata itu adalah pertanda akan datangnya tsunami. Warga yang lain juga luput membaca tanda-tanda alam dan tidak buru-buru mencari tempat yang aman di ketinggian. Akibatnya, ketika tsunami datang korban yang jatuh sangat banyak.

Musibah besar yang menimpa Aceh tersebut memang sedikit banyaknya membuka mata orang akan bencana yang bisa saja datang di waktu yang lain. Selepas kejadian itu semakin banyak orang Indonesia yang lebih waspada akan tsunami, utamanya yang tinggal di daerah tepi pantai.

Bencana alam memang tidak bisa selalu diduga kapan akan datang, bahkan lebih seringnya tidak terduga. Dan ketika bencana itu datang, kita tidak sepenuhnya siap. Bahkan sebelum bencana datang pun kita tidak benar-benar siap. Seingat saya ketika di masa sekolah, hampir tidak ada pelajaran tentang mitigasi bencana. Bagaimana mempersiapkan diri ketika bencana datang atau apa yang harus dilakukan ketika bencana datang.

Padahal, Indonesia termasuk daerah yang sangat rawan bencana. Baik itu gempa bumi, gunung meletus, hingga bencana yang semakin sering datang yaitu banjir.

Perlunya Mitigasi

Semakin seringnya bencana mendekati kita, maka seharusnya kita juga semakin siap. Mitigasi bukan jaminan kita akan selamat dari bencana, tapi setidaknya itu adalah ikhtiar kita sebagai manusia. Sudah seharusnya kita mempersiapkan diri lebih baik lagi, utamanya bagi yang tinggal di daerah yang rawan bencana.

Beberapa negara yang memang termasuk negara rawan bencana alam seperti Jepang terbukti sangat serius pada mitigasi bencana. Anak-anak sekolah di Jepang sudah dibiasakan untuk mengenali bencana alam, utamanya gempa bumi. Pun mereka sudah diajarkan langkah-langkah efektif ketika bencana datang. Mereka bisa dengan tenang menyelamatkan diri ketika gempa bumi. Semua karena mitigasi bencana diajarkan sejak dini.

Ini yang belum benar-benar kita miliki.

Di Twitter, seorang kawan memperkenalkan saya pada sebuah akun bernama @Jogja_Uncover. Sebuah akun yang menyebarkan informasi tentang mitigasi bencana. Salah satu cuitannya sangat menarik dan menurut saya penting untuk disebarkan.

Cuitan berseri ini berisi informasi dasar tentang mitigasi bencana. Tentang apa yang harus disiapkan, bagaimana mengurasi risiko di dalam rumah, bagaimana bersikap ketika bencana (khususnya gempa bumi) datang, dan beragam informasi lain yang bisa menambah wawasan kita tentang mitigasi bencana.

Mereka juga membuat semacam buku panduan mitigasi bencana yang bisa dipelajari dan dijadikan pegangan. Sebuah inisiatif menarik untuk membantu mempersiapkan kita menghadapi bencana alam yang mungkin saja terjadi.

Buku panduan mitigasi bencana itu dapat diunduh di sini.

*****

Awal tahun 2021 ini, bencana kembali melanda Indonesia. Dari kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, tanah longsor di Sumedang, banjir di Kalimantan Selatan, dan yang terbaru adalah gempa bumi di Sulawesi Barat. Sungguh bukan berita yang ideal mengawali tahun baru. Tapi apa boleh buat, kita hanya bisa saling menguatkan dan mendoakan. Semoga bencana ini tidak berlanjut, dan semoga kita semua bisa melewatinya.

Doa dan simpati untuk semua yang menjadi korban. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. saya merasakan gempa pertama saat gempa Jogja, 2006.. terus sempat mengalami gempa yang cukup kencang di Jawa Barat yang terasa sampai Jakarta, lupa tahun berapa mungkin sekitar 2016-2017..

    saya mulai memcari informasi bencana ya sejak gempa besar di Jogja tersebut. dan untuk urusan mitigasi, sepertinya memang warga Jogja lebih siap, karena sudah sering menghadapi bencana, terutama dari Gunung Merapi..

    saya sepakat dengan pelajaran mitigasi. di Jerman, sempat ada semacam simulasi untuk ngetes sistem sirene bencana, yang ternyata ngga berjalan seperti harapan. Jerman sendiri sepertinya hampir ngga potensi bencana alam, namun mereka punya infrastruktur dan pasukan taktis untuk mitigasi. masalahnya, aku merasa justru agak ngeri kalo misal terjadi bencana tapi tidak tau apa yang akan dilakukan. semoga saja tidak ada bencana..

    btw, bencana kecil seperti kebakaran memang sering terjadi. untungnya pemadam kebakaran di sini sangat siap dan datang dalam waktu kurang dari 5 menit.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.