Musik

Dicaci, Disukai, Kini Dibela

Sebuah perjalanan hidup yang naik-turun dari seorang Andhika Mahesa dan Kangen Band. Dari dicintai, dicerca, dicintai lagi, hingga dibela.

Dimulai sekitar tahun 2007, ada fenomena menarik di belantika musik Indonesia yaitu kehadiran musisi atau band-band yang membawakan genre musik pop melayu. Ciri khas musisi atau band ini adalah lantunan lagu yang agak mendayu-dayu dengan diiringi cengkok khas musik-musik melayu. Sangat khas. Sebut saja lagu-lagu dari Kangen Band, Wali, ST12, Bagindaz, Hijau Daun, dan banyak lagi. Ada benang merah yang sama dari musik-musik mereka.

Semua dimulai oleh Kangen Band, sebuah band dari kota Bandar Lampung. Band yang memulai semuanya dari sekadar hobi, anak-anak muda yang senang bermusik lalu meluangkan waktu untuk latihan bareng sampai akhirnya membuat lagu dengan modal rekaman sederhana. Lagu yang sudah mereka rekam itu entah kenapa bisa bocor ke publik dengan mudah. Direkam ulang, diperbanyak, dan diputar di mana-mana. Publik ternyata menyukainya meski mereka tidak tahu bagaimana bentuk sebenarnya dari sang pemilik lagu itu.

Warner Music Indonesia lewat pencari bakatnya mencium bau-bau kesuksesan dari sekelompok anak muda ini. Mereka bergerak cepat dan langsung menjemput Andhika, Dodi, dkk. Hasilnya sudah kita tahu bersama, dengan cepat Kangen Band jadi salah satu band yang paling laris kala itu. Mereka juga sekaligus jadi lokomotif dari gerbong musisi pop melayu berikutnya.

Dicerca

Popularitas Kangen Band tidak datang dengan cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar, salah satunya adalah cercaan. Mereka yang come from nowhere tiba-tiba bisa jadi something big itu cukup mengejutkan. Apalagi ditambah dengan dandanan yang (menurut banyak orang) sangat kampungan dan kualitas musik yang sebenanya sederhana saja. Semua itu semacam anti teori seseorang atau sekelompok orang bisa meraih popularitas di dunia hiburan. Jadi tidak heran kalau banyak orang yang mencerca kehadiran Kangen Band ini.

Cap mulai dari band kampungan sampai band norak distempelkan di jidat mereka. Beberapa musisi Indonesia juga terang-terangan menunjukkan cibiran mereka pada Kangen Band. Salah satunya adalah Naif yang terang-terangan mencibir Kangen Band dengan nada bercanda di sebuah penampilan panggungnya. Lalu ada sekelompok rapper yang dengan sengaja membuat lagu yang menghina Kangen Band. Isi lagunya benar-benar penuh dengan caci maki yang kalau dibawakan hari ini mungkin akan membuat mereka jadi target risak warganet Indonesia.

Pokoknya Kangen Band jadi ikon musisi kampungan yang beruntung. Tampang kampungan, dandanan norak, lagu biasa saja, tapi bisa terkenal dan laris di pasar musik. Pantas saja banyak yang jadi gerah.

Di level masyarakat kelas bawah, keberadaan Kangen Band justru semacam ikon penyelamat, ikon harapan. Mereka berpikir bahwa ternyata dengan menjadi kampungan pun mereka tetap bisa jadi terkenal. Mereka merasa Kangen Band seakan-akan anak kampung sebelah yang sekarang sudah jadi orang top. Wajar kalau kehadiran Kangen Band seperti disambut dengan tangan terbuka, masyarakat kelas bawah jadi target pasar utama Kangen Band.

Lagu-lagu Kangen Band berputar di terminal, angkot, pasar, warung, tongkrongan, dan di mana saja tempat masyarakat kelas bawah berkumpul. Masyarakat kelas menengah, sebagian mengaku kalau menyukainya, sebagian mengaku kalau membencinya, sisanya malu-malu antara mengaku suka atau benci.

Disukai

Waktu berganti, tren pun berganti. Musik-musik pop melayu yang sempat merajai belantika musik Indonesia, pelan-pelan mulai surut digantikan tren musik lainnya. Satu per satu musisi pop melayu yang sempat berjaya mulai pudar. Kangen Band sebagai lokomotifnya dan salah satu yang paling populer pun mulai terguncang. Sang vokalis masuk-keluar penjara, sampai kemudian dikeluarkan dan Kangen Band benar-benar layu.

Waktu bergulir ke tahun 2020. Gelaran Synchronize Festival di Jakarta mengundang Andhika Mahesa, vokalis Kangen Band untuk tampil dan tentu saja membawakan beberapa lagu-lagu hits dari Kangen Band. Tanggapan penonton waktu itu? Wow! Ternyata tanpa sadar sebagian besar penonton Synchronize Festival yang berasal dari kelas menengah Jakarta itu bisa dengan lancar sing along, bernyanyi bersama.

Reuni Kangen Band 2021

Ternyata di balik rasa tidak suka mereka pada Kangen Band, tersimpan rasa kangen. Orang-orang suka, cuma berusaha untuk tidak mengakuinya. Mungkin karena malu. Ketika ada kesempatan untuk bernyanyi bersama, semua dikeluarkan, semua dimuntahkan. Toh kalaupun malu, malunya bersama-sama.

Kangen Band jadi semacam guilty pleasure bagi banyak orang, walaupun momentum ini tidak bisa dijadikan batu loncatan untuk Kangen Band kembali meraih popularitas di dunia musik Indonesia. Cukup sampai di level disukai, belum sampai di level digilai seperti dulu.

Dibela

Lompat ke April 2022. Sebagian pengguna media sosial pasti tahu ramai-ramai di media sosial yang melibatkan Andhika Kangen Band – atau kerap disebut Babang Thamvan. Bukan kasus kawin-cerai atau kasus narkoba seperit dulu, tapi tentang duo musisi asal Jogjakarta yang memparodikan lagu Kangen Band dengan nada atau gaya mengejek.

Sontak, ulah duo musisi itu mendapat reaksi cukup keras dari netizen Indonesia. Mereka dianggap tidak sopan, mengejek musisi yang lebih senior, yang perjalanannya di dunia musik sudah cukup panjang, dan sebagian orang bahkan sepakat memberi cap legenda.

Andhika dibela, dan duo musisi itu habis dirisak massa warganet Indonesia. Tidak seperti yang terjadi belasan tahun lalu ketika Kangen Band justru jadi sasaran risakan, cacian, hinaan, dan tidak satupun sosok besar yang berdiri membela mereka. Sekarang, dengan satu celaan yang menurut saya tidak ada seujung kuku celaan yang dilontarkan rapper 8 Ball belasan tahun lalu, Andhika dan Kangen Band tiba-tiba banyak yang bela. Dari orang biasa, sampai tokoh musisi besar Indonesia.

Luar biasa! Bagaimana kehidupan itu benar-benar bisa berubah, berbalik 180°. Dulu dicerca, lalu disukai, dan sekarang dibela.

*****

Perjalanan kehidupan Andhika dan Kangen Band memang mengajarkan banyak hal pada kita. Kehidupan bisa saja berubah total, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bayangkan kalau dulu Kangen Band langsung mundur begitu mendapat cercaan dan hinaan, mereka pasti tidak akan dikenang sedalam ini. Atau, bayangkan bila mereka menutup mata dan telinga terhadap hinaan dan tidak berusaha sama sekali untuk memperbaiki diri. Pasti orang juga tidak akan jatuh simpati.

Andhika dan Kangen Band memang pernah berada di posisi jadi sasaran cercaan, tapi mereka memperbaiki diri. Mereka belajar banyak, mereka bertahan, dan hasilnya? Mereka mendapatkan respek yang memang pantas buat mereka.[dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.