Musik

Dangdut, Genre Musik Paling Adaptif

Rhoma Irama

Musik dangdut bisa dibilang adalah identitas asli Indonesia. Musik yang sangat adaptif mengikuti perkembangan zaman.


Seorang perempuan muda bernyanyi di atas panggung, badannya tidak diam. Meliuk-liuk dengan sangat lincah. Tubuhnya berbalut gaun sepaha, ketat dan benar-benar menampilkan lekuk tubuhnya. Di bawah panggung, puluhan orang yang hampir semuanya adalah pria berjoget penuh semangat. Kepala bergoyang, bahu bergoyang, pinggul bergoyang, bahkan tangan pun tak tinggal diam. Beberapa orang di antaranya malah menutup mata, memberi tanda kalau dia benar-benar menikmati alunan musik yang sedang mengalun. Apalagi kalau bukan musik dangdut.

Orang Indonesia pasti sangat terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Alunan musik dangdut dari mulut biduan dan biduanita, puluhan orang bergoyang, dan aroma kesenangan meruak di udara. Apalagi di daerah sub urban atau di pedesaan. Musik dangdut sangat dekat, sedekat urat nadi di leher manusia.

Muasal Dangdut

Orkes harmonium atau lebih dikenal sebagai orkes gambus adalah asal muasal musik dangdut. Kehadiran orkes gambus ini sendiri mulai ada di Indonesia sejak tahun 1930-an. Para pemainnya memainkan repertoar yang memainkan musik Arab, Melayu, India, dan Eropa dengan beragam alat musik seperti biola, terompet, rebana, gendang dan tamborin.

Salah satu orang pertama yang merekam lagu-lagu orkes gambus dan menyebarkannya di Indonesia adalah Syech Albar, ayahanda Ahmad Albar pentolan grup musik rock God Bless.


Syech Albar, ayahanda Ahmad Albar

Selepas masa kemerdekaan, musik Indonesia juga berkembang. Salah satu yang sangat pesat perkembangannya adalah musik melayu. Musik ini mendapat respon yang luas karena dianggap mewakili masa Indonesia yang lebih moderen. Para musisi orkes melayu pun mulai memasukkan unsur-unsur latar film India yang sangat populer di tahun 1950-an dan 1960-an dan ini jelas menjadi pondasi yang sangat kokoh untuk munculnya musik dangdut.

Di era awal 1960-an, Presiden Soekarno dengan sangat ketat membatasi masuknya budaya Eropa dan Amerika, termasuk musik. Presiden Soekarno bahkan melabeli musik Eropa dan Amerika itu sebagai “musik ngak-ngik-ngok”. Namun, di sisi lain pemerintah saat itu terkesan sangat terbuka pada musik dari India dan Timur Tengah. Hal ini semakin menyuburkan tumbuhnya pondasi musik dangdut yang kala itu masih bernama musik melayu.

Beberapa musisi yang terkenal saat itu adalah Munif Bahasuan, A. Rafiq, dan Ellya Khadam. Ketiganya bisa disebut sebagai perintis musik dangdut. Ketiganya punya ciri khas mengawinkan musik Timur Tengah dengan musik India, bahkan rock n’ roll Amerika. Elya Khadam misalnya, penyanyi perempuan berjuluk “Boneka dari India” ini kental dengan aroma musik India. Mulai dari pakaian, mimik wajah, gerakan kepala, hingga olah vokal. Sementara A. Rafiq lebih kreatif dengan memasukkan unsur rock n’ roll Amerika ke dalam musik-musiknya. A Rafiq bahkan sempat disebut Elvis Presley-nya Indonesia.


Ellya Khadam, si Boneka dari India

A.Rafiq sang Elvis Presley dari Indonesia

Halaman 2: Hadirnya sang raja….

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Sebetulnya menurutku mereka termasuk yang paling tahan banting sih.
    Genre lain seperti pop harus beralih platform, mereka sih bisa mengisi semua jenis platform dan dari sisi pertunjukan tampaknya tidak pernah berkurang karena marketnya mnrtku malah yang paling besar.

  2. Siapapun orangnya kalau pas ada dangdut mesti otomatis goyang hehehehehe. Walau sekarang banyak model dangdut koplo, duh kangen nonton dangdutan *eh

  3. jadi inget bang Rhoma collab bareng Dipha Barus, keren bangettttttt! 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.