Musik

Dangdut, Genre Musik Paling Adaptif

Musik Paling Adaptif

Kalau melihat perkembangan musik dangdut dari sejak masih janin hingga hari ini, satu hal yang harus kita akui adalah musik ini sungguh sangat adaptif. Akarnya adalah musik melayu yang kemudian dikawinkan dengan alunan musik dari India dan Timur Tengah, lalu di tengah jalan unsur rock dan funk juga ikut dimasukkan. Itu belum termasuk beragam unsur musik tradisional seperti jaipong yang kerap dibawakan oleh Camelia Malik.

Memasuki periode 1980-an dan 1990-an, dangdut pun mulai lekat dengan musik elektronik hingga muncul sub genre yang disebut disko dangdut. Di dekade tersebut, dangdut sudah diterima lebih luas. Dangdut mulai dimainkan di kelab-kelab malam di kota besar, bukan lagi di pinggiran kota. Dan para disc jockey atau DJ berperan penting dalam menghadirkan sub genre yang baru ini.

Jangan lupa juga kalau dangdut ikut memengaruhi sub genre musik religi seperti kasidah. Unsur-unsur musik dangdut terasa sangat berpengaruh pada musik yang melambungkan nama seperti Nasida Ria ini.

Lalu, jangan lupakan juga alunan musik dangdut yang sangat terpengaruh pada musik regional. Di wilayah Jawa Barat dikenal dangdut tarling, di Jawa Tengah dikenal nama dangdut koplo, lalu di Sumatera Barat dikenal nama dangdut minang. Ini membuktikan betapa cairnya musik dangdut dan bisa melebur ke mana saja, bercampur dengan beragam jenis musik lain.


Panggung dangdut

Belakangan model adaptasi lain dari musik dangdut mulai muncul dalam rupa reggae dangdut dan dangdut hip-hop. Hampir tidak ada lagi genre musik yang tidak bisa dikawinkan dengan musik dangdut.

Itu bukan hanya soal musik, karena kalau bicara soal fesyen maka kita akan melihat betapa dangdut itu sangat adaptif. Mulai dari fesyen a la rock nā€™ roll 1970-an yang digunakan A. Rafiq dan Rhoma Irama, fesyen India dan Arab yang digunakan oleh Elya Khadam dan Elvy Sukaesih, fesyen pop yang digunakan pedangdut 1980-an dan 1990-an, sampai fesyen a la Korean Wave yang digunakan Ayu Ting Ting saat ini.

Mereka bisa berbaur dengan tren fesyen mana saja, dan tetap terlihat nyambung.

Sampai ke Jepang

Satu catatan yang kerap terlupakan ketika membicarakan dangdut adalah bahwa musik ini pernah sampai ke Jepang. Elvy Sukaesih dan Rhoma Irama bertanggung jawab atas masuknya musik dangdut ke Jepang. Di tahun 1992, Elvy Sukaesih merilis album dangdut di Jepang dan bisa wara-wiri di media cetak dan televisi Negeri Sakura.

Orang-orang Jepang mendengarkan musik dangdut saat itu seperti mendengarkan musik psikedelik. Mereka memang tidak bisa memahami lirik musik yang mereka dengarkan, namun alunan musiknya bagi mereka sungguh menghanyutkan.

Sayangnya, invasi yang sudah dirintis duo raja dan ratu dangdut itu tidak berlanjut. Mereka kehabisan bensin dan akhirnya menyerah. Musik dangdut tidak pernah benar-benar berkembang di Jepang dan hanya menjadi sepenggal catatan sejarah.

Meski begitu, masih ada juga secuil masyarakat Jepang yang tetap memainkan musik dangdut. Setidaknya sampai pertengahan dekade 2000-an.


Panggung musik dangdut di Jepang

*****


Saya membayangkan, kalau saja pemerintah Indonesia mau serius mendukung musik dangdut maka bisa saja kita akan punya yang namanya Indonesian Wave. Sebuah jenis musik yang sangat Indonesia dan bisa kita ekspor ke negara lain. Dengan rencana matang dan cetak biru yang jelas, dangdut mungkin bisa menjadi sebuah musik yang juga digemari negara-negara lain, bisa menjadi satu pilihan musik yang diterima orang banyak. Seperti musik K-Pop saat ini.

Sayangnya, hal itu tidak pernah terwujud. Dangdut berkembang dengan organik, berkembang sendiri tanpa dukungan dari atas. Musik ini memang sangat adaptif, cair, dan bisa mengalir sendiri serta tetap hidup hingga saat ini. Dangdut melambangkan orang Indonesia yang meski kerap dicuekin pemerintah, tapi toh tetap bisa hidup dan berkembang,

Sayang, padahal seperti kata P-Project: dangdut is the music of my country.[dG]

Referensi:

https://hellodangdut.id/spectrum#section-1
https://hellodangdut.id/culture/detail/1/Menurut-Asal-Usul-inferioritas-Dangdut
https://tirto.id/rock-dan-dangdut-sudah-tak-akur-jauh-sebelum-konflik-jrx-via-vallen-daay
Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia ā€“ Andrew N. Weintraub

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Sebetulnya menurutku mereka termasuk yang paling tahan banting sih.
    Genre lain seperti pop harus beralih platform, mereka sih bisa mengisi semua jenis platform dan dari sisi pertunjukan tampaknya tidak pernah berkurang karena marketnya mnrtku malah yang paling besar.

  2. Siapapun orangnya kalau pas ada dangdut mesti otomatis goyang hehehehehe. Walau sekarang banyak model dangdut koplo, duh kangen nonton dangdutan *eh

  3. jadi inget bang Rhoma collab bareng Dipha Barus, keren bangettttttt! šŸ˜€

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.