Musik

Kangen Band, Bukti Keberhasilan Menyasar Pasar


Kangen Band mungkin banyak dibenci orang, tapi yang menyukai mereka juga tidak sedikit. Mereka adalah contoh keberhasilan menyasar pasar yang tepat.


Sabtu pekan lalu (14/11) ada satu kejadian menarik di belantika musik Indonesia. Pertama adalah helatan Synchronize Fest 2020 yang akhirnya bisa terjadi meski dengan format yang berbeda. Kalau biasanya festival musik ini digelar secara luring di sebuah lapangan dan disaksikan secara langsung oleh ribuan orang, maka tahun ini karena pandemi COVID-19 masih betah bercokol di Indonesia, maka gelaran Synchronize Fest pindah format menjadi gelaran tanpa penonton tapi disiarkan langsung oleh sasiun televisi dan kanal YouTube.

Saya tidak mau membahas ini panjang lebar karena jelas ada sesuatu yang berbeda dari Synchronize Fest tahun ini. Masih menarik, tapi dengan format tanpa penonton di depan panggung tetap saja rasanya ada yang kurang.

Saya lebih tertarik membahas kejadian menarik kedua yang terjadi pekan lalu, yaitu hadirnya Kangen Band sebagai salah satu penampil di Synchronize Fest. Ini menarik dan bahkan sempat menjadi perbincangan panjang di berbagai media, utamanya media sosial. Selepas penampilannya malam itupun, Kangen Band – yang menggunakan nama Kangen Band Reunion – mendapat undangan tampil di beberapa acara televisi. Salah satunya Tonight Show di Net TV.

Berawal Dari Pasar

Tapi sebenarnya apa menariknya kejadian reuni dari Kangen Band itu? Well, akuilah. Kangen Band adalah salah satu band fenomenal di Indonesia. Di suatu waktu, band asal Lampung ini pernah menggebrak industri musik Indonesia, bahkan mengacak-acak pakem yang sudah terlihat rapi sebelumnya.

Berawal dari lima anak muda yang senang bermusik di satu sisi kota Bandar Lampung. Kelimanya bukan berasa dari keluarga berada, bahkan bisa dibilang mereka berasal dari kalangan ekonomi lemah. Ada yang sehari-harinya menjadi pedagang es cendol, pedagang sayuran di pasar, ada juga yang jadi tukang batu. Tapi mereka disatukan hobi yang sama, bermusik.

Hobi itu juga yang membuat mereka menelurkan singel yang kemudian disebarkan di sekitar pasar tempat mereka biasa mangkal. Singel yang tanpa direncanakan ternyata menyebar seperti virus. Banyak orang yang tertarik, banyak yang menyukainya, banyak yang membajaknya, dan banyak yang memutarnya. Dalam waktu singkat mereka menjadi sangat populer, tapi tidak dikenal. Maksudnya, lagu mereka disukai orang banyak, tapi tidak ada yang tahu siapa yang menyanyikan lagu itu atau seperti apa tampang para pemusiknya.

“Saya pernah satu angkot dengan beberapa cewek anak SMA. Ketika lagu Kangen Band diputar di angkot itu, mereka berebutan. ‘Ini pacarku,’ kata yang satu. ‘Bukan, ini pacarku!’ kata yang lainnya. Padahal saya ada di situ. Duh, malunya setengah mati. Kalau mereka tahu muka vokalisnya seperti apa, saya yakin mereka tidak akan ngomong begitu,” kisah Andika di salah satu vlog wawancara dengan Gofar Hilman.

Kepopuleran mereka di level kota Bandar Lampung inilah yang diendus oleh label Warner Music Indonesia. Perwakilan Warner datang ke Bandar Lampung, mencari tahu siapa gerangan pemusik muda yang sudah sangat terkenal di kota itu. Mereka berhasil membawa kelima anak muda itu ke Jakarta, membantu mereka merekam lagu dengan lebih layak dan tentu saja legal.

Dan sisanya adalah sejarah.

Membuka Pintu

Tahun 2007, Kangen Band di bawah label Warner Music Indonesia merilis album perdana mereka Tentang Aku, Kau, dan Dia. Tidak butuh waktu lama sebelum album ini merangsek ke daftar atas album dan lagu populer di Indonesia. Dari sisi penjualan mungkin jumlahnya tidak lagi sefenomenal penjualan album Peter Pan/Noah atau Sheila On Seven beberapa waktu sebelumnya, karena masa 2007 adalah masa ketika musik format digital mulai menggeser musik format non digital. Tapi, Kangen Band tetap saja berhasil meraih popularitas.

Sajian lagu yang ear catching, ringan dan mudah dicerna serta jadi ear worm alias terngiang-ngiang terus di kuping ternyata sangat pas untuk menggaet banyak penggemar. Lagunya muncul di televisi, di radio, di pemutar MP3, di angkot, di pasar swalayan, di mana saja. Lagu mereka jadi salah satu lagu paling laku di ring back tone (RBT). Majalah Rolling Stone Indonesia pernah menyebut mereka sebagai ‘Raja RBT’.

Panggung-panggung mulai terbuka untuk kelima anak muda dari Lampung ini.

Pintu untuk band lain juga terbuka. Menyusul kemudian nama-nama seperti ST12, Hijau Daun, Wali, Bagindaz, Vagetoz, dan banyak lagi. Mereka mengusung musik yang dikenal sebagai musik “Metal” alias melayu total.

Menyasar Pasar yang Pas

Kangen Band menyasar pasar yang sebenarnya spesifik. Pendengar musik di pinggiran kota atau kawasan sub urban serta tentu saja masyarakat kelas menengah ke bawah. Pasar yang tentu akan merasa punya kesamaan dengan para personel Kangen Band. Sama-sama dari level ekonomi yang sama, sama-sama bergaul di pasar, punya pekerjaan non formil yang sama, dan bahkan punya gaya berpakaian yang sama. Mereka inilah pasar utama Kangen Band. Pasar yang ternyata menyambut dengan baik apa yang ditawarkan oleh Kangen Band.

Gabungan antara cerita masa lalu para personel, tampilan yang lekat dengan imaji masyarakat pinggiran serta tentu saja lagu-lagu yang mudah dicerna adalah formula yang tepat untuk membuat Kangen Band melesat dan dikenal luas. Kangen Band sepertinya akan sulit mencapai popularitas yang sama bila mereka membawakan musik yang katakanlah musik jazz atau folk yang pasarnya berbeda. Menjual masa lalu mereka dan tampilan yang ndeso tentu tidak akan cocok dengan jenis musik jazz yang sudah terlanjur dianggap sebagai musik kalangan atas.

Jadi, popularitas Kangen Band tentu adalah buah dari formula yang tepat. Meski itu artinya mereka harus siap menghadapi caci maki dari satu sisi. Tidak kurang band seperti Naif pun pernah mengomentari mereka dalam salah satu konsernya. Pendengar musik yang selama ini merasa dirinya keren karena mendengarkan musik-musik berkualitas pun banyak yang memasang tampang jijik ketika mendengar Kangen Band. Bahkan ada sebuah grup rap yang menciptakan lagu khusus untuk mengejek atau bahkan menghina Kangen Band. Sebuah lagu yang dipenuhi kata-kata kotor untuk Kangen Band.

*****

Kangen Band Reunion di Synchronize Fest 2020

Di satu sisi Kangen Band diterima dengan tangan terbuka oleh satu pasar yang memang mereka sasar, tapi di sisi lain mereka dihujat dan dihina oleh pasar yang tidak mereka sasar. Sesuatu yang sebenarnya biasa. Toh, kita tidak bisa memuaskan semua orang.

Meski ada juga yang tidak suka, tapi tetap saja kita tidak bisa menutup mata kalau Kangen Band sudah sempat meraih popularitas yang begitu kuat. Mereka sudah panen, tidak peduli ada yang suka atau tidak. Mereka disiapkan untuk pasar tertentu dan terbukti berhasil. Kangen Band adalah contoh bagus bagaimana mengemas sebuah produk hingga bisa diterima dengan baik oleh pasar yang disasar.

Tahun ini setelah sekian lama vakum dan berpisah, Kangen Band tampil di Synchronize Fest dengan tema reuni. Saya yakin banyak orang yang seperti melepas kangen. Baik mereka yang menjadi penikmat Kangen Band, maupun mereka yang tidak suka. Mereka yang penggemar pastilah bisa memuaskan rasa kangen mereka pada Kangen Band. Mereka yang tidak suka pasti terpuaskan juga rasa kangen ketika mereka membenci Kangen Band.

Unik ya? Begitulah, Kangen Band memang bisa bikin kangen. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. aku malah baru tahu kalo Kangen Band ini pernah bubar.. ?

  2. pertama keluar dihujat2 ini band. bahkan kalau ditongkrongan ada yang suka nyanyi lagu mereka, juga diledekin selera musik kok gitu amat.

    sekarang setiap mereka di panggung, penonton yang berasal dari era yang sama, singalong jugaaa hahahaaa

  3. Sy rindu lagunya kangen band

  4. Sejujurnya, Kangen Band memang bikin kangen. Aku ingat banget dulu tuh suka lagu-lagu mereka karena sering dengar radio. Mereka punya nilai tersendiri. Kalau lihat dari tampilan, ya memang bukan yang bisa digemari cewek-cewek

  5. Setelah bubar, saya mengikuti banyak vlog Andika Mahesa di beberapa wawancara youtuber. Orangnya asyik juga ahhahahaha. Yakin deh, lagunya itu banyak yang suka menyanyikan.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.