Cerita Ringan

Sudah Tua, Masih Bisakah Mulai Belajar Musik?


Belajar main musik idealnya dimulai dari usia dini, tapi bagaimana kalau sudah tua tapi baru mau mulai belajar? Masih bisakah?


Sejak ABG, saya sudah punya cita-cita bisa bermain gitar. Salah satu alat musik paling populer dan paling banyak dimainkan oleh anak ABG. Saya ingat, pertama kalinya keinginan itu muncul ketika duduk di kelas 3 SMP. Tepatnya di pelajaran kesenian. Rasanya kepingin sekali punya gitar biar bisa belajar memetik gitar seperti para musisi di televisi. Sayangnya, keuangan keluarga kami waktu itu masih mepet sehingga beli gitar masih ada di nomor kesekian. Toh sekolah juga tidak memaksakan muridnya harus punya gitar. Sekolah hanya memaksakan muridnya punya recorder, alat musik tiup yang masa itu jadi kewajiban di pelajaran kesenian. Jadilah saya memendam keinginan belajar main gitar dan menggantikannya dengan memetik recorder pakai mulut.

Masuk STM, keinginan bisa bermain gitar semakin menggebu-gebu. Apalagi beberapa teman ternyata bisa memainkan gitar walaupun tidak terlalu jago. Sekadar menggenjreng yang cukuplah buat menemani masa nongkrong. Tapi di masa itu pun orang tua saya belum mampu membelikan saya gitar meski saya sudah mulai menunjukkan rasa ingin punya yang lebih besar dari masa SMP.

Sambil menunggu bisa punya gitar sendiri, saya mulai belajar bermain gitar dari teman-teman. Belakangan saya akhirnya tahu diri kalau saya tidak bisa bermain gitar. Saya sudah mencoba berkali-kali belajar dari teman setongkrongan, tapi progresnya seperti siput. Lambat sekali. Saya hanya hapal satu-dua kunci gitar dan bahkan sama sekali tidak tahu kalau gitar itu harus disetem dulu sebelum dimainkan. Saya pasrah bahwa sepertinya saya memang tidak punya bakat bermain musik.

Hingga akhirnya keinginan belajar bermain gitar itu benar-benar saya pendam.

Bertemu Dengan Pecinta Musik.

Puluhan tahun kemudian, saya hidup bersama pecinta musik. Dia bisa bernyanyi dengan baik, bisa memainkan alat musik seperti gitar dan keyboard serta tentu saja tahu nada. Di rumah pun sempat ada seonggok gitar Yamaha yang sering dimainkan Mamie. Tapi keinginan untuk bahkan memegangnya sudah tidak ada sama sekali.

Ada rasa malu untuk mulai belajar bermain gitar. Dalam hati saya kadang bergumam, “Sudah tua koq baru mau belajar main gitar?”

Seperti kita tahu, orang-orang biasanya mulai belajar alat musik di usia sangat dini. Ada yang sejak ABG dan bahkan ada juga yang sejak masih anak-anak. Konon, usia anak-anak memang usia yang sangat pas untuk belajar alat musik. Pikiran masih tenang, belum direcoki oleh pikiran akan deadline pekerjaan, keharusan membayar tagihan, atau pasangan siapa yang akan menang Pilkada. Jari-jari pun masih sangat lentur untuk memainkan alat musik. Jadi, akan kelihatan aneh ketika orang yang umurnya sudah banyak tapi baru mau belajar memainkan alat musik.

Setidaknya itu yang ada di kepala saya dan pikiran itu yang seperti menghindarkan saya dari belajar main gitar. Saya sudah pasrah kalau suatu saat saya akan meninggal dalam keadaan tidak bisa bermain gitar.

Mulai Tertarik Bermain Gitar.

Lalu tibalah masa karantina setelah virus COVID-19 menyerbu bumi. Selama berbulan-bulan saya terkungkung di kamar kos di Jayapura. Di saat seperti itulah banyak pikiran yang muncul mengisi kekosongan yang biasanya diisi dengan beragam aktivitas luar ruang. Salah satunya pikiran untuk belajar bermain gitar.

“Sepertinya menarik nih kalau saya belajar main gitar,” kata suara dalam kepala saya.

Dari Makassar, Mamie pun memberi semangat. Katanya, “Belilah gitar. Lumayan untuk mengisi waktu selama pandemi. Di YouTube ada banyak tutorial koq.”

Saya mulai tertarik, tapi tidak sampai membeli gitar. Saya cuma mulai mencari video tutorial di YouTube dengan kata kunci “learn guitar for beginner”. Beberapa waktu saya mulai menonton video-video itu, menghapalkan kunci-kunci gitar tanpa pernah menyentuh gitarnya. Seperti kata Phoebe di serial Friends: kalau mau belajar main gitar, kamu jangan langsung menyentuh gitarnya dulu.

Akhirnya Belajar Juga

Oktober tahun ini saya kembali ke Makassar, meninggalkan Jayapura yang sudah saya akrabi selama hampir tiga tahun dan tentu saja akan saya rindukan. Di rumah saya menemukan sebuah gitar baru yang teronggok di sudut kamar, menggantikan gitar lama yang sudah tidak bisa dimainkan lagi. Saya tidak langsung tertarik menyentuhnya walaupun saya sudah mulai menonton video-video tutorial bermain gitar.

Butuh waktu beberapa hari sebelum saya mulai menyentuh gitar itu. Menonton tutorial bermain gitar di YouTube, memasang aplikasi belajar gitar di handphone, dan mulai menyentuh gitar itu. Setiap hari saya menyisihkan waktu sampai mungkin total sejam dalam sehari untuk belajar bermain gitar. Dari menghapalkan kunci dasar sampai akhirnya memberanikan diri untuk belajar memainkan satu lagu.


Akhirnya belajar juga

Lagu pertama yang saya coba mainkan adalah “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki” dari Sheila On Seven. Alasannya sederhana, lagu ini cuma butuh dua kunci. Itupun awalnya cukup sulit buat saya. Menyelaraskan antara kunci di tangan kiri dan genjrengan di tangan kanan serta lirik dari bibir bukan hal mudah untuk pemula. Saya harus belajar terus menerus setiap hari sampai akhirnya saya bisa memainkan lagu itu.

Satu lagu sudah bisa, saatnya pindah ke lagu lain. Lagu berikutnya adalah “Yang Terdalam” dari Peter Pan/Noah. Lagu ini cuma punya tiga kunci utama dan satu kunci tambahan. Cukup mudah untuk pemula. Dan mungkin karena sudah mulai terbiasa karena latihan, lagu ini tidak butuh waktu lama sebelum bisa saya kuasai.

Senangnya luar biasa, apalagi kata Mamie saya memang sudah ada progress. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan setelah terlambat puluhan tahun. Tahun inipun saya sudah berjanji untuk memberi hadiah ulang tahun buat saya sendiri dengan bisa bermain gitar.

Hari ini, ketika tulisan ini saya buat, sudah ada beberapa lagu yang bisa saya mainkan. Minimal dengan genjrengan, cukuplah untuk sekadar menemani bernyanyi. Ujung jari pun sudah mulai kapalan, menebal dan berwarna hitam. Saya tahu saya tentu tidak bisa sampai di level Andra Ramadhan, Stevie Item, apalagi Alif Ba Ta. Tapi setidaknya saya sudah sampai di level yang membuat diri saya senang luar biasa.

*****


Jari yang kapalan karena belajar gitar

Satu hal yang sangat saya percaya adalah bahwa belajar itu memang tidak kenal usia. Tidak kenal kadaluarsa. Belajar musik idealnya memang sedari kecil atau minimal saat remaja. Tapi, itu tidak berarti usia yang banyak menghalangi kita untuk belajar. Asalkan ada kemauan, semua bisa. Apalagi di zaman sekarang ada banyak guru gratis yang membagikan ilmunya di internet. Ada ribuan atau bahkan mungkin jutaan video tutorial di YouTube. Kita hanya butuh kemauan untuk belajar. Sisanya, semua ada di sekitar kita.

Jadi, ketika ada yang bertanya apakah orang yang ulang tahunnya sudah banyak masih bisa mulai belajar main musik? Jawaban saya adalah: bisa! Setidaknya saya jadi buktinya. Saya mungkin tidak akan benar-benar menjadi gitaris handal, tapi paling tidak saya bisa memainkan gitar dengan nada dasar di usia yang tidak muda lagi.

Intinya, jangan pernah merasa terlalu tua untuk mulai belajar. Zalam zuper! [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. Aku sedari dulu pengen latihan juga, tapi baru beberapa kali pegang terus bosan hahahahaha. Padahal di kosan dulu kawan semua hampir bisa gitar kecuali aku. Akhirnya beralih ke drum walau hanya sesaat juga latihannya.

  2. wah, mantap.. sampe sekarang saya tidak bisa bermain alat musik satu pun.. paling bisa yang model piano, itu pun hanya lagu dasar macam “Happy Birthday” atau “Ibu Kartini”.. ?

  3. Mencerahkan.
    Di antara para saudara, saya yang tidak bisa main musik. Menyanyi pun hanya akan membuat orang lain tersiksa.

    Pernah sih belajar gitar waktu SMP. Pakai senar kawat. Jari lecet. Lengan dan bahu pegal, mungkin salah duduk dan salah pegang gitar. ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.