Perjalanan

Maluku 4; Antara Ora dan Sawai

Kami menunggu giliran untuk bisa merapat ke dermaga. Ada 1 kapal kecil yang terparkir di sana, isinya tiga orang wisatawan yang masih asyik berfoto-foto di atas dermaga. Mereka juga pasti seperti kami, penasaran dengan Pantai Ora lalu begitu bersemangat ketika akhirnya bisa sampai ke pantai yang sedang recok dibicarakan itu.

“Anak-anak Baronda Maluku yang pertama memperkenalkan Pantai Ora.” Kata seorang perempuan muda yang kami temui di Ambon beberapa hari kemudian.

Baronda Maluku adalah sebuah komunitas pejalan yang berisi anak-anak muda Maluku. Mereka aktif mempromosikan tempat-tempat indah di Maluku dengan menggunakan internet dan media sosial sebagai perantaranya.

“Penginapan itu sudah ada sejak lama. Tapi baru jadi, kerusuhan sudah pecah. Makanya sempat terlantar.” Kata Julie Toisutta, salah seorang anggota Baronda Maluku. “Tahun 2009 kami ke sana dan mulai menyebarkan cerita tentang Pantai Ora. Sampai kemudian jadi terkenal seperti sekarang.” Lanjutnya.

“Kalau begitu kalian yang nanti harus bertanggungjawab kalau suatu hari nanti Pantai Ora jadi rusak karena terlalu banyak wisatawan.” Seloroh saya. Kami hanya tertawa bersamaan.

Salah satu dilema wisata di negeri republik ini adalah rusaknya satu objek wisata alam ketika namanya sudah sangat terkenal. Demam berwisata yang sedang merebak di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang melejitkan nama-nama baru yang berhasil menarik para wisatawan. Sayangnya tidak semua wisatawan itu adalah orang yang benar-benar peduli dengan alam. Ketika mereka datang berbondong-bondong, sebagian malah mulai bertingkah berlebihan yang kemudian justru merusak alam yang tadinya bersih dan asri.

Pantai Ora memang belum terlalu ramai. Mungkin karena jaraknya yang jauh yang membuat wisatawan masih berat untuk menuju ke sana. Biaya dan jarak masih jadi penghalang meski saya yakin banyak yang begitu ngiler melihat gambar-gambar keindahannya. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti Pantai Ora bakal ramai diserbu wisatawan ketika transportasi dan biayanya makin terjangkau. Ketika masa itu tiba, Pantai Ora bisa saja rusak kalau tak ditangani dengan baik.

Kami tidak lama di Pantai Ora, hanya sekadar berfoto dan beberapa jenak menikmati keindahan pantainya dengan snorkling. Buat saya Pantai Ora memang indah, tapi tidak seindah yang saya bayangkan. Saya lebih bersyukur menginap di Sawai yang meski belum dikemas secantik Ora tapi malah lebih pas dan mengena di hati. Ora buat saya seperti seorang perempuan desa yang mulai pandai berdandan, cantik tapi “kedesaannya” mulai memudar.

Mungkin itu hanya pikiran saya saja.

“Pak, maaf. Harus bayar retribusi Rp25 ribu/orang.” Kata tukang perahu itu.

Oh, rupanya meski hanya bersandar sejenak dan berfoto-foto serta snorkling kitapun tetap harus membayar. Tak apalah, mudah-mudahan uangnya memang dipakai untuk menjaga keindahan dan keasrian Pantai Ora.

*****

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Gadis desa yang sudah pandai berdandan, siapa namanya daeng? *eh

  2. Pantesan teman saya bilang ngapain ke Ora, mendingan ke Sawai aja.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.