Perjalanan

Menjaga Etika Ketika Menginap di Hotel


Isi artikel: Tidak memakai sandal hotel di luar kamar, Tidak semua barang hotel bisa dibawa, Tidak membawa makanan/minuman atau aktivitas yang meninggalkan bau, Membawa tamu sesuai kapasitas kamar, Menjaga ketenangan dan kebersihan.


Menginap di hotel sebenarnya sama dengan di tempat lain. Ada aturan dan etika yang harus dipatuhi.


Beberapa hari yang lalu, lini masa Twitter sempat diramaikan oleh cuitan sebuah akun. Akun ini mengunggah video hack memasak di kamar hotel. Sebenarnya intinya adalah memberi tips bagaimana menggunakan alat-alat di kamar hotel seperti mesin pembuat kopi dan setrika untuk menyiapkan makanan ringan seperti oatmeal dan telur atau bacon goreng. Alasannya karena harga makanan di hotel biasanya sangat mahal dan susah dijangkau. Jadi memasak sendiri adalah alasan yang masuk akal.

Masuk akal sih, tapi sepertinya tidak begitu juga keleus.

Seperti ratusan warganet yang menyerbu postingan itu, saya juga merasa tips yang mereka bagikan itu rasanya tidak etis.


Postingan yang sempat ramai itu

Tidak etis karena pertama, mereka menggunakan mesin pembuat kopi untuk memasak oatmeal. Memasukkan oatmeal mentah ke dalam teko pemanas kopi dan memanaskannya sampai oatmeal mentah itu matang dan siap dimakan. Lalu di tips lainnya, telur dan bacon mentah dipanaskan di atas setrikaan dengan pelapis alumunium foil.

Bagian mana yang tidak etis? Pertama, aroma dan rasa dari oatmeal itu pasti akan tertinggal di teko pemanas kopi, dan ini merugikan orang lain yang akan menginap di kamar itu. Bayangkan bagaimana tidak enaknya mencicipi kopi rasa oatmeal. Euwwww. Pasti rasanya jauh dari kata sedap. Alih-alih merasakan kopi yang nikmat, yang ada malah rasa mual.

Kedua, adegan masak-memasak di dalam kamar hotel yang ber-AC (dan kadang tidak dilengkapi dengan jendela) pasti akan meninggalkan bau. Biasanya bau itu akan tertinggal cukup lama dan sulit dihilangkan. Cilaka bagi tamu berikutnya, apalagi kalau kebetulan orang berikutnya bukan orang yang suka bau telur atau bacon.

Jadi tidak heran kalau tips yang diberikan akun itu mendapat banyak kritikan dari warganet karena dianggap merugikan hotel. Dari postingan yang sama kemudian cerita melebar ke etika ketika menginap di hotel.

Beberapa obrolan tentang etika menginap di hotel adalah:

1. Tidak Memakai Sandal Hotel Keluar dari Kamar.

Hotel berbintang biasanya menyediakan sandal hotel di dalam tiap kamar. Sandal ini umumnya terbuat dari bahan tipis dan gampang rusak karena fungsinya memang hanya untuk dipakai di dalam kamar. Bukan dipakai keluar, apalagi ke alam terbuka.

Ada aturan umum yang sepertinya masih jarang diketahui orang bahwa, sandal ini khusus untuk dipakai di dalam kamar saja. Menggunakannya di luar kamar oleh sebagian orang dianggap sebagai perbuatan tidak sopan. Apalagi bila dipakai ke restoran.

Beberapa hotel memang sudah menetapkan aturan ketat di area sarapan mereka. Hotel Borobudur, misalnya. Hotel berbintang lima di kawasan premium Jakarta ini melarang tamu untuk masuk ke area sarapan menggunakan sandal hotel (dan celana pendek bagi pria).

2. Tahu Barang Apa Saja yang Bisa Dibawa Pulang.

Selain sandal, barang lain yang juga disiapkan oleh hotel biasanya adalah alat-alat kebersihan badan seperti sabun, sikat gigi, odol, dan sampo. Beberapa hotel bagus biasanya menambahkannya dengan hand body lotion, shower cap, cotton bud, dan sisir.

Sama seperti sandal hotel yang tipis itu, barang-barang di kamar mandi juga bisa dibawa pulang. Tapi ingat, hanya barang itu yang bisa dibawa pulang. Handuk, keset, baju mandi, atau pengering rambut tidak bisa dibawa pulang.

Bisa sih, tapi siap-siap saja dengan konsekuensinya.


Barang hotel yang dibawa turis dari India

3. Tidak Membawa Makanan/Minuman Berbau atau Aktivitas yang Meninggalkan Bau.

Seorang kenalan manajer hotel pernah berkeluh kesah pada saya. Katanya dia pernah mendapatkan tamu yang meninggalkan bau tidak nyaman di kamar yang dia pakai. Bau makanan yang tajam, katanya. Ini menyulitkan petugas hotel karena butuh kerja ekstra keras untuk menghilangkan bau itu supaya tamu berikutnya tetap nyaman.

Hal ini juga berlaku untuk aktivitas di dalam kamar yang bisa meninggalkan bau seperti memasak. Buat kamar yang sudah ditandai sebagai non smoking room, merokok di dalam kamar juga sangat dilarang. Bahkan beberapa hotel menetapkan denda jutaan rupiah kepada tamu yang kedapatan merokok di kamar non perokok.

4. Membawa Tamu Sesuai Batas Maksimal.

Setiap hotel punya kebijakan tertentu mengenai jumlah batas tamu yang boleh menginap di dalam kamar yang disewa. Biasanya maksimal 3 tamu, itupun dengan tambahan ekstra bed. Tapi kebanyakan hanya memberikan batas maksimal 2 tamu saja. Tapi ini tentu berbeda untuk kamar keluarga atau family room yang kadang bisa diisi sampai 6 atau 8 orang tergantung luas kamarnya.

Membawa tamu melebihi kapasitas kamar akan merugikan hotel bersangkutan karena penggunaan air tentu akan berlebih. Belum lagi suasana di dalam kamar yang bisa jadi akan lebih ribut atau lebih berantakan. Sekadar bertamu tidak mengapa, tapi tidak sampai ikut menginap beramai-ramai.

Bebeapa hotel sangat ketat di aturan ini, tapi beberapa lainnya biasa saja.

5. Menjaga Ketenangan dan Kebersihan.

Ada orang yang ketika menginap di hotel langsung merasa kalau dia boleh melakukan apa saja. Kan sudah bayar, pikirnya. Tapi dia tidak sadar kalau apa yang dia lakukan bisa mengganggu tamu lain yang sama-sama bayar.

Sebagai sesama tamu, kita bisa saja merasa terganggu oleh suara yang terlalu ribut dari kamar sebelah. Baik itu ribut karena mengobrol dan tertawa, anak-anak yang bercengkerama atau menangis, suara televisi yang terlalu kencang, atau bahkan suara orang bercinta yang sampai menembus ke kamar sebelah.

Padahal, sebagian orang menjadikan kamar hotel sebagai tempat untuk benar-benar beristirahat. Pastilah dia akan terganggu karena suara dari kamar sebelah. Kalau mendapatkan kondisi seperti ini, tidak ada cara lain selain mengajukan keluhan ke pihak hotel. Biar mereka yang membereskannya.

Hal lainnya adalah soal kebersihan. Banyak juga orang yang menginap di hotel dan abai pada soal kebersihan. Buang sampah sembarangan, abu rokok bahkan puntung dibiarkan dibuang di lantai, bahkan sisa-sisa cairan ketika berhubungan badan juga dibiarkan berceceran. Hiyyy menjijikkan.

Meskipun hotel sudah ada petugas pembersih, tapi sebagai manusia yang beradab kita juga harus tahu dan mau bersama-sama menjaga kebersihan. Itu menunjukkan kualitas diri kita, bukan?

*****

Menginap di hotel memang berarti harus siap untuk mematuhi aturan atau etika yang ditetapkan. Meski kita merasa kita berhak berbuat apa saja karena sudah membayar, tapi tetap saja ada aturan atua etika yang harus dipatuhi, dan tentu saja ada orang lain yang sudah sama-sama ikut membayar. Mereka punya hak yang sama dengan kita.

Mematuhi dan memperhatikan etika sebenarnya bukan saat di hotel saja, tapi di manapun kita berada. Kita adalah mahluk sosial, harus menjaga hubungan dengan manusia lain. Saling menghormati adalah kuncinya, tidak bisa seenaknya yang bisa merugikan orang lain. Bukan begitu? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (4)

  1. Lucu juga sebenarnya, Daeng. Kalau orang bisa bayar kamar hotel, mestinya mereka sudah bisa beli makanan, entah di restoran atau di warung pinggir jalan. Kalau pengen lebih hemat, mereka ‘kan bisa cari alternatif akomodasi yang lebih murah, misalnya kasur tingkat di hostel yang biayanya nggak sampai 100ribu. Tapi, ya itu, harus rela berbagi spasi–dan tepaselira–dengan orang lain.

  2. Lihat di video bikin telur dadar dan yang lainnya pakai setrika kok kelihatan nggak ada etikanya sama sekali. Hal-hal seperti itu menurutku sudah di luar batas kewajaran.

    Untuk pakai sandal hotel keluar, ini kadang yang masih banyak orang tidak pahami. Sayapun pernah melakukannya dulu. Sekalinya sudah paham, tinggal pakai sandal sendiri atau sepatu pribadi tiap keluar hotel.

  3. hahahaha point sendal aku langsung tertohok Daeng! soalnya sering banget aku pake untuk jalan2 sampai ke sekitaran hotel :))

  4. saya dulu sering mengambil sabun dan shampo yang memang disediakan untuk diambil. namun makin sering bepergian dan menginap di hotel, saya makin jarange mengambil barang-barang tersebut. alasannya, selain lebih sering tidak terpakai, karena saya bepergian dengan penerbangan murah yang tanpa bagasi dan harus membawa tas kabin, membawa sabun dan sabun cair sangat merepotkan saat melewati pemeriksaan keamanan.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.