Cerita Ringan

Hidup di Lingkungan Toxic

Foto dari Pexels.com

Tidak semua orang hidup di lingkungan yang nyaman. Sebagian orang terpaksa hidup di lingkungan yang toxic.


Semua pasti tahu kan kalau manusia itu adalah mahluk sosial. Mahluk yang tidak bisa hidup sendirian, harus punya ikatan atau minimal interaksi dengan manusia lainnya dalam sebuah lingkungan. Baik itu lingkungan kecil bernama keluarga, hingga lingkungan yang agak besar seperti pertemanan, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan yang paling besar. Lingkungan sedikit banyaknya memengaruhi kehidupan seorang manusia. Membentuk karakternya dan terkadang menentukan jalan hidupnya.

Sayangnya, tidak semua lingkungan itu menyehatkan. Tidak semua lingkungan memberi kesempatan kepada manusia untuk berkembang sesuai cita-citanya, meraih batas peningkatan kapasitasnya, atau memaksimalkan potensi yang dia punya. Ada lingkungan yang justru sebaliknya. Terasa seperti mengekang seseorang, menekan potensinya, menutup kemungkinan-kemungkinan dalam hidupnya, bahkan mematikan semangatnya.

Lingkungan seperti itu kadang disebut lingkungan toxic. Dalam bahasa Inggris, toxic berarti racun atau beracun. Jadi lingkungan yang dianggap lingkungan toxic berarti lingkungan yang beracun. Pelan-pelan bisa membunuh seseorang bila tidak segera dicari obatnya.

Macam-Macam Lingkungan Toxic.

Lingkungan toxic ini ada banyak macamnya. Ada lingkungan yang berisi orang-orang yang tidak pernah bisa menghargai keberadaan kita, ada lingkungan yang berisi orang-orang yang selalu menghina, merendahkan, atau mencemooh kita. Ada pula lingkungan yang bahkan orang-orangnya sampai berani melakukan pelecehan-pelecehan kepada korbannya.

Saya senang membuka Quora, membaca-baca pertanyaan dan jawaban di sana. Ada beberapa pertanyaan yang jawabannya berkisar antara lingkungan toxic. Baik itu di lingkup rumah tangga, sekolah, sampai lingkup lingkungan kerja. Ada beberapa orang yang sudi membagikan kisahnya hidup di lingkungan yang dianggapnya sebagai lingkungan toxic.

Misalnya saja, ada seseorang yang bercerita bagaimana dia hidup di dalam keluarga inti yang punya seorang bapak yang sangat toxic. Si bapak – kata anaknya – sudah lama berhenti kerja karena dikeluarkan dari kantor lamanya. Setelah berhenti kerja, dia bukannya berusaha mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya tapi malah diam saja di rumah. Diam dalam kemalasannya. Lebih parahnya lagi karena perlahan dia mulai sering marah-marah dan mengatur kehidupan keluarganya, seolah-olah dia punya kuasa besar sekali. Sudah tidak bisa menghidupi keluarga, eh ini malah mengatur seenaknya.

Kalau mengatur ke arah yang benar mungkin tidak masalah. Tapi, si bapak – sekali lagi menurut anaknya – justru mengekang kebebasan anak-anaknya untuk bersekolah. Anak perempuannya yang punya cita-cita tinggi tidak didukung, malah didoakan semoga tidak lolos ke perguruan tinggi negeri.

Di kisah yang lain, ada juga yang bercerita bagaimana istri kakaknya juga mulai menjadi orang yang sangat toxic. Manjanya minta ampun, selalu ingin dihargai dan dilayani, bahkan tidak segan menyuruh suaminya untuk meminta uang kepada keluarganya. Sayangnya, si kakak iparnya ini tidak punya penghargaan kepada iparnya atau bahkan ibu mertuanya. Dia terkesan hanya mau uangnya saja, tapi tidak mau memberi imbal balik dalam bentuk perhatian atau sekadar berbaik-baik.

Si ibu selalu berusaha memenuhi permintaan menantunya. Alasanya karena dia sayang pada anaknya, cowok sulung dalam keluarga mereka. Seperti layaknya seorang ibu, cinta kasihnya memang tidak terbatas. Dia sama sekali kelihatan tidak peduli meski perlakuan si menantu membuat anak-anaknya yang lain kesal setengah mati.

Kisah lainnya adalah kisah lingkungan kerja yang lumayan toxic. Ada perempuan yang berkisah bagaimana kondisi kantornya sangat menekan dia. Tekanan paling besar datang dari para lelaki teman sekerjanya. Kebetulan menurut penuturannya, dia punya badan yang menurut orang Indonesia semok. Seksi dan montok. Kondisi inilah yang selalu dijadikan bahan oleh rekan-rekan kantornya. Dari celotehan ringan tentang dada atau pantatnya yang tercetak jelas, sampai jelas-jelas candaan yang bernada pelecehan seksual.

Buat si penulis, kondisi ini sangat menekannya. Kondisi yang digambarkannya sudah masuk ke level toxic, meracuni.

Ada banyak lagi kisah-kisah tentang lingkungan toxic yang saya baca di Quora. Sebagian memang ikut membuat saya mengernyitkan dahi, menghela napas panjang, dan berharap saya dan anak-anak saya tidak sampai hidup dalam lingkungan seperti itu.

Bertahan di Lingkungan Toxic.

Bertahan di lingkungan seperti itu memang tidak mudah. Apalagi bila lingkungannya adalah lingkungan keluarga terdekat. Kalau lingkungan kantor, kita bisa mengundurkan diri kapan saja dengan konsekuensi kehilangan pekerjaan. Bila terjadi di lingkungan sekolah atau kampus, kita bisa menguatkan diri sampai batas waktu sekolah atau kampus selesai.

Tapi kalau di lingkungan keluarga terdekat? Rasanya tidak mungkin kita akan mengundurkan diri dari keluarga tersebut. Bahkan ketika memutuskan menikah dan membangun keluarga sendiri, keluarga inti akan tetap ada.

Dari beberapa referensi yang saya baca, bertahan di lingkungan toxic ini memang tidak mudah. Atau setidaknya mudah di sisi teori, tapi tidak akan mudah direalisasikan.

Hal terpenting yang harus dilakukan oleh korban menurut beberapa referensi adalah speak up. Berbicara langsung, mengeluarkan uneg-uneg atau keberatan kepada pelaku. Harapannya pelaku bisa menyadari kesalahannya dan bisa mengubah kebiasaannya yang ternyata membuat orang lain merugi. Tapi, ini tidak mudah karena banyak pelaku yang tidak merasa bersalah. Mereka bisa saja punya perspektif berbeda terhadap apa yang mereka lakukan.

“Saya kan begitu demi kebaikanmu juga,” adalah satu kata yang bisa saja diucapkan para pelaku. Mereka merasa dengan memberikan tekanan, menyalahkan kita terus menerus, itu justru akan memberi kebaikan pada kita. Baik menurut dia, tapi belum tentu menurut kita.

Di sisi lain, ketika mereka melakukan hal-hal yang menjurus ke pelecehan seksual mereka bisa saja berkilah, “Halah, gitu aja marah. Kan becanda doang.” Mereka tidak tahu kalau perbuatan yang mereka anggap candaan itu benar-benar membuat korbannya tertekan.

Cara terbaik untuk bertahan dari lingkungan toxic yang sulit ditinggalkan memang adalah dengan mencari supporting system. Lingkungan yang bisa memberi dukungan. Lingkungan yang bisa memberikan hal-hal yang positif, semacam penawar dari racun yang disuntikkan orang-orang itu.


Credit: Pexels.com

Teman terdekat, atau pasangan bisa jadi alternatif meski hal seperti ini tidak mudah bagi mereka yang bertipe introvert. Mereka mungkin akan lebih senang memendam sendiri masalahnya dan mencari cara atau celah untuk bertahan dari masalah itu. Menciptakan supporting system-nya sendiri meski itu berarti hanya dia dan dirinya sendiri. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang tidak.

Mereka yang beruntung mendapatkan supporting system memang pada akhirnya akan berhasil keluar dari tekanan lingkungan toxic. Tekanan itu malah bisa diubahnya menjadi kekuatan baru. Mereka para penyintas itu di kemudian hari bisa berubah menjadi orang-orang yang lebih kuat dan sukses dalam kehidupannya. Kata Sigmund Freud, “whatever that doesn’t kill you, simply makes you stronger”. Apapun yang tidak berhasil membunuhmu, akan membuatmu lebih kuat.

*****

Sebagai mahluk sosial, kita memang tidak akan pernah benar-benar bisa memisahkan diri kita dari lingkungan sekitar. Kita akan selalu dipengaruhi lingkungan, atau memengaruhi lingkungan. Termasuk lingkungan toxic. Kita bisa menjadi korban, tapi mungkin juga menjadi pelaku tanpa kita sadari. Ketika menjadi korban, tidak ada cara terbaik selain mencari keluar dari lingkungan itu atau mencari supporting system.

Ketika menjadi pelaku, tidak ada cara terbaik selain menyadari kalau apa yang kita lakukan itu tidak benar. Berani mendengarkan pendapat orang lain, menerima kritik, dan berkomitmen memperbaiki diri. Demi lingkungan yang lebih baik. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Benar-benar perlu keberanian untuk melepaskan diri dari–atau berkompromi dengan–lingkungan toxic. Tapi kayaknya bakal jadi makin susah kalau individu itu nggak sadar kalau ia hidup di lingkungan yang toxic, apalagi kalau alasannya yang daeng tuliskan di atas: “saya kan begitu demi kebaikanmu juga.”

    Duh…

    • betul, keluar dari lingkungan toxic itu perjuangan tersendiri
      kadang juga kita tidak sadar sampai terus-terusan ada di dalam lingkungan seperti itu

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.