Pikiran

Mengingat Kepergian Chris Cornell

kesehatan mental

Mengenang kepergian Chris Cornell sambil meningkatkan kepedulian pada kesehatan mental.


Tanggal 18 Mei 2017 bagi sebagian besar pecinta skena musik rock akan selalu dikenang sebagai hari yang mengagetkan. Khususnya bagi para pecinta skena Seattle Sound atau yang kerap disebut musik grunge. Hari itu, salah satu pahlawan skena musik ini pergi dengan sangat mengejutkan. Chris Cornell, mantan punggawa Soundgarden yang ikut melahirkan dan membesarkan skena musik grunge dari kota Seattle itu ditemukan meninggal di kamar mandi kamar hotelnya. Diduga dia meninggal bunuh diri.

Bukan hanya kepergiannya yang mengagetkan, tapi juga penyebabnya. Mungkin tidak ada yang menduga kalau Chris yang terlihat baik-baik saja bersama istri dan anak-anaknya, ternyata punya masalah mental yang berat. Masalah yang membuatnya memutuskan – entah sadar atau tidak – untuk menggantung dirinya di dalam kamar mandi.

Baca juga: So Long Chris!

“Kami sering membicangkan soal pengalaman kami dengan kecemasan dan depresi, dan sepertinya masalah kesehatan mental jadi sesuatu yang sangat membebani hidupnya. Melalui dia, saya belajar pentingnya memiliki seseorang yang mengerti sisi gelapmu, memahami masalahmu, dan memberimu kenyamanan,” kata Lily Cornell Silver, anak pertama Chris Cornell saat meluncurkan sebuah program podcast tentang kesehatan mental. Lily mendedikasikan podcast tersebut sebagai upaya mengenang sang ayah.

Kesehatan mental kadang tidak mudah dikenali. Banyak orang yang tanpa sadar mulai mengalami gangguan kesehatan mental. Perlahan tapi pasti hingga kemudian dia sudah benar-benar mengalami gangguan kesehatan mental yang bisa berujung fatal buat dirinya, atau lingkungannya.

Dari laman Halodoc ini ada beberapa ciri gangguan kesehatan mental yang mungkin terlihat biasa saja di sekitar kita. Misalnya saja gelaja ini: memiliki pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan, memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, menarik diri dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari, mendengar suara atau mempercayai sesuatu yang tidak benar, atau mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan. Kadang kala ada orang di sekitar kita yang mengalami gejala seperti itu tapi tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius.

“Ah, mungkin dia cuma lagi tidak mood,” atau, “Ah, biarkan saja. Dia saja yang lebay,”

Hal yang tidak kita pahami adalah bahwa bisa saja mereka sedang mengalamai gejala gangguan kesehatan mental yang awalnya ringan, tapi lama kelamaan bisa menjadi berat. Mereka butuh orang-orang yang mengerti. Orang-orang di sekitarnya yang setidaknya bisa menjadi tempat mereka bercerita atau menjadi supporting system mereka ketika masalah kesehatan mental itu perlahan makin menggerogoti.

“Kehilangan ayah tercinta meninggalkan lubang di hati saya, begitu juga rasa bersalah dan trauma yang mengikutinya, meninggalkan pergulatannya sendiri. Melalui pengalaman ini, saya jadi semakin perhatian pada stigma yang ada di seputar isu kesehatan mental dan kesedihan,” kata Lily Cornell Silver lagi.


Postingan Lily di Instagram

Bisa dipahami betapa kehilangan ayah tercinta begitu membekas dalam hidupnya. Sesuatu yang membuatnya berjuang keras untuk mengalahkan trauma. Beruntung karena Lily cukup dewasa menyikapinya dan lalu membangun sebuah platform yang memungkinnya membantu orang-orang yang punya kesehatan mental. Dia tidak mau ada orang yang kehilangan orang tercinta seperti dirinya.

Di Indonesia ada sebenarnya ada juga platform yang mirip. Minimal bisa dipakai untuk berkonsultasi dengan para psikolog atau dokter jiwa. Kita bisa menggunakan aplikasi Halodoc. Di aplikasi itu ada pilihan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau dokter jiwa, tentu dengan jaminan privasi yang terjaga. Bukan apa-apa, soalnya ada juga orang yang segan ke psikolog apalagi dokter jiwa karena takut pada stigma buruk dianggap orang gila. Tapi di Halodoc, setidaknya konsultasi bisa berlangsung dengan santai, tanpa diketahui orang lain dan bisa jadi rujukan untuk tindakan selanjutnya.

*****

Bagaimanapun, gangguan kesehatan mental sebenarnya sangat berbahaya. Sayangnya, dia seperti bahaya yang menyerang dalam senyap. Kadang tidak disadari sampai efeknya jadi sangat mengangetkan. Sudah banyak orang yang kehilangan mereka yang dicintai karena gangguan kesehatan mental ini. Tidak ada cara yang terbaik selain menjadi semakin awas dan waspada pada gangguan kesehatan mental dari orang-orang di sekitar kita, atau kita sendiri. Cari bantuan secepat mungkin, pada siapapun yang bisa dipercaya.

Karena tidak seharusnya kita membiarkan orang-orang yang kita cintai pergi dengan sebab yang tidak menyenangkan. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. entah kenapa artis-artis yang karyanya bagus, banyak yang mengalami gangguan mental. apakah karena gangguna mentalnya tersebut, justru bisa menghasilkan karya yang luar biasa? ?

  2. Seandainya Chris Cornell ninggalin suicide note yang panjang, mungkin kita jadi bisa ngerti sedikit-sedikit tentang alasannya bunuh diri, Daeng. Saya percaya pasti dia punya alasan.

  3. Pasti ada alasan tertentu mengapa ia melakukan hal tersebut, mengalami gangguan seperti ini jika tidak salah masih dalam konndisi sadar. Namun, karena tekanan di sekitarnya membuat semuanya menjadi kacau. Bener banget tuh, perlu ada support system supaya bisa lekas pulih kembali, mereka ingin dimengerti dan didengar.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.