Dinamika Kota

Balada Naik Angkot di Jayapura

Naik angkot ternyata menyenangkan juga. Ada hal-hal seru yang bisa ditemukan dari aktivitas yang sudah lama tidak saya jalani ini.


Suasana di atas angkot

“SIAPA YANG MEROKOK?” Suara itu terdengar meninggi dari arah belakang mobil. Saya belum tertarik untuk mencari tahu asal suara itu. Saya yang duduk di bagian depan mobil sebaris dengan supir tetap duduk tenang. Saya baru tertarik menoleh ke asal suara itu ketika si pemilik suara seperti membentak. “Padam! Padam itu rokok!” Sepertinya dia sedang memerintahkan seseorang untuk mematikan rokoknya. Saya jadi tertarik dan ingin tahu apa yang terjadi. Saya melongok ke belakang dari jendela mobil.

Seorang pria berbadan tambun dengan beberapa tato di lengannya nampak kesal. Pria berkaos oblong warna biru, bertopi dibalik dan celana pendek itu berdiri di samping mobil sejenis L300 bercat putih. Rupanya dia memarahi seorang penumpang yang asyik merokok di dalam mobil angkutan umum itu. Saya taksir dia salah satu calo terminal.

“Kalau tidak mau kasih padam, turun saja! Kau ini naik taksi, ada banyak orang lain juga di atas. Kalau naik Grab boleh,” dia terus bersungut-sungut. Beberapa orang pria mendekatinya, berusaha menenangkannya.

“Sudah, sudah,” kata salah satu dari mereka, berusaha menenangkan si pria tambun yang sedang emosi itu.

Ko itu sudah tua tapi trada otak. Bodok sekali!” Si pria tambun masih kesal.

Sayang saya tidak bisa melihat wajah pria yang dimarahi si pria tambun itu. Mobil itu terlalu penuh, saya tidak bisa melihat lewat kaca spion wajah pria yang kedapatan merokok di dalam angkot. Dia duduk di baris paling belakang, tertutupi oleh penumpang lain.

Kejadian itu tidak sampai berakhir dengan adu mulut apalagi adu fisik. Tak lama kemudian angkot sudah berjalan terseok-seok keluar dari terminal, menuju ke selatan. Ke arah Kotaraja. Di luar sore pelan-pelan berganti menjadi malam.

*****

SEPOTONG FRAGMEN DI ATAS saya temui di suatu sore di terminal Entrop, salah satu terminal penghubung di kota Jayapura. Yah, sejak tahun 2019 saya jadi makin terbiasa menumpang angkot – di Jayapura disebut taksi. Kantor kami memang pindah ke lokasi baru di Polimak, sekira 10 km dari kosan saya di Kotaraja. Sebelum memutuskan untuk pindah kos ke dekat kantor, saya masih mencoba menikmati aktivitas ke kantor dengan menumpang angkot setiap hari. Pergi dan pulang.

Sudah belasan tahun sejak terakhir kali saya menggunakan angkutan umum pergi dan pulang kantor atau untuk aktivitas lain. Sejak punya motor sendiri di awal tahun 2000an, angkot rasanya jadi opsi paling terakhir untuk mendukung mobilitas. Kalaupun motor sedang ngambek, maka opsi lainnya adalah ojek atau belakangan transportasi online.

Lalu tibalah masa ketika saya harus tinggal di Jayapura dan awalnya sesekali saya harus menggunakan angkot.

Dari yang hanya sesekali, hingga masuk tahun 2019 yang membuat saya harus menumpang angkot hampir di setiap hari kerja. Pagi dan sore. Untungnya kantor kami bukan tipe kantor yang mengharuskan karyawannya masuk pagi tepat pukul delapan. Apalagi status saya sebagai konsultan. Tidak penting masuk jam berapa atau berkantor di mana, yang penting kerjaan selesai. Ini sangat menguntungkan karena artinya saya tidak harus keluar di jam sibuk ketika karyawan, anak sekolah, ibu-ibu atau siapapun itu saling berdesakan berebut angkot.

Baca juga analisis saya perihal biaya hidup di Jayapura.

Saya keluar dari kosan biasanya sekitar pukul sembilan pagi. Jalan kaki dulu sejauh 200 meter ke jalan besar sebelum menunggu angkot putih berjenis L300 jurusan Padang Bulan – Entrop. Karena sudah keluar selepas jam sibuk maka biasanya angkot itu juga sudah tidak terlalu penuh. Mudah mencari tempat duduk yang kosong.

Angkot berwarna putih ini seperti umumnya angkot mini bus di tempat lain, didisain dengan kursi penumpang yang menghadap ke depan. Satu baris tepat di belakang supir berisi tiga penumpang, lalu satu baris lagi di belakangnya berisi tiga penumpang juga dan baris paling belakang diisi empat penumpang. Tambahan satu kursi darurat di baris kedua. Di depan, di samping supir biasanya diisi dua penumpang lagi. Benar-benar memanfaatkan semua yang bisa diisi.

Angkot putih L300 itu adalah angkot pertama yang akan membawa saya ke kantor. Setiba di terminal Entrop yang lebih kurang ditempuh 20 hingga 30 menit perjalanan, saya akan berganti angkot lagi. Kali ini jenis Suzuky Carry yang lebih kecil. Posisi kursinya sama dengan L300 tadi, hanya jumlahnya saja yang lebih sedikit. Baris pertama di belakang supir diisi tiga orang, lalu satu baris paling belakang diisi empat orang. Agak berbeda dengan angkot di kota lain yang biasanya dibuat saling berhadapan dengan formasi 4-6.


Suasana terminal Entrop di pagi hari

Pelan-pelan saya mulai merasakan keasyikan tersendiri dengan aktivitas menumpang angkot ini. Ada interaksi antar warga yang bisa saya rasakan. Pun saya jadi bebas melakukan observasi pada keadaan sekitar. Hal yang paling terasa adalah kedekatan dengan orang lain meski jarang sekali saya bertukar sapa apalagi bertukar cerita dengan sesama penumpang. Saya lebih senang mengamati penumpang lain, dari dandanan mereka sampai apa yang mereka obrolkan.

Satu-satunya tantangan ketika menumpang angkot hanya di soal udara gerah yang kadang membuat baju lumayan basah karena keringat. Kondisi ini cukup mengganggu bila harus menghadiri rapat di pagi hari karena walhasil saya akan tiba dengan tampilan yang agak lusuh di tempat pertemuan. Beruntung kalau tidak ada bau yang aneh. Oh iya soal bau. Kadang ada juga momen ketika saya harus menikmati bau keringat penumpang lain. Untungnya ini tidak sering terjadi, atau mungkin karena lama kelamaan saya sudah terbiasa dengan bau-bau khas itu? Entahlah.

Sebagai sesuatu yang berbeda dari hal yang biasanya saya lakukan di Makassar, saya nampaknya mulai menikmati aktivitas naik angkot. Saking menikmatinya, suatu sore ketika pulang kantor saya sudah bisa terlelap di atas angkot dan baru terbangun ketika angkot sudah lewat jauh sekali dari tempat saya seharusnya turun. Ha-ha-ha.

Untuk sementara, saya akan coba menikmati aktivitas ini. Entah sampai kapan. Bagaimana dengan kalian? Masih sering naik angkot? [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (14)

  1. lelakibugis.net

    saya jarang naik angkot tapi mengurus 10 angkot alias pete-pete kalau kami di Makassar menyebutnya.

  2. Duluji sering naik angkot pas jaman kuliah dan masih tinggal di daerah cendrawasih. Naik angkot sangat banyak manfaatnya utamanya perjalanan jauh. Ketika berangkat ke kampus dan dihari ujian, saya sangat merasakan manfaat naik angkot. Selama perjalanan, saya bisa belajar untuk ujian pagi itu. Paling tidak bisa menjawab soal ujian 50-70% ?. Kalau pulang, paling nikmat duduk dibelakang sambil tiduran ?

  3. Saya terakhir naik angkot saat kapal sandar di Kendari. Beruntung saya pernah lama di sana jadi tidak perlu khawatir dengan takut nyasar.

    Postingan yang menarik terutama yang punya rencana melancong ke Papua.

  4. padahal kukira tidak ada angkot di sana kak, kirain kayak bentor ji gitu yang ada, eh ternyata ada tawwa..bdw berapa rupiah kak sekali perjalanan ??

  5. Terakhir naik pete-pete pas hamil, setelah bocah lahir dak pernah mi lagi. Kadang rindu juga naik pete-pete ia, suka ka saat duduk di sudut belakang terus mengamati orang-orang atau nguping pembicaraan mereka. Tapi susah kayaknya kalau ada bocah.

  6. Pernahka naik angkot di Papua. Lagi cari alamat karena waktu itu baru sampai. Baek sekali Pak Sopirnya, dia yang sibuk tanya tempatnya itu orang yang saya mau datangi.saya duduk santaiji sampai turun didepan rumah orang yang saya cari.

  7. Angkotnya persis di Balikpapan ini. Disebut taksi dan tempat duduknya berbaris-baris menghadap depan semua.

    Saya ndak pernah naik angkot di Mataram, soalnya jalurnya ndak jelas. Eh tapi seringnya sih dari satu pasar ke pasar yang lain. Ndak seperti di Makassar, mau ke mana-mana bisa pakai pete-pete. Semua jalan dilewati.

  8. Terakhir naik pete-pete kemarin sore, hahaha. Saya masih lebih memilih angkot kalau tidak terburu-buru dan nda hujan. Lebih hemat dan seru. Saya suka mengamati orang-orang yang naik angkot atau nguping apa yang mereka obrolkan. Salah satunya rombongan anak SMA yang dengan semangat bilang kalau hape V**o lebih bagus daripada ipong karena Agnez Monica pake itu bede. ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.