Internet

YouTube Lebih Baik Dari TV?

Sepertinya memang perlahan-lahan, YouTube sudah mulai menyamai fungsi televisi. Bahkan banyak yang percaya kalau sudah melebihi televisi.

Pernah dengar jargon “YouTube Lebih Dari TV?” Kalau kalian mengikuti perkembangan YouTube sejak sekitaran 2015, maka mungkin kalian akrab dengan jargon itu. Entah siapa yang memulai, tapi jargon itu digunakan banyak youtuber  yang eksis di zaman itu. Mereka percaya diri bahwa YouTube adalah masa depan media audio visual yang akan mengalahkan televisi.

Di masa itu, YouTube dengan para content creator-nya memang mulai merebut perhatian para penikmat audio visual. Beragam konten bermunculan dan menjadi pilihan utama menggantikan televisi yang oleh beberapa kalangan mulai dirasa ketinggalan zaman. Hasilnya, para content creator itu mulai menjadi selebriti baru yang menuai ketenaran dan tentu saja cuan.

Orang TV Masuk ke YouTube

Tahun berlalu, YouTube ternyata semakin tenar dan sepertinya benar-benar mulai “menggelitik” pegiat televisi. Sampai kemudian, beberapa pegiat televisi mulai melirik platform tersebut dan menjadikannya arena bermain yang baru.

Pelan-pelan, satu per satu pegiat televisi mulai memalingkan wajahnya ke YouTube. Mungkin awalnya hanya merasa perlu untuk tetap menjaga ketenaran dengan menggunakan platform yang sedang naik daun itu. Mungkin mereka awalnya belum yakin kalau platform itu bisa menghasilkan uang sebesar televisi.

Lalu pelan-pelan pegiat televisi seperti Baim Wong, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Andre Taulany, dan banyak lagi lainnya mulai serius terjun ke YouTube. Dengan bekal ketenaran mereka di televisi maka dengan sangat mudah mereka juga menggaet ketenaran di YouTube. Dalam waktu singkat, kanal mereka mendapatkan banyak subscriber dan video-video mereka ditonton ribuan, bahkan jutaan kali dalam waktu singkat.

Beberapa dari mereka kemudian mengaku kalau ternyata cuan dari akun YouTube cukup besar, bahkan mungkin menyamai cuan dari acara televisi mereka. Raffi Ahmad pernah bilang, awalnya dia dengan sukarela menyerahkan semua penghasilan YouTube miliknya kepada sang istri, karena dia sangka besarnya tidak akan seberapa. Belakangan dia kaget karena ternyata penghasilan di YouTube miliknya sangat besar.

Ketika musim pandemi datang, para selebriti televisi yang pindah ke YouTube semakin banyak. Formatnya pun beda-beda. Dari vlog pribadi sampai kemasan talk show. Dan perlahan-lahan dengan modal popularitas yang sudah tinggi dan kemampuan di depan kamera yang sudah terasah, konten mereka pun dengan cepat meraih popularitas di YouTube. Mengalahkan para youtuber asli yang dari awal membangun karir dari nol. Mereka kalah modal tentu saja. Makanya tidak heran sempat muncul semacam keresahan dari content creator yang merasa mereka terganggu oleh para selebriti televisi yang masuk ke YouTube.

Format TV di YouTube

Gesekan antara content creator lama dengan para selebritis yang baru terjun ke YouTube itu tidak berlangsung lama, hanya berlangsung sekejap sebelum akhirnya semua berangsur-angsur berjalan seperti biasa. Mereka masing-masing punya lahan sendiri yang bisa digarap dan seharusnya bisa berjalan berdampingan.

Kehadiran para pegiat televisi ke YouTube ini memang pelan-pelan membuat YouTube semakin ramai dan penuh dengan konten yang bisa dibilang tidak berbeda jauh dengan konten televisi. Dari kehidupan keseharian artis, gimmick-gimmick a la televisi, sampai sajian talk show. Penggarapannya juga semakin serius karena para selebriti televisi itu banyak membawa kru-kru televisi mereka juga.

Pelan-pelan, beberapa konten di YouTube itu bahkan benar-benar terasa seperti mengalahkan konten televisi. Sebut saja konten podcast milik Deddy Corbuzier. Keberhasilannya mengundang beberapa public figure yang sedang ramai diperbincangkan membuat konten podcast Deddy Corbuzier sangat mampu menarik perhatian orang. Ditonton jutaan kali dan diperbincangkan di mana-mana, dari media sosial sampai media arus utama.

Lalu beberapa waktu lalu, kanal Vindes milik Vincent dan Desta menggelar pertandingan amatir tenis meja antara Desta vs Abdel Achrian. Penggarapannya cukup serius, bahkan sebuah akun menyebutnya sebagai pertandingan amatir yang dipersiapkan secara profesional, berbeda dengan pertandingan profesional yang dipersiapkan secara amatir.

Kalau merasa pertandingan itu sudah luar biasa, maka lihatlah pertandingan lain yang digelar oleh kanal Deddy Corbuzier. Pertandingan tinju antara Azka Corbuzier melawan Vicky Prasetyo yang berhasil menarik atensi jutaan orang yang menyaksikannya secara langsung. Ini jauh lebih luar biasa. Oh iya, ini bukan pertandingan olahraga pertama yang digelar kanal Deddy Corbuzier. Sebelumnya dia sudah pernah menggelar pertandingan catur antara Dewa Kipas vs GM Irene Sukandar.

Tiga contoh pertandingan di atas hanya contoh kecil bagaimana konten di YouTube benar-benar sudah bisa menyaingi konten di televisi.

Acara Ramadan di kanal Vindes

Di bulan Ramadan ini, kanal Vindes menggelar dua acara bertema Ramadan yaitu Sahur Nih Ye dan Buka Nih Ye. Walaupun tidak disiarkan tiap hari, tapi format acara Ramadan yang dibuat duo mantan anggota Club 80’s ini mendapat banyak atensi publik. Banyak yang mengapresiasi ide mereka yang dianggap benar-benar segar dan sudah bisa disandingkan dengan acara Ramadan milik stasiun televisi. Padahal dari sisi bajet, jelas acara Ramadan milik Vindes jauh beda. Terlihat dari set yang mereka bangun dan beberapa kesalahan teknis khas tim yang belum profesional. Namun, justru itu yang membuat acara Ramadan milik Vindes terlihat begitu natural dan dekat dengan penonton.

*****

YouTube akan mengalahkan televisi? Saya percaya iya, tapi mungkin belum dalam waktu dekat. Buat sebagian orang – termasuk saya – menonton televisi memang sudah jadi urutan kesekian dibanding menonton YouTube. Tapi, pasarnya masih sempit dan sangat spesifik. Masih belum seperti televisi yang pasarnya masih sangat besar. Tapi seiring dengan semakin membaiknya jaringan internet Indonesia dan literasi digital, maka sepertinya bukan tidak mungkin suatu hari nanti YouTube benar-benar akan mengalahkan televisi, di semua wilayah. Bukan hanya di perkotaan.

Sebelum waktu itu tiba, kita nikmati saja keduanya sesuai peruntukannya. YouTube untuk mencari hiburan dan berita, sementara televisi untuk… untuk menonton pertandingan sepak bola. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Makin ramai youtube, makin seru persaingannya. Sebagian tetap bilang jika TV mempunyai segmen tersendiri karena tidak butuh data internet dan yang lainnya. Tapi semakin ke sini, kita tahu pergeseran itu sudah terlihat secara berlahan.

  2. Maka akhirnya pesawat televisi bukan untuk menerima siaran dari stasiun melainkan untuk menampilkan streaming content, bahkan pada era TV biasa untuk ekstensi layar ponsel melihat Netflix dlsb.

  3. Youtube punya banyak kelebihan, terutama di faktor interaktivitas, bisa dimainkan ulang, dan gampang ditonton sambil rebahan..

    TV, dengan segala keterbatasannya kesulitan mengikuti, karena lagi-lagi terbatas di teknologi yang memang tidak dirancang seperti Youtube.

    perkara audiens, dulu radio digadang-gadang bakal mati karena televisi. kini sedikit bertranformasi ke siniar (beberapa lembaga penyiaran publik juga ikut bikin siniar).. intinya ya kudu terus berdaptasi, sih..

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.