Cerita Ringan

Menjadi Bapak Rumah Tangga

Menjadi suami memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah kebiasaan mengerjakan pekerjaan rumah tangga buat sebagian orang. Termasuk kami.

Salah satu hal yang paling berubah dalam kehidupan saya setelah menikah adalah; mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan sehari-hari seperti mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mengepel, dan macam-macam pekerjaan rumah tangga lainnya. Termasuk memasak. Saya bilang ini adalah perubahan cukup besar karena sebelum menikah saya tidak pernah melakukannya.

Saya besar sebagai anak sulung laki-laki, laki-laki satu-satunya dengan tiga adik perempuan. Saya juga besar dalam keluarga suku Makassar yang masih cukup patriarkis. Dan seperti umumnya keluarga Bugis-Makassar, laki-laki cukup diharamkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Laki-laki hanya bertugas untuk mencari uang, mencari nafkah bagi keluarga. Di rumah, laki-laki hanya bertugas ketika ada pipa yang bocor, ada lampu bohlam yang harus diganti, atau ada atap yang bocor. Pokoknya pekerjaan yang dianggap membutuhkan kekuatan fisik. Bukan pekerjaan ringan seperti yang umumnya dikerjakan oleh ibu-ibu.

Jadi sebagai seorang laki-laki dalam sebuah rumah tangga yang didominasi perempuan, saya pun seperti dijauhkan dari pekerjaan rumah tangga. Malah, saya merasa seperti seorang raja kecil.

Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Ketika akhirnya menikah dan pisah rumah, saya mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari yang paling kecil dulu seperti menyapu dan mengepel, lalu berlanjut ke mencuci piring, mencuci pakaian, dan akhirnya belajar memasak.

Apalagi ketika istri hamil dan melahirkan. Tentu dia punya keterbatasan fisik sebagai ibu hamil dan menyusui. Beberapa pekerjaan rumah tidak bisa lagi dia kerjakan seperti biasa, dan saat itulah saya mulai semakin sering melakukan pekerjaan rumah tangga.

Ibu pernah datang ke rumah dan mendapati saya melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Dia bahkan sempat berkomentar, “Dulu dia (saya maksudnya) tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Bapaknya sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan seperti itu.”

Saya tidak tahu apakah ada nada kebanggaan di dalam kalimatnya atau murni karena ingin berkomentar saja.

Sampai sekarang pekerjaan rumah tangga masih kerap saya lakukan meski tidak seintens dulu karena di rumah sudah ada yang membantu. Mungkin saya baru mulai intens ketika di perantauan, tentu saja karena tidak ada orang lain yang mengerjakannya. Jadi saya harus turun tangan.

Bedanya Laki-laki Zaman Sekarang

Zaman sekarang, laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah tangga mungkin sudah dianggap biasa. Baik laki-laki bujangan maupun yang sudah menikah. Sudah jamak kita temukan laki-laki yang menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan piring, bahkan laki-laki yang memasak.

Laki-laki yang bisa memasak malah menjadi semacam “new sexy” buat para perempuan zaman sekarang. Mereka banyak yang terkagum-kagum dan bahkan jatuh cinta pada laki-laki yang bisa memasak. Sesuatu yang cukup berbeda dengan keadaan dua puluh atau tiga puluh tahun lalu.

Dulu laki-laki yang rajin memasak (dan bukan sebagai profesi) bisa saja mendapatkan stempel jelek dari masyarakat. Dianggap sebagai laki-laki yang kemayu. Padahal kan sama sekali tidak berhubungan.

Untunglah  sekarang semua sudah berubah. Kesetaraan gender di bidang pekerjaan rumah tangga mulai lazim. Laki-laki memasak sudah tidak asing lagi, begitu juga dengan laki-laki yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

*****

Laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini menjadi salah satu bahasan kami di Podcast Cerita Makassar. Kami – saya, Anchu, dan Iyan – lahir dalam keluarga suku Bugis-Makassar yang masih konservatif, masih menempatkan laki-laki sebagai pihak yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setelah menikah, kami menjadi lebih sering mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan, Anchu yang bisa dibilang memusuhi nasi, tidak pernah makan nasi, dan bahkan dulu mencium bau nasi pun bisa mual, sekarang sudah bisa memasak nasi. Sungguh sebuah kemajuan.

Jadi memang benar, status sebagai suami memang bisa mengubah banyak hal. Salah satunya adalah menjadi laki-laki yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Untunglah saya terbiasa dengan sebagian dari kesibukan domestik itu.
    Saat pandemi tanpa ART saya menjadi bapak rumah tangga. 🙂

  2. Saya sendiri belum menikah, jadi belum tahu bagaimana ahhahah. Tapi kalau urusan masak dan lainnya, saya rasa bisa untuk dicoba nanti. Udah kepikiran mau sesekali menjadi orang yang mengurusi dapur, meski nggak tiap hari

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.