Pikiran

Butuh atau Pengen?

Dulu saya adalah seorang yang sering impulsif ketika akan membeli barang. Tapi sekarang, rupanya saya sudah berubah.

Beberapa hari ini saya sedang rajin membuka marketplace dan mencari dengan kata kunci “tas laptop”. Semua bermula dari keinginan yang datang tiba-tiba untuk mencari tas laptop jenis ransel. Tidak ada alasan khusus, semua tiba-tiba saja. Mungkin karena memang sudah lama rasanya saya tidak membeli tas ransel baru, utamanya tas laptop. Tas laptop yang saya pakai sekarang seingat saya dibeli sekitar tahun 2015, sudah lumayan lama juga.

Lama berselancar di marketplace, tapi koq rasanya belum ada yang pas di hati.

Rata-rata bentuknya tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Begitu juga dengan fungsinya. Saya lebih suka tas yang agak kasual dan tidak formil, atau bahkan lebih mirip tas travel.

Lama mencari-cari tas, tiba-tiba saya berpikir, “Kenapa harus beli tas baru ya?”

Entah kenapa, pikiran itu tiba-tiba muncul. Saya langsung menimbang-nimbang, tas yang saya punya masih bagus. Masih sangat berfungsi, dan masih nyaman. Pokoknya tidak ada masalah. Lalu, di lemari pun masih ada beberapa tas yang bisa berfungsi sama. Bentuknya juga masih sama-sama bagus dan tidak ada masalah.

Belanja Impulsif

Saya besar di keluarga yang biasa saja. Tidak bisa dibilang kaya, tapi tidak bisa juga dibilang miskin. Setidaknya makanan kami sehari-hari masih selalu tersedia dan tidak ada juga adegan harus menunggak uang sekolah karena tidak ada uang.

Karena itu juga, tidak ada adegan saya bisa berbelanja apa-apa saja yang saya suka atau barang-barang yang sedang tren di kalangan anak-anak muda. Tidak ada uang lebih untuk berbelanja barang-barang seperti itu.

Ketika akhirnya bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, saya mulai berbelanja barang yang saya inginkan. Bahkan melebihi apa yang saya butuhkan. Sebagian besar memang barang-barang pakaian bekas atau yang di Makassar disebut cakar. Barang murah, tapi kualitasnya bagus. Makanya saya seperti keranjingan.

Ada masa ketika saya begitu sering mendatangi pusat penjualan cakar. Belanja barang-barang yang dulu saya inginkan, tapi tidak bisa saya beli. Paling sering adalah jaket. Ternyata saya suka sekali sama jaket, dan karena harganya murah mulailah saya membelinya satu per satu. Bahkan melampaui jumlah yang saya butuhkan. Saya bisa mengganti jaket setiap hari selama sebulan penuh. Sebagai gambaran banyaknya jaket yang saya punya.

Belakangan ketika keuangan sudah lebih longgar, bertambahlah keinginan saya berbelanja.

Awalnya cuma jaket dan pakaian seperti celana cargo atau kemeja, kemudian bertambah menjadi sepatu dan jam tangan. Iya, saya mulai merasa lemah di atas dua benda itu.

Maka mulailah saya rajin membeli beragam sepatu atau jam tangan. Jam tangan mungkin tidak terlalu banyak karena harganya yang tidak selalu murah. Tapi sepatu, saya lumayan sering membelinya. Utamanya ketika mampir di toko olahraga yang sedang memberi diskon. Lumayan, bisa dapat sepatu yang lumayan bagus dengan harga ratusan ribu.

Itu belum termasuk beberapa sepatu yang saya dapat di cakar juga. Sepatu bagus dan aslinya mahal, tapi bisa dibeli dengan harga murah karena sudah jadi barang bekas.

Pokoknya benar-benar belanja impulsif. Apalagi belakangan ada lagi hobi baru: membeli tas. Paling sering adalah tas ransel atau tas selempang. Kebiasaan ini juga cukup menguras kantong karena begitu melihat tas yang lumayan bagus tapi masih tergolong murah, tangan ini gampang saja mencabut dompet dan menebusnya.

Mulai Sadar

Orang bilang, seiring bertambahnya usia maka kebijaksanaan juga mulai tumbuh. Rupanya saya juga begitu.

Mulailah muncul pikiran: apakah benda ini memang saya butuhkan, atau tidak? Atau, kenapa harus beli baru, masih ada yang lama dan bisa dipakai. Pokoknya, ketika berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau ke pusat penjualan cakar, pikiran itu sudah kerap mucul.

Masih banyak barang yang saya suka, harganya murah, dan sebenarnya bisa saya beli. Tapi, tiba-tiba pikiran itu muncul di kepala. Pikiran yang mengerem keinginan untuk membeli. Sebagian besar keinginan berbelanja itu memang berhasil saya rem. Tapi kadang saya masih bablas juga ketika melihat barang yang sebenarnya mahal tapi dijual murah di cakar.

Tapi pada dasarnya saya mulai merasa kalau saya sudah tidak seimpulsif dulu lagi. Mulai mempertimbangkan, apakah barang ini saya butuhkan atau cuma karena saya inginkan?

Saya tiba-tiba merasa tidak seperti dulu lagi, masa ketika melihat barang bagus dan masih terjangkau, tanpa berpikir panjang langsung menebusnya. Sekarang, setiap melihat barang bagus dan terjangkau pikiran pertama yang muncul di kepala adalah “Butuh nda ya?” Atau, “Eh, di rumah kan masih ada barang yang mirip ini.”

Pokoknya sudah benar-benar banyak berpikir.

*****

Saya tidak hendak menghubungkan perubahan saya ini dengan hal-hal berbau agama. Saya tidak terlalu paham soalnya. Saya hanya melihat fenomena ini lebih kepada usia saja. Karena sudah lebih tua, jadi lebih bijak dalam memutuskan sesuatu. Tidak lagi impulsif seperti dulu ketika masih muda. Sekarang ketika akan membeli barang, pikiran utama saya adalah butuh atau tidak? Bukan mau atau tidak.

Hidup memang sudah berubah. Entah itu berubah lebih baik, atau tidak. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (4)

  1. Setiap orang, eh banyak orang, akan sampai pada kesadaran ini. Setahun lebih pandemi, sehingga banyak orang lebih sering di rumah, terlihatlah sepatu sampai baju dan topi bahkan arloji yang menganggur. 🙂

  2. Nah ini yang juga kepikiran sama aku. Tiap buka aplikasi lokapasar, yang dalam benakku lebih pada aku ingin, bukan aku butuh. Jadinya sekarang mengurangi buka aplikasi. Siapa tahu uangnya dapat ditabung buat nikah *eh

  3. pertambahan usia sama dengan bertambahnya tanggung jawab. akhirnya pertimbangan juga bertambah banyak. mungkin begitu daeng. heheheh

  4. wah, hal ini memang sulit untuk dibedakan.. kadang cuma laper mata aja ya :’)

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.