Sepakbola

Rivalitas Ronaldo vs Messi, Rivalitas Terpanjang

Rivalitas dua pemain sepak bola kelas atas yang dalam ingatan saya bertahan paling lama sejauh ini.

Saya masih ingat final EURO 2004 yang mempertemukan tuan rumah Portugal melawan Yunani. Sepertinya sebagian besar pecinta sepak bola mengunggulkan Portugal yang akan menjadi juara. Mereka punya skuad berkualitas, golden generation seperti Luis Figo, Rui Costa, Deco, Nuno Gomez, dan banyak lagi. Sementara Yunani? Mereka hanya punya pemain-pemain yang nama belakangnya berakhiran “S” dan kadang susah dieja.

Portugal masuk ke final di hadapan pendukung mereka sendiri dengan permainan yang menawan, maklum mereka sedang ada di puncak golden generation, sementara Yunani bisa dibilang terseok-seok. Sepanjang turnamen, Yunani lebih banyak mengandalkan permainan bertahan dan unggul dengan satu gol. Termasuk ketika mengandaskan salah satu favorit juara: Perancis.

Bayangan orang tentang kemenangan Portugal di final ternyata berkebalikan dengan kenyataan. Malah Yunani yang berpesta dengan sebiji gol yang mengandaskan mimpi tuan rumah Poprtugal. Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah tangisan seorang anak muda 19 tahun bernama Cristiano Ronaldo.

Saat itulah dunia pertama kali mengenal sosok Cristiano Ronaldo, pemain muda Portugal yang tahun itu menjadi milik Manchester United.

Sisanya adalah sejarah.

Fenomena Ronaldo dan Messi

Di tahun yang sama, seorang bintang lain muncul. Dari tim Barcelona di tanah Catalan, seorang remaja usia 17 tahun bernama Lionel Messi bermain untuk pertama kalinya bagi tim senior Barcelona. Dia produk asli akademi Barcelona dan dengan kemampuannya yang memikat dia mendapatkan promosi untuk masuk ke utama, meski awalnya cuma sebagai pengganti.

Messi baru menjadi pilihan utama tim Barcelona setahun kemudian di musim 2005-2006. Kecepatan dan kecerdasannya mengolah bola dengan cepat menjadi magnet bagi para pecinta bola. Awalnya bermain bersama pemain besar seperti Ronaldinho dan Eto’o, pelan-pelan Messi menjadi pusat orbit tim Barcelona. Utamanya di bawa pelatih Pep Guardiola yang meneruskan tongkat estafet dari Frank Rijkaard.

Keseluruhan tim dibangun di sekitar Messi. Eto’o dan Ronaldinho dilepas, bahkan Zlatan Ibrahimovic yang sempat bermain di Barcelona pun tidak mendapat keistimewaan seperti Messi. Zlatan hanya setahun bersama tim merah-biru, tapi Messi terus bertahan.

Di sisi lain benua biru – tepatnya di Manchester – Cristiano Ronaldo juga perlahan menjelma menjadi pemain kelas atas. Ronaldo makin mengkilap bersama Manchester United, termasuk menjadi tulang punggung tim itu meraih juara Liga Premier Inggris dan Liga Champions Eropa.

Bedanya, bila Barcelona terkesan membangun seluruh tim dengan Messi sebagai pusat orbitnya maka tidak dengan Manchester United.

Manchester United masih ditangani Sir Alex Ferguson yang punya prinsip: tidak ada pemain yang lebih besar dari klub. Ronaldo memang bagus, luar biasa, tapi dia tidak diistimewakan. Dia tetap harus bekerja keras untuk menjadi pilihan utama karena Sir Alex tidak pernah mengistimewakan salah satu pemainnya. Bahkan konon suatu waktu Sir Alex memarahi Cristiano, mengingatkannya kalau dia di tim berisi pemain-pemain terbaik. “Kamu bukan satu-satunya pemain terbaik di sini,” kata Sir Alex.

Di luar perbedaan itu, dunia harus mengakui kalau fenomena Ronaldo dan Messi mulai muncul.

Rivalitas Dimulai

Karena Ronaldo tidak lebih besar dari klub, jadi Manchester United rela saja melepaskannya ke Real Madrid di musim 2009-2010 dengan bayaran setimpal. Messi, dia tetap bertahan di Barcelona karena klub itu memang selalu memasang pagar tinggi untuk aset terbesar mereka.

Kepindahan Ronaldo ke Real Madrid semakin menebalkan rivalitas kedua bintang ini. Real Madrid dan Barcelona adalah dua klub dengan persaingan berkarat sejak turun temurun. Semakin dipertajam lagi dengan keberadaan dua bintang yang sedang bersinar itu.

Sejak 2008 pun, rivalitas kedua orang ini semakin terlihat lewat perolehan Ballon D’or. Bergantian mereka menjadi penguasa penghargaan tertinggi pesepakbola dunia itu. Mereka pun digelari para alien di dunia sepak bola. Pemain sepak bola dengan kasta lebih tinggi dari pemain lainnya.

Para penggemar pun selalu membanding-bandingkan mereka berdua. Ketika Ronaldo meraih Ballon D’or atau gelar bersama klubnya, para penggemarnya akan mencela Messi. Begitu juga sebaliknya.

Rivalitas yang Panjang

Setidaknya sampai musim 2020/2021 persaingan antara kedua bintang itu masih dianggap berlanjut. Ketika Messi akhirnya meraih juara Copa America bersama Argentina, pendukungnya bersorak riang. Akhirnya Messi bisa menyamai perolehan Ronaldo yang sudah lebih dulu membawa negaranya menjadi juara di tingkat regional. Salah satu prestasi yang memperbaiki citra Lionel Messi yang sebelumnya dianggap belum sempurna.

Seingat saya, dalam dunia sepak bola tidak ada rivalitas yang panjangnya sama seperti rivalitas Messi dan Ronaldo.

Sebelum mereka berdua ada di puncak, tidak ada rivalitas sepanas ini. Memang ada pemain sepak bola yang ada di puncak, tapi biasanya mereka sendirian. Tidak ada rival yang dianggap setara.

Sebut saja Kaka, “manusia” terakhir yang meraih Ballon D’or sebelum dikuasai dua “alien” ini. Di puncak karirnya, Kaka nyaris sendirian. Ronaldo dan Messi baru merintis karir, Ronaldinho sedang berada di kurva yang menurun, dan pemain lain tidak ada yang benar-benar sama kualitasnya dengan Kaka.

Tarik ke belakang, ketika Ronaldinho sedang di puncak katakanlah ada pemain seperti Andriy Shevchenko, Pavel Nedved, atau Frank Lampard yang juga sedang bagus-bagusnya. Tapi persaingan mereka cuma berlangsung sebentar, itupun tidak head to head. Lebih seperti bergantian.

Sebelum Ronaldinho ada Ronaldo Nazario da Lima yang juga pernah menyandang gelar The Phenomenon, sang fenomenal. Tapi, saat itu dia juga bisa dibilang sendirian. Ketika pemain lain seperti Zidane, Luis Figo, atau Rivaldo mulai naik ke puncak, Ronaldo mulai turun. Jadi mereka tidak pernah benar-benar menjadi rival.

Sangat berbeda dengan kondisi Ronaldo dan Messi. Mereka konsisten ada di puncak selama lebih dari 10 tahun. Tidak pernah benar-benar turun jauh meski pemain-pemain bagus lainnya mulai muncul. Ini yang menyebabkan rivalitas mereka jadi awet dan menurut saya jadi rivalitas paling panjang antara dua pemain sepak bola.

Ronaldo pun mengakui, rivalitasnya dengan Messi membuatnya menjadi pemain terbaik. Maklum, dia memang orang yang sangat kompetitif dan tidak mudah menyerah.

*****

Di musim 2021/2022 ini, Lionel Messi memang sudah tidak di Barcelona lagi. Dia sudah berkostum Paris Saint Germain, meninggalkan klub yang sudah belasan tahun dihuninya. Ini jadi ujian untuk dia, apakah dia tetap bisa berada di puncak dengan klub yang berbeda? Kalau melihat komposisi PSG dan persaingan Liga Perancis sepertinya tidak akan sulit untuk Messi membawa klubnya menjadi juara. Tapi, belum tentu untuk level Eropa.

Sementara itu, Ronaldo kembali ke cinta pertamanya; Manchester United. Lewat saga transfer yang riuh menjelang penutupan jendela transfer, Ronaldo memutuskan kembali ke klub yang mengawalnya ke puncak. Setelah sukses merantau ke Spanyol dan Italia, sekarang dia kembali ke Manchester. Kembali ke “rumah”, kata orang.

Kedua “alien” ini memang sudah tidak muda lagi, sudah berada di penghujung karir mereka. Tapi dunia pasti akan mencatat bahwa dunia sepak bola pernah punya dua “alien” dengan rivalitas yang sungguh luar biasa. Rivalitas papan atas yang konsisten hingga belasan tahun. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.