Perjalanan

Ini Medan, Bung!

Ini Medan

Akhirnya saya ke Medan juga dan membuktikan apakah benar jalanan Medan sama seperti di Makassar.

Saya pernah bilang, di antara kota besar di Indonesia yang pernah saya datangi, Makassar adalah kota dengan perilaku berlalu lintas paling buruk. Selap-selip sembarangan, klakson rajin menyalak, lampu merah diterobos, tidak mau mengalah, dan semacamnya. Sudah banyak ibu kota provinsi yang saya datangi di Indonesia, dan saya bisa bilang Makassar memang yang paling buruk.

“Sudah pernah ke Medan?” Tanya seorang kawan.

“Belum,” jawab saya.

“Coba ke Medan, di sana juga sama parahnya,” kata dia.

Dan sejak itu saya penasaran, seberapa buruk lalu lintas di Medan kalau dibandingkan dengan Makassar.

Akhirnya ke Medan

Awal Oktober tahun ini saya akhirnya tiba di Medan. Pertama kalinya menginjakkan kaki di ibu kota Sumatera Utara yang terkenal sebagai kotanya pasukan bermarga. Dari bandara Kualanamu yang ternyata jauh dari pusat kota Medan itu saya menyewa sebuah mobil. Dan dengan mobil itulah saya menuju pusat kota Medan.

Perjalanan lancar, jalanan sepi karena kebetulan itu hari Minggu. Supir memutuskan untuk tidak masuk tol dengan alasan, “Jalanan sepi. Tidak usah masuk tol ya.”

Sepanjang jalan kami berbincang-bincang. Sebagai orang yang baru tiba di Medan, saya tentu banyak bertanya tentang kota ini. Kebetulan supirnya juga enak diajak ngobrol. Banyak hal yang kami obrolkan. Dari suasana Medan, dari budaya orang Batak – kebetulan dia juga orang Batak, hingga bagaimana orang Batak begitu berani merantau.

Saat kami sedang asyik berbincang, tiba-tiba sebuah motor dari sebelah kanan kami memotong jalan dan menepi. Tanpa aba-aba, bahkan tanpa melihat ke belakang seolah-olah mobil yang kami tumpangi itu adalah mobil tak kasat mata. Supir tentu saja harus mengerem mendadak kalau tidak mau menabrak motor itu. Saya ingat penumpangnya dua orang anak muda tanpa helm. Sekilas saya menyangka mereka sengaja memotong jalan kami karena mau memberhentikan, tapi ternyata tidak. Mereka punya urusan sendiri dan memang tidak peduli saja.

Si supir terlihat kesal dan tentu saja mengumpat. Tapi cuma sebentar lalu meneruskan perjalanan.

“Begitulah Medan bang, orang-orang bawa kendaraan seperti tidak ada otak,” kata si supir.

Selamat datang di Medan, kata saya dalam hati.

Jalanan Medan di suatu Sore

Merasakan Jalanan Medan

Beberapa hari kemudian saya benar-benar merasakan jalanan Medan dalam arti sesungguhnya. Bersama teman-teman kami menyewa mobil dan saya yang didapuk menjadi supir. Kami berkeliling di kota Medan dan sekaligus ke Samosir, tujuan paling terkenal di Sumatera Utara.

Di momen itulah kami merasakan kerasnya jalanan Medan dan sekitarnya. Saya benar-benar harus berhati-hati kalau tidak mau bersenggolan dengan kendaraan lain, pun harus bersabar dengan ulah pengendara lain yang bisa dengan seenaknya melintas dan memotong jalan. Ketika mau menyeberang saya harus benar-benar punya tekad kuat, karena kalau tidak saya akan tetap di jalan dan tidak menyeberang karena tidak ada kendaraan yang mau berhenti memberi jalan.

Sekali waktu ketika lampu lalu lintas menyala hijau, saya agak terlambat mengoper gigi. Hanya sedetik, tidak sampai semenit. Tapi, dari belakang suara klakson mobil sudah menyalak kencang. Seolah-olah meminta saya buru-buru jalan. Hanya sedetik loh!

“Sabar bang, ya Allah,” kata saya. Benar-benar terasa terintimidasi karena suara klakson dari belakang itu.

Itu baru satu kejadian. Berikutnya ketika menuju ke Samosir, sepanjang jalan berkali-kali saya dan kawan-kawan merasakan ganasnya jalanan Medan. Beberapa kali kami harus beristigfar atau kadang tertawa saja melihat bagaimana ganasnya pengguna jalan di Medan dan jalur ke Samosir. Mereka sangat berani, menyalip seperti tanpa rasa rakut, berpindah jalur seenaknya, klakson yang sangat ramai. Pokoknya benar-benar membuat kita harus waspada.

Sekali waktu di sebuah pertigaan, sebuah motor hendak menyeberang. Saya berhenti memberinya jalan. Pengendara motor itu bukannya berjalan, malah berhenti dan melihat seperti tidak percaya. Saya rasa dia heran, koq ada yang mau memberi jalan tanpa dia harus berusaha dulu?

Satu sisi kota Medan

Feels Like Home

Akhirnya kata-kata teman saya terbukti. Medan dan Makassar rasanya 11-12, cuma kadang kala Medan yang 12. Saya akhirnya menemukan tandingan kota Makassar dalam hal kualitas pengguna jalan. Ketika bilang ke teman orang Medan soal itu, dia cuma bilang, “Ini Medan, Bung!” sambil tertawa.

Yah, ini Medan Bung! Kota yang terkenal dengan orang-orangnya yang keras, sama seperti Makassar. Sepertinya hal itulah yang membuat Makassar dan Medan sama, sifat orang-orangnya yang keras. Berkendara di Medan buat saya rasanya hampir sama dengan berkendara di Makassar. Ketika teman-teman yang datang dari kota lain terkaget-kaget, saya cuma tersenyum dan dalam hati berucap, “I feels like home.” [dG]

About Author

Daeng Ipul Makassar
a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Itulah medan 11 12 memang seperti di makassar bang???? pas awal saya datang ke makassar merasakan begitu juga. Kok sama kayak di medan ya. Tapi di medan itu segala macam nama binatang bisa disebutkan.
    Selain, gak ada otak kau ya.
    Pasti ada lagi nih yang bilang, Jalan tuh pake biji mata. Terus disambung dengan nama binatang lah tuh????

    Kayak lagi darah tinggi, emosi terus jika di senggol. Yang katanya kota para ketua

  2. Rahmiana Rahman

    Kak, kenapa sekalian tidak sampai ke Aceh?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.