Pikiran

Latto-latto; Fenomena Unik di Zaman Digital

Sebuah fenomena yang menurut saya menarik. Kehadirannya mengubah pola komunikasi yang umum.

Oktober 2022, saya menginap di sebuah hotel di Makassar yang letaknya tepat di samping sebuah sekolah dasar. Pagi hari sekolah itu mulai ramai. Suara riuh anak-anak sekolah terdengar hingga masuk ke kamar saya di lantai 5. Berbaur dengan suara kendaraan yang samar terdengar dari jalanan yang mulai ramai di pagi hari.

Tak-tuk-tak-tuk-tak-tuk!

Suara itu menyela di antara suara riuh anak sekolah. Awalnya hanya satu, lalu makin lama makin ramai. Saya intip dari jendela, suara itu datang dari aktivitas beberapa anak SD. Di tangan mereka ada mainan berbentuk bola dengan dua tali pengikat. Tangan si pemain bergerak naik turun membuat dua bola itu bertemu di bagian bawah, lalu terlempar ke atas dan bertemu lagi di sana. Pertemuan itulah yang menimbulkan suara tak-tuk-tak-tuk-tak-tuk.

Zaman Dulu

Ingatan saya pada mainan itu rasanya agak samar. Mungkin sekitar tahun 1980-an ketika saya masih SD. Kami menyebutnya latto-latto (dengan dua “T” dan penekanan di bagian belakang). Dalam bahasa Makassar, latto berarti ketak jadi latto-latto berarti ketak-ketak. Nama yang sesuai dengan bunyi yang dikeluarkan ketika dua bola itu bertemu. Mainan itu sempat ramai, meski tidak benar-benar ramai dan durasinya pun singkat. Makanya ingatan saya pun cukup samar tentang mainan itu.

Tapi saya tidak pernah menyangka kalau ternyata mainan itu kembali. Setelah lewat puluhan tahun, mainan anak-anak zaman dulu ternyata bisa kembali menyeruak di antara mainan digital anak-anak zaman sekarang. Mainan yang bisa mengalahkan godaan handphone yang biasanya jadi bagian tak terpisahkan dari anak-anak zaman sekarang.

Tapi waktu itu saya berpikir mainan ini mungkin tidak akan bertahan lama. Mana bisa mainan kuno itu bisa mengalahkan mainan moderen, pikir saya waktu itu.

Dibilang mainan kuno tidak salah juga karena toh mainan ini memang mulai muncul di akhir tahun 60-an dan awal 70-an. Sudah masuk setengah abad. Pertama muncul di Inggris dan dikenal dengan nama clackers. Dari Inggris, mainan ini menyebar hingga ke Amerika Serikat meski akhirnya penjualannya dihentikan karena banyaknya laporan anak-anak yang terluka karena clackers ini.

Latto-latto zaman dulu

Menyebar

Dua bulan sejak pertama kali saya sadar kalau mainan ini telah kembali, saya kembali menyadari kalau ternyata mainan ini sudah go national. Menjadi mainan yang sangat popular di Indonesia. Anak-anak di Jawa, di Sumatera, di Bali, dan mungkin di semua pulau besar Indonesia mulai menggandrungi mainan ini.

Bahkan, namanya pun sama. Latto-latto. Meski karena bukan lidah Makassar maka sebagian besar orang salah menyebutnya. Namanya jadi lato-lato yang sebenarnya dalam bahasa Makassar berarti orang yang sudah tua atau sepuh.

Di media sosial orang-orang mulai ramai membicarakannya. Mereka berbagi cerita kalau mainan ini sangat popular, lengkap dengan keluhan bagaimana suara mainan itu cukup mengganggu. Memang harus saya akui kalau suara mainan ini apabila dimainkan oleh lebih dari satu orang akan terasa sangat mengganggu. Apalagi bila dimainkan di waktu yang seharusnya kita beristirahat.

Koq Bisa?

Fenomena latto-latto ini buat saya sangat menarik. Rasanya belum pernah sebelumnya – atau setidaknya jarang – ada fenomena ketika sebuah tren hadir justru dari luar Jawa atau katakanlah Jakarta.

Selama ini, orang Indonesia sebagian besar percaya kalau Jawa – terkhusus Jakarta – adalah pusat Indonesia. Tempat semua tren atau informasi bermula. Dari sana baru kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Jawa – utamanya Jakarta – adalah kiblat dari semuanya.

Tapi fenomena latto-latto ini mengubah pola itu. Ramai duluan di Makassar, lalu menyebar ke luar. Mengubah pola bahwa Jawa – utamanya Jakarta – adalah pusat dari segalanya. Tapi kenapa bisa begitu?

Saya belum menemukan jawaban pastinya, tapi sepertinya itu karena pengaruh media sosial. Fenomena latto-latto ini mulai ramai ketika beberapa akun TikTok menyebarkan video anak-anak bermain latto-latto yang bisa bermain sampai berjam-jam. Dari satu video disambung beberapa video lain, hingga kemudian ramai. Keramaian yang menarik perhatian pengguna media sosial, hingga akhirnya aktivitas itu menarik perhatian orang. Dari TikTok menjalar ke dunia nyata.

Mengubah Pola Komunikasi

Kehadiran media sosial memang akhirnya mengubah pola komunikasi manusia zaman sekarang. Semua orang bisa jadi pusat, semua orang bisa jadi produsen informasi, bukan lagi sekadar konsumen atau pengikut. Semua hanya soal cara, saluran yang dipilih, dan tentu saja momentum.

Tentu butuh penjelasan lebih ilmiah tentang fenomena ini, dan saya tidak punya kapasitas menjelaskannya. Tapi saya percaya kalau ini alasan – mungkin salah satu alasan – keunikan fenomena latto-latto ini. Muncul dari Makassar, menyeruak ke skala nasional. Lengkap dengan namanya.

Fenomena ini memang luar biasa buat saya. Bukan hanya karena polanya yang berbeda, tapi juga karena kemampuan permainan kuno ini bisa mengalahkan mainan modern. Permainan yang membuat anak-anak bergerak, bukan sekadar duduk menatap handphone berjam-jam. Oleh beberapa ahli, permainan ini dianggap membawa dampak positif karena mengasah motorik anak. Sesuatu yang perlahan hilang di zaman digital ini.

Saya menunggu ada kajian ilmiah yang bisa menceritakan fenomena ini. Atau Anda berniat menyusunnya? [dG]

About Author

Daeng Ipul Makassar
a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.