Alienasi Seorang Fans

Mini gathering bersama Uli dan Niken

Pernah mempunyai perasaan berada dalam di luar sebuah lingkaran yang isi lingkarannya justru sebuah situasi yang anda idam-idamkan ? Berasa ingin masuk ke dalam pusat lingkaran dan bersenang-senang bersama orang-orang yang ada di dalamnya tapi anda tidak bisa ?

Saya pernah (bahkan sering) merasakan hal seperti itu. Tepatnya dalam hubungan bersama teman-teman di komunitas Pearl Jam Indonesia. Berada di luar lingkaran yang jauh dari kota besar bernama Jakarta kadang membuat saya merasa kesepian dan terasing sambil terus mengiri melihat gerombolan anjing hilang itu bersenang-senang memuaskan hasrat dan kecintaan mereka pada Pearl Jam.

Cukuplah saya berteriak sendirian bersama Eddie Vedder dalam ruangan kantor yang tak seberapa luas, atau kadang melompat sendirian di ruang tengah rumah sekali lagi bersama Eddie Vedder yang terlihat kecil dalam kotak kaca. Semua saya lakukan sendiri, tanpa ada teman lain yang bisa saya temani berbagi cerita tentang Pearl Jam.

Pearl Jam ? okeh, dan kemudian dilanjutkan dengan mengangguk. Itu reaksi teman yang mungkin tak tega menyakiti hati saya, yang lebih tega akan menimpali dengan kalimat : band apaan sih ? gak kenal. Saya pernah bercengkerama dengan sesama fans berat Pearl Jam beberapa tahun silam sebelum si teman meninggalkan Makassar dan berlabuh di Jakarta.

Dan akhirnya masa itu tiba juga. Sore menjelang malam di foodcourt Mall Ratu Indah hari minggu (16/1) saya bertemu dua orang teman yang juga sama-sama suka Pearl Jam. Seorang dari mereka adalah gadis muda, barisan dharma wanita PJ.Id yang datang dari Jakarta untuk urusan dinas. Seorang lagi adalah lelaki asli kota Makassar yang pernah lama berdomisili di Jakarta dan merupakan kawan akrab Dedotz,vocalis band Perfect Ten yang adalah band hasil kongkow-kongkow anak-anak Pearl Jam Indonesia.

Bersama mereka saya bebas bercerita tentang Pearl Jam, bercerita tentang musik mereka, bercerita tentang aksi panggung mereka, semua tentang Pearl Jam. Saya bebas bercerita apa saja tentang Pearl Jam karena toh mereka berdua juga menyukainya. Tak ada pertanyaan : band apa sih ? Oh indahnya.

Tak lupa kami juga bertukar pendapat dalam diskusi kecil tentang Pearl Jam. Tak ada yang ahli di antara kami, yang ada hanya orang-orang yang sama-sama mencintai band asal Seattle itu, pendapat yang keluarpun murni pendapat pribadi yang digabung dengan beberapa fakta dan catatan berserakan yang bisa kami ingat. Sumbatan ide, hasrat atau apapun namanya yang sudah lama tertinggal dalam kepala rasanya mengalir begitu saja. Saya bahkan lupa kapan terakhir bisa berdiskusi selancar itu tentang Pearl Jam.

Dan malam itu, alienasi seorang fans yang berada jauh di luar lingkaran seperti yang selama ini saya rasakan sepertinya surut untuk sejenak. Saya bertemu dengan orang-orang yang mengerti dan sealiran dengan saya. Terima kasih untuk kalian yang sudah bisa sejenak menghilangkan rasa terasing itu. Sampai ketemu di lain waktu

Keep on Rockin? in a Free World