Cerita Ringan

Gondrong

Saat ini saya memilih memanjangkan rambut, gondrong kata orang. Ada cerita di belakang alasan kenapa saya memilihnya.

Waktu masih ABG, saya pernah punya mimpi berambut gondrong. Alasan utamanya tentu saja karena saat itu saya sedang getolnya menikmati musik rock. Dan, kita mungkin tahu kalau musisi rock di tahun 90-an sebagian besar berambut panjang. Rambut panjang atau gondrong seringkali dianggap sebagai bentuk perlawanan, dan cocok untuk anak-anak ABG naif yang merasa keren bila melawan sesuatu yang dianggap sebagai kemapanan yang membosankan. Anti kemapanan, kata orang. Saya tahu, itu kedengaran menggelikan saat ini.

Menggelikan karena pada kenyataannya saya sendiri tidak berani melawan aturan sekolah. Dulu – bahkan sampai saat ini – sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya sekolah negeri masih memegang teguh larangan siswa laki-laki berambut panjang. Sebagai alat menegakkan aturan, sering kali ada momen ketika guru-guru, khususnya guru BK berkeliling kelas dengan gunting di tangan. Mereka yang rambutnya dicap panjang tentu akan jadi korban. Biasanya aturannya adalah rambut depan tidak menutupi mata, rambut samping tidak menutupi kuping, dan rambut belakang tidak menyentuh kerah baju. Lebih dari itu maka gunting akan beraksi. Walhasil, siswa yang dianggap punya rambut panjang akan pulang dengan rambut coreng-moreng tidak rata sehingga mereka harus memangkas rambut agar tidak terlihat memalukan.

Satu-satunya perlawanan saya pada aturan itu adalah membiarkan rambut saya coreng-moreng tidak rata selepas razia rambut panjang itu. Saya tidak buru-buru ke tukang cukur untuk merapikannya, malah membiarkannya begitu saja. Bahkan kondisi rambut coreng-moreng itu terabadikan dalam foto ijazah.

Gondrong Memakan Korban

Selepas sekolah, saya tetap tidak punya kesempatan untuk memanjangkan rambut. Keinginan itu masih tetap ada, tapi kesempatan yang tidak pernah ada. Saya tidak langsung kuliah selepas sekolah, tapi malah langsung bekerja. Tahu sendirilah bagaimana sebagian besar kantor di Indonesia masih memegang erat aturan kerapihan termasuk kerapihan rambut. Maka rambut gondrong yang kerap diasosiasikan sebagai ketidakrapihan tentu asing bagi para karyawan kantoran.

Kondisi itu membuat saya tidak bisa memanjangkan rambut, selain bahwa ada juga janji yang saya buat sendiri. Janji kalau saya hanya mau memanjangkan rambut kalau saya bisa bermain gitar. Janji yang sebenarnya hanya sebagai pembelaan dan penghiburan kalau saya tidak bisa memanjangkan rambut.

Sebenarnya, selain alasan-alasan tadi ada alasan lain yang yang juga menghalangi saya memanjangkan rambut. Apalagi kalau bukan larangan tidak langsung dari orang tua. Kebetulan orang tua saya masih sangat konservatif, dan bagi mereka rambut gondrong lebih lekat kepada preman atau hal-hal yang tidak baik.

Anggapan ini adalah anggapan lama, minimal mulai muncul di awal-awal Orde Baru di dekade 1970-an. Indonesia ketika itu dikuasai oleh militer, dan bagi militer rambut panjang adalah musuh. Militer sangat mengagungkan kerapihan yang salah satunya digambarkan dengan rambut pendek nyaris seragam. Rambut panjang diasosiasikan dengan kejahatan, tidak rapih, atau bahkan pemberontak.

Walhasil, di awal dekade 1970-an masih banyak tentara yang berkeliling dengan membawa gunting. Mereka rajin memotong rambut gondrong pria yang ditemui di jalan. Bahkan ada masa ketika mereka yang berambut gondrong dan bertato bisa saja tiba-tiba dicap preman dan dimatikan secara misterius.

Tindakan memotong rambut panjang para pria di jalanan ini sempat memicu protes dari banyak pihak, termasuk dari mahasiswa yang berpikiran terbuka dan kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Bahkan, protes ini kemudian berujung pada jatuhnya korban mahasiswa ITB akibat bentrok antara taruna kepolisian yang mengagungkan rambut cepak dengan mahasiswa ITB berambut gondrong. (sumber).

Akhirnya Gondrong Juga

Zaman berubah, rambut gondrong yang sempat dianggap hina itu perlahan mulai dinormalisasi. Tidak lagi dianggap sebagai perlawanan apalagi lambang kriminal. Rambut panjang di kepala para pria mulai menjadi bagian dari fesyen, mode. Pria-pria berambut gondrong bisa tampil dengan rapi dan tetap terlihat menawan, tidak kusut masai lagi seperti tidak terurus.

Saya yang sudah mulai mengubur keinginan untuk berambut panjang, mulai tergoda untuk kembali menggali impian masa muda itu. Impian yang akhirnya jadi kenyataan di tahun 2012. Waktu itu saya sudah tidak lagi jadi karyawan kantoran, dan kebetulan terpilih menjadi ketua panitia Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk memanjangkan rambut dengan dalih; saya baru akan memotong rambut kalau Kopdar Blogger Nusantara sudah selesai.

Janji yang saya pegang. Saya berhasil memelihara rambut hingga bisa dikuncir, dan baru memotongnya ketika acara selesai. Diawali dengan pemotongan rambut dari teman-teman panitia dan diakhiri dengan mencukur gundul kepala saya. Selesai sudah janji saya, dan selesai sudah saya menuntaskan impian masa ABG.

“Setidaknya saya pernah gondrong,” kata saya.

Selepas masa itu saya memang sudah tidak punya keinginan untuk memanjangkan rambut lagi, karena rasanya sudah cukuplah. Sekali saja sudah cukup. Ada beberapa hal yang jadi pertimbangan, salah satunya adalah soal perawatan. Rambut panjang itu cukup menyita perhatian. Kita harus rajin mencuci rambut, bahkan saya menggunakan kondisioner supaya rambut tetap lembab. Rambut panjang tentu saja butuh perawatan lebih dari rambut pendek, dengan catatan kalau pemiliknya tidak mau terlihat gondrong dan kusut apalagi kumal.

Alasan kedua adalah kesabaran. Memanjangkan rambut itu butuh kesabaran ekstra. Mulai dari kondisi ketika rambut nanggung. Panjang tidak, pendek juga tidak. Mau diikat belum bisa, tapi kalau tidak diikat rasanya berantakan dan kadang menutupi mata. Di masa itu sering kali muncul godaan untuk memotongnya saja, dan sering kali saya tergoda.

Saya baru kembali memanjangkan rambut sekitar tahun 2016. Tidak ada alasan khusus seperti tahun 2012 lalu, benar-benar hanya iseng saja dan mencoba bertahan dari godaan memotong rambut. Setahun lebih saya tidak ke tukang cukur hingga punya rambut yang lumayan panjang dan bisa diikat. Setelahnya saya kembali ke model rambut biasa, pendek.

Transformasi sejak 2019

Sekarang saya berada di fase gondrong lagi. Terakhir cukur tahun 2019 lalu, tepatnya bulan November dan sejak itu tidak pernah lagi memotong pendek rambut kecuali merapikan. Ini mungkin kondisi terpanjang rambut saya, panjangnya sudah melewati bahu. Sudah sangat mudah diikat.

Seperti sebelumnya, kali ini juga tidak ada alasan khusus. Lebih karena nyaman saja, dan lingkungan kerja juga tidak mempermasalahkan. Tidak ada lagi alasan pemberontakan, ingin terlihat keren, atau alasan-alasan naif lainnya. Hanya nyaman saja, itu sudah cukup.

*****

Saya tidak tahu sampai kapan saya akan memelihara rambut panjang, tapi sepertinya tidak akan terlalu  panjang juga sampai punggung apalagi sampai pantat. Mungkin sebentar lagi saya akan memangkasnya, merapikan, tapi tetap dengan model yang panjang dan bisa diikat. Karena saya suka mengikat rambut, membuat saya bisa punya rambut panjang tapi tetap terlihat rapih.

Lagipula, Mamie bilang, “Bagus ki kalau kita’ gondrong. Macho ki,” dan saya percaya pada dia. Eheum.[dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. saya malah ngga pernah kepengen punya rambut gondrong.. agak panjang dikit sudah gerah.. kepala terasa lebih berat..

  2. Sebenarnya aku pengen punya rambut panjang lagi. Tapi apa daya bekerja di instansi pendidikan, kudu rapi dan rambut pendek hahahhaahah

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.