Dinamika KotaMakassar

Makassar di Mata Mereka


Bagaimana Makassar di mata para pendatang? Lalu, bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan keadaan kota ini?


Sekitar tahun 2000 ketika saya sedang bekerja di Jakarta, seorang teman asal Yogyakarta bertanya kepada saya. “Mas, di Makassar tuh jalanan udah diaspal semua gitu ya?” Saya sempat kaget mendengar pertanyaannya. Saya mencoba melihat raut wajahnya, apakah kira-kira dia bercanda atau serius? Ruat wajahnya terlihat serius, dengan raut wajah yang polos. Saya menghela napas panjang, ada sedikit rasa tersinggung dalam hati saya, tapi saya berusaha berbaik sangka bahwa dia hanya kurang tahu tentang kota Makassar.

Di kesempatan lain, ada juga teman-teman di Jawa yang selalu mengira kalau orang Makassar itu isinya orang-orang bersumbu pendek semua. Gesekan sedikit, berantem. Senggolan sedikit di jalan, saling serang. Bahkan, ada yang sampai berpikir dua kali untuk datang ke Makassar. Tentu saja karena sudah lebih dulu terkontaminasi oleh pikiran buruk tentang kota Makassar dan orang-orangnya.

Dua Mata Berbeda

Ada yang melihat kota Makassar sebagai kota yang penuh dengan orang-orang barbar yang senang berkelahi, tapi ada juga yang melihat kota Makassar sebagai kota yang moderen, tempatnya orang-orang keren.

Sudut pandang yang kedua ini diakui oleh Ardian Adhiwijaya atau kami kerap menyapanya Iyan. Dia sobat kami di Kelas Kepo dan Anging Mammiri. Dia bukan penduduk asli kota Makassar, dia lahir dan besar di kota Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, kira-kira 190-an km sebelah utara kota Makassar.

Dalam ingatannya, dia pertama kali datang ke Makassar ketika masih sangat kecil. Mungkin sekira usia 8 atau paling tidak10 tahun. Oleh keluarganya dia dibawa berekreasi ke Pulau Khayangan, salah satu tujuan wisata populer di Makassar di awal tahun 1990-an. Kenangan itu masih dia ingat dengan jelas karena ada beberapa lembar foto yang masih tersimpan.

Buat Iyan waktu itu, Makassar – atau yang kala itu masih bernama Ujung Pandang – adalah sebuah tempat yang jauh dan moderen. Orang-orangnya pun menurut mata Iyan kecil adalah orang-orang yang keren dan berbeda. Salah satunya karena mereka berbicara dalam bahasa Indonesia logat Makassar yang berbeda dengan bahasa Bugis, bahasa yang digunakan sehari-hari di Rappang.

Iyan mulai pindah dan akhirnya tinggal di Makassar sejak tahun 2006. Di awal kepindahannya pun dia merasa ada yang berbeda dengan kota ini. Kota yang benar-benar moderen, berbeda dengan kota tempat kelahirannya. Kekagumannya pada kota yang moderen dan masih hidup sampai jauh malam itu seolah terkonfirmasi.

Dari Yogya ke Makassar

Lain halnya dengan Ayi, salah satu teman kami di komunitas Anging Mammiri. Dia lahir dan besar di kota Yogya, dari keluarga Jawa. Sebelum akhirnya menetap di Makassar dari 2010 sampai hari ini, dia memang sudah pernah berkunjung ke kota ini.

Sebelum tiba di Makassar untuk pertama kalinya, dia mengaku punya pikiran buruk tentang kota ini. Bukan hal yang aneh mengingat selama beberapa waktu kota Makassar memang seolah dibentuk oleh media sebagai kota yang berisi orang-orang beringas dan gampang naik darah. Jadi tidak heran kalau banyak orang yang belum ke Makassar punya pikiran buruk di Makassar.

Namun, setelah pertama kalinya ke Makassar Ayi merasa kalau ternyata pikiran itu tidak benar. Orang Makassar tidak seburuk yang dia bayangkan. Hal itulah yang membuatnya santai saja ketika harus pindah ke Makassar, mengikuti sang suami yang memang orang Makassar.

Namun, tetap saja ada semacam shock culture yang dia rasakan. Salah satunya adalah soal bahasa. Orang Yogya terkenal sebagai orang yang halus tutur katanya, berbanding terbalik dengan orang Makassar yang dalam berbahasa cukup lugas, straight to the point, dan tentu saja bernada tinggi. Ini salah satu yang menurut Ayi cukup membuatnya kaget ketika pertama datang ke Makassar. Orang bicara biasa saja sudah terasa seperti orang yang sedang saling mengancam akan berkelahi.

*****

Itulah sekelumit kisah dua orang pendatang di kota Makassar. Memang keduanya bisa disebut sebagai pendatang, karena toh mereka tidak lahir dan besar di kota ini. Mereka datang ketika sudah dewasa, dan ternyata keduanya punya sudut pandang berbeda tentang kota ini. Mereka pun punya kisah yang menarik tentang bagaimana mereka pada akhirnya membiasakan diri dengan kehidupan di kota Makassar.

Ada banyak kisah dari mereka berdua, dan kisahnya cukup menarik, mewakili pandangan banyak pendatang di kota Makassar. Kisah lengkap tentang pengalaman mereka sebagai pendatang di kota Makassar dapat didengarkan di episode kelima Podcast Cerita Makassar. Kalian bisa mendengarkan secara lengkap di sini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Banyak sih yang bilang seperti ini kalau pas awal-awal kuliah. Misalkan kawan dari luar Jawa dan kita ngobrol santai, dan pertanyaan itu terlontar

  2. Kalau aku, memang citra sebuah kota bisa dibentuk ketika kita tiba di airportnya.
    Memang kalau aku lihat citra kota ini agak kasar ketika kita keluar dari pintu kedatangan airport.

    Tapi kalau kulinernya, Makassar ini termasuk yang paling top di antara kota-kota lain di Indonesia hahahaha

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.