Tidak Ada Film Yang Bisa Mengalahkan Film G30S

kalimat ikonik!

Saya hampir lupa kalau ini sudah September, berarti sudah waktunya topik soal kuminis dan PKI muncul di permukaan lagi. Kayaknya topik itu memang sudah resmi masuk ke kalender ribut-ribut negeri ini.

DIMULAI DENGAN RIBUT-RIBUT soal perayaan tahun baru di bulan Januari, disusul dengan ribut-ribut soal hala-haram Valentine di bulan Februari dan seterusnya sampai tiba di bulan September. Di bulan ini, jatah kuminis dan PKI yang jadi aktor.

Biasanya di bulan September akan ada macam-macam kelompok yang bikin macam-macam acara. Diskusilah, pementasanlah, ngobrol-ngobrollah, macam-macam. Karena in bulan September jadi temanya ya tidak jauh-jauh dari kuminis dan PKI.

Ada yang memberi label “meluruskan sejarah”, ada yang memberi label “mengenang masa kelam,” macam-macamlah pokoknya. Intinya ya membicarakan kuminis dan PKI.

Terus karena ada acara-acara itu maka tentu tidak sedap rasanya kalau tidak ada yang melawan, tidak ada yang melarang. Lah, konser artis luar saja pernah dilarang sama satu kelompok kok? Masa iya acara berbau kuminis mau dibiarkan begitu saja?

Jadi untuk menyempurnakan khidmatnya bulan September, maka acara-acara itu lantas dilawan dengan bermacam-macam cara. Demo, paksaan membubarkan acara, bahkan sampai lempar-lemparan segala. Seru pokoknya.

Nah, mumpung tanggal 30 September makin dekat maka tidak ada salahnya untuk mengangkat satu film yang berkisah perihal masa kelam itu. Anggaplah ini sebagai pamungkas di penghujung bulan September, bulan milik kuminis dan PKI sebelum diganti tema lainnya di bulan lainnya.

Film yang fenomenal itu

Awalnya ada ajakan nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang beredar lewat grup WhatsApp. Ajakan ini dibenarkan oleh tentara, bahkan panglima sendiri langsung mengklarifikasi kalau itu dia yang suruh. Kalau sudah beliyo yang suruh, kalian berani melarang? Tentara loh ini, panglima loh ini. Bisa remuk kalian kalau berani melarang-larang.

Ada juga sih beberapa orang yang menganggap kalau perintah itu tidak perlu. Alasan utamanya karena film itu yah gitu deh, penuh dengan rekayasa dan kebohongan, terlalu mengkultuskan satu orang dan menutup-nutupi sejarah yang sebenarnya.

Kata orang ya, saya sih ndak tahu. Saya belum lahir waktu itu.

Pokoknya karena alasan itu, film Pengkhianatan G30S/PKI dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman, apalagi buat generasi millenial yang malas nonton yang berat-berat.

Iyalah, susah membayangkan dedek-dedek gemesh itu mau duduk berjam-jam di depan layar, menonton film yang penuh dengan adegan kekerasan, darah, orang merokok, penyiksaan, gelap dan ah pokoknya sangat membuat tertekan.

Beda sama film-film drama Korea yang suka dikonsumsi dedek-dedek gemesh itu.

Berat membayangkan film garapan Arifin C. Noer (almarhum) itu akan dikonsumsi dedek-dedek gemesh. Film tua yang gak gahol, kata mereka.

Padahal, mereka tidak sadar kalau film itu adalah film paling fenomenal yang pernah dibuat di republik ini. Sebut satu film yang lagi ngehits jaman sekarang, AADC? Warkop Reborn? Laskar Pelangi? Nehi! Film-film itu tidak ada seujung kukunya film Pengkhianatan G30S/PKI.

Film-film itu memang ditonton jutaan orang, jadi box office di Indonesia. Nangkring di bioskop berminggu-minggu. Tapi eh tapi, setelah itu ya sudah. Cuma dibincangkan sekilas, dijadikan standar keromantisan atau standar kelucuan, plus kadang dibuatkan meme terus dibagikan. Sudah, cukup segitu saja.

Tapi coba lihat film Pengkhianatan G30S/PKI.

Ini film pertama yang berhasil mendatangkan 600an ribu penonton, jumlah yang di tahun 1980an sangat besar. Film ini juga masih diputar di bioskop di tahun-tahun berikutnya, menjelang 30 September.

Luar biasanya, penontonnya banyak anak-anak SD yang diangkut dari sekolah-sekolah dasar di kota, dengan angkutan umum digiring ke bioskop lalu duduk manis menunggu film diputar. Film yang penuh dengan adegan kekerasan, caci maki dan asap rokok itu diputar untuk anak-anak SD, tanpa sensor! Difasilitasi pemerintah pula! Kurang fenomenal apa coba film ini?

Makanya generasi yang nonton film Pengkhiatan G30S/PKI di bioskop waktu masih SD itu sampai terpingkal-pingkal lihat tayangan TV sekarang. Dada perempuan saja di-blur, rokok dikaburkan, darah dibuat hitam putih. Cemen banget! Beda sama anak SD tahun 80an yang tontonannya gore banget, beramai-ramai dan difasilitasi pemerintah pula.

Terus apa lagi? Setelah tidak tayang lagi di bioskop, film ini kemudian diwajibkan untuk tayang di televisi satu-satunya waktu itu: TVRI. Jadwal tayangnya tiap tahun, tanggal 30 September sejak tahun 1984 sampai 1998. Luar biasa! 14 tahun bok! Tiap tahun ditayangkan! Difasilitasi pemerintah pula!

Memangnya ada film lain di Indonesia yang seperti itu? Film asing sih ada yang mirip, sebut saja Godzilla, Jurassic Park atau Titanic yang sering pakai banget kelayapan di televisi swasta Indonesia. Tapi itu kan film asing, kekerapan tayangnya juga masih kalah jauh sama film Pengkhianatan G30S/PKI.

Terus, meski film ini adalah film yang seram tapi ternyata tidak selamanya seram juga. Cek deh meme di internet yang menggunakan adegan film ini sebagai bahannya. Alih-alih jadi seram, malah bikin ketawa setengah mampus.

Meme yang mengambil bahan dari film G30S

Lalu bukti terakhir tentang luar biasanya film ini adalah, berselang nyaris 20 tahun sejak dilarang tayang di televisi nasional, orang masih juga meributkannya. Dari persoalan penting tidaknya dia ditonton, isinya yang tidak sesuai kenyataan sampai perlu tidaknya dibuat nobar. Sampai-sampai jenderal tentara dan anggota dewan pertimbangan presiden saja urun rembug loh, sama-sama mengeluarkan pendapat soal penting tidaknya nonton film ini.

Warbyasak pokoknya.

Tidak ada satupun film Indonesia yang sefenomenal film Pengkhianatan G30S/PKI ini. Satu-satunya film yang masih dibahas tiap tahun di bulan September, lengkap dengan bermacam-macam analisanya. Bahkan ketika hampir semua tokoh utama dalam pembuatan film itu sudah almarhum, filmnya masih jadi bahan debat, masih jadi bahan perbincangan setiap tahun. Bahkan masih bisa membuat orang Indonesia berdebat di dunia maya. Sungguh film yang tidak ada duanya.

Film ini sampai berhasil mengalihkan fokus orang Indonesia pada ancaman lain. Soal kerusakan hutan di Kalimantan, Sumatra dan Papua, soal energi fosil yang semakin terkikis, soal pembangunan infrastruktur yang banyak mengorbankan rakyat kecil, soal demokrasi yang makin mundur. Pokoknya soalan lain jadi tidak penting, tidak kayak debat-debat soal fim itu.

Terus membayangi, terus menghantui. Persis seperti paham kuminis dan PKI-nya. [dG]