Tidak Ada Piala Dunia Tahun Ini
Tidak ada catatan khusus tentang Piala Dunia 20 di blog ini, tidak seperti episode Piala Dunia sebelumnya.
Piala Dunia 2026 sudah selesai. Layar-layarnya sudah digulung, kursi dibersihkan, stadion dikosongkan. Sekarang tersisa perayaan dari kubu pendukung Spanyol, dan penjelasan serta teori-teori konspirasi dari kubu pendukung Argentina. Seperti yang kerap terjadi, yang menang merayakan, yang kalah menjelaskan.
Tidak ada tulisan
Buat mereka yang mungkin terbiasa mengunjungi blog ini mungkin sadar kalau setiap helatan Piala Dunia, saya rajin sekali menulis tentang apapun dari ajang itu. Pikiran, opini, sampai ulasan pertandingan. Maklum, sepakbola adalah salah satu passion terbesar dalam hidup saya.
Tapi tidak tahun ini. Gelaran Piala Dunia 2026 berlalu tanpa satupun tulisan tentangnya. Tidak ada ulasan pertandingan, tidak ada opini, tidak ada apa-apa. Kosong.
Alasan pertama yang saya pilih adalah soal waktu. Klasik sebenarnya, tapi itu nyata adanya. Aktivitas sehari-hari rasanya sudah cukup menyita waktu sampai-sampai tidak ada lagi ruang untuk menulis tentang Piala Dunia di blog ini. Sebenarnya alasan itu tidak sepenuhnya tepat, karena bertahun-tahun lalu saya pun kerap bersinggungan dengan waktu yang sempit, tapi selalu ada saja tulisan tentang Piala Dunia. Tidak banyak, tapi tetap ada.
Jadi alasan berikutnya mungkin jadi alasan terkuat. Malas.
Iya, saya malas menulis panjang lebar tentang Piala Dunia ini. Ada hal yang membuat Piala Dunia ini tidak semenarik helatan Piala Dunia sebelumnya. Pemilihan Amerika Serikat salah satunya.
Dari awal penyelenggaraan Piala Dunia, Amerika Serikat sudah banyak membuat kontroversi. Wasit asal Sudan dilarang masuk, padahal semua dokumennya sudah lengkap dan FIFA sebagai penjamin juga sudah tidak ada masalah. Alasannya karena si wasit dicurigai punya keterkaitan dengan organisasi teroris. Lalu ada juga masalah diskriminasi pada Iran, salah satu negara peserta. Hanya karena Iran punya masalah politik dengan Amerika Serikat, mereka dilarang bermukim di dalam wilayah Amerika Serikat, padahal mereka harus bermain di tanah AS. Akibatnya, mereka harus bolak-balik Mexico-AS di hari pertandingan mereka. Kelar bermain, mereka tidak punya waktu untuk memulihkan tenaga, tapi harus buru-buru cabut kembali ke Mexico. Padahal FIFA sudah kerap kali menegaskan bahwa sepakbola tidak boleh dikaitkan dengan politik. Sayangnya, itu hanya berlaku untuk negara kecil, tidak untuk AS si “negara adidaya”.
Kelindan antara FIFA dan AS semakin terlihat ketika turnamen berjalan. Pemain AS – Balogun – terkena kartu merah dalam pertandingan melawan Bosnis-Herzegovina. Sesuai regulasi dia harusnya absen di pertandingan selanjutnya. Tapi Donald Trump mengangkat telepon dan menghubungi petinggi FIFA, Infantion sang presiden. Dia mempertanyakan larangan main yang dijatuhkan pada Balogun. Menurutnya tidak adil kalau si pemain harus dilarang main untuk dosa yang dia lakukan di pertandingan selanjutnya. FIFA langsung tunduk dan untuk pertama kalinya larangan bermain akibat kartu merah dicabut. Biasanya bentuk keringanan atas hukuman berupa pengurangan jumlah pertandingan, bukan penghapusan sama sekali.
Aneh.
Sampai di sini semakin terasa anehnya Piala Dunia kali ini. Belum lagi soal bagaimana rakusnya Amerika Serikat dan FIFA dalam mendulang uang. Harga tiket yang selangit, jeda antar babak untuk memberi ruang iklan, sampai pertunjukan di half time yang “sangat Amerika”. Hal-hal yang buat pecinta sepakbola tradisional terasa sangat dipaksakan.
Akhirnya Selesai
Saking tidak terlalu tertariknya pada Piala Dunia kali ini, saya pun rela melewatkan banyak pertandingan. Tidak ada adegan memaksakan diri bangun tengah malam atau dini hari untuk menonton pertandingan. Kalau yang main bukan tim besar dengan pemain terkenal, saya dengan sukarela akan melewatkannya. Bahkan beberapa kali tim besar main pun saya tetap melewatkannya tanpa beban.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika Piala Dunia digelar. Saya selalu berusaha untuk tidak melewatkan satupun pertandingan. Memang akhirnya akan ada yang dilewatkan karena faktor usia dan butuh tidur, tapi setelahnya saya akan langsung menyantap highlight pertandingannya untuk tahu skornya, apa yang terjadi, siapa yang cetak gol, dan lain-lain. Tapi tahun ini tidak. Saya sama sekali tidak terdorong untuk mengecek hasil pertandingan. Biasa saja.
Gairahnya benar-benar berbeda. Satu-satunya hal yang menggairahkan adalah harapan bahwa Argentina akan kalah dan pulang. Ini satu-satunya pendorong terbesar saya menunggu pertandingan demi pertandingan, berharap ada tim yang akan mengalahkan Argentina atau melihat perkembangan tim lain yang mungkin akan berahdapan dengan Argentina.
Saya memang tidak suka Argentina. Sejak Diego Simeone berakting seolah-olah diinjak gajah di tahun 1998 yang menyebabkan David Beckham kena kartu merah dan Inggris kalah, saya selalu ada di kubu tim yang melawan Argentina. Sangat personal.
Tapi meski tidak suka Argentina sebagai tim, saya masih menaruh hormat pada Lionel Messi yang kemampuannya memang sangat sulit untuk tidak dianggap. Hanya orang gila yang tidak mengakui kemampuan seorang Messi.
Meski sudah mendekati usia 40 tahun, Messi masih punya kharisma luar biasa selain tentu saja skill individunya. Di babak knockout, dua kali dia berhasil membawa timnya keluar dari lubang jarum. Ketika tertinggal 0-2 dari Mesir, Messi jadi salah satu penyelamat. Begitu juga ketika tertinggal 0-1 dari Inggris, kembali Messi bisa menggendong negaranya lewat umpan untuk membalikkan keadaan.
Meski tidak suka Argentina, saya harus objektif untuk mengatakan bahwa Messi adalah pemain luar biasa.
Di final, Messi akhirnya dimatikan. Rodri dan Fabian Ruiz berhasil mengasingkan Messi sehingga dia tidak bisa berbuat banyak. Messi dikunci, pemain lain jadi kehilangan arah. Selama 90 menit Argentina seperti diajar bagaimana main bola yang benar oleh pemain-pemain Spanyol. Tidak ada shoot on target satupun. Bahkan sampai 120 menit rampung, pemain Argentina sepeti tidak tahu kalau Spanyol punya gawang juga yang dikawal oleh Unai Simon. Penampilan finalis terburuk dalam sejarah Piala Dunia.
Pada akhirnya sepakbola yang menang. Mengutip cuitan Toni Kroos di X yang bilang: fotball wons. Yah, sepakbola yang sebenarnya seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol yang akhirnya memang. Bukan sepakbola yang dicampur dengan bela diri, bukan juga soccer seperti yang selalu disebut orang Amerika itu.
Beruntunglah bahwa Piala Dunia yang kurang menarik ini pada akhirnya dimenangkan oleh tim terbaik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sempurnanya kerusakan Piala Dunia ini kalau saja Argentina berhasil bertahan hingga 120 menit, lalu memang lewat adu penalti. Rusak betul!
Sudahlah, mari bersiap untuk musim kompetisi yang baru dan mari berdoa semoga Amerika Serikat tidak lagi jadi tuan rumah sampai mereka benar-benar siap menerima Sepakbola dan bukan soccer. [dG]