Sepakbola

Persatuan Setan-Setan Indonesia

kredit foto : MetroTV News

Timnas Indonesia menelan kekalahan pertama di ajang AFF 2010, sialnya karena kekalahan ini diterima di leg pertama partai final dan sialnya lagi, diterima di depan publik Malaysia yang terkenal sering cari gara-gara dengan negeri kita. Sungguh sebuah pukulan telak yang menyakitkan, padahal asa sedang membubung. 3 gol ke gawang Markus adalah tamparan yang menyadarkan kalau kita harus tetap berpijak ke tanah.

Rangkaian 5 kemenangan di babak penyisihan dan semifinal dengan setengahnya adalah kemenangan fantastis membuat timnas dipuja bak dewa, sebagian malah telah berlebihan. Sepakbola indonesia menanjak ke level baru, level selebtiras. Tak kurang dari acara gosip infotainment hingga para selebritas itu semua bicara tentang timnas, semua berkicau seakan-akan paling mengerti arah timnas mau dibawa ke mana.

Cobaan itu belum seberapa. Dalam lingkar dalam sendiri ada setan yang lebih jahat yang menggoda timnas kesayangan kita. Mereka adalah para petinggi PSSI yang rajin menampilkan wajah seram memuakkan mereka di semua media dan etalase, menepuk dada seakan-akan kemenangan timnas adalah buah karya mereka seorang. Tak perlu saya sebutkan siapa aktor paling memuakkan dari sekumpulan setan-setan itu. Sebagian besar pendukung timnas merah putih sudah sibuk berteriak di sana-sini memintanya turun. Tapi dia kukuh, bergeming di puncak kekuasaan yang dikangkanginya selama bertahun-tahun.

Timnas telah lama puasa gelar tapi tak pernah surut beroleh dukungan. Kami para pecinta sepakbola ini masih saja setia mengirim doa, dukungan dan semangat untuk timnas. Ribuan orang rela datang ke GBK, berdiri berbaris di bawah hujan dan panas terik demi menunjukkan kalau mereka sayang timnas.

Tapi setan-setan itu tak peduli. Alih-alih menampung semangat mereka yang rela antri tiket, setan-setan itu lebih senang membuat mereka tetap susah, berdesakan bahkan mati demi tim yang mereka banggakan. Ketika kerusuhan itu menjadi keniscayaan, setan-setan itu tak segan menunjuk ke wajah mereka yang sayang pada tim nasional itu sambil berkata, ini salah kalian !. Aih, sungguh biadab.

Di ranah yang lain, setan-setan itu tanpa malu memasang wajah mereka di pinggir lapangan. Menggiring 22 lelaki muda itu ke sana ke mari dan menjual wajah mereka ke televisi. Semua demi kepuasan mereka, demi sesuatu yang tak mau mereka lepas. Yah, kekuasaan dan uang itu manis Jenderal !.? Mereka jual pasukan kesayangan kami kepada para politikus yang bau mulutnya saja sungguh membuat perut mual. Mereka menjual kenikmatan terakhir kami, orang Indonesia yang bangga pada tim nasionalnya sendiri.

Ketika garuda merah putih terbang tinggi ke angkasa, setan-setan itu menepuk dada. Mereka bilang pada seluruh dunia : ini hasil kerja kami. Ketika garuda merah putih terkulai, mereka cari kambing hitam. Mereka cari siapa saja atau apa saja yang bisa mereka salahkan. Sungguh memalukan !

Rabu besok, anak-anak muda itu akan turun ke lapangan mencari 4 gol tanpa balas untuk membahagiakan kami, orang Indonesia yang mencintai tim nasionalnya. Apapun hasilnya nanti, saya dan mungkin juga anda tetap akan bangga pada mereka yang berseragam merah putih itu. Kita tahu, mereka hanyalah serdadu yang siap mati demi lambang garuda di dada mereka. Kita tahu kalau di belakang mereka ada banyak setan yang memanfaatkan perjuangan mereka untuk kepentingan mereka dan kepentingan kelompok mereka.

Ayolah, kami percaya kalian bisa. Apapun hasilnya, kami akan tetap bangga. Pada kalian, bukan pada setan-setan itu.

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (5)

  1. Kamaruddin Azis

    Hidup Timnas! Bantai setan-setan!

    eh Timnas, masih bisa menang…

    Semoga 🙂

    • juara atau tidak, buat saya tidak masalah..yang penting, kita sudah [makin] tahu kualitas seperti apa yang dimiliki pengurus sepakbola negeri ini..
      🙂

  2. Saya bangga pada suporter Indonesia yang sportif. Gak ada adegan Laser jilid dua.

    Semoga ini menjadi awal yang baik untuk timnas kita, di tengah carut marut dunia olahraga kita yang miskin prestasi.

    Eh daeng, saya baru gabung di komunitas anging mammiri. Telat banget yah, (baru pasang banner di blog ku)

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.