Sepakbola

Beban Besar Nama Orang Tua


Daniel Maldini akhirnya dimainkan untuk AC Milan. Generasi ketiga Maldini, dengan bayang-bayang nama besar bapak dan kakeknya di pundak.


Tidak banyak yang sadar kalau tanggal 2 Februari 2020 lalu, sebuah sejarah baru saja tercipta di klub AC Milan. Klub yang dulu besar, tapi sekarang hanya jadi klub semenjana yang lebih sering berkutat di papan tengah Serie A Liga Italia. Sejarah itu terjadi di menit 93, beberapa saat sebelum pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Skor yang mengakhiri rentetan tiga kemenangan beruntun AC Milan setelah sekian lama mulai lupa bagaimana rasanya menang secara beruntun.

Sejarah itu membawa-bawa nama Maldini, satu nama besar di belakang klub merah-hitam dari kota Milan ini. Nama yang jadi legenda klub sampai nomor punggung 3 milik Paolo Maldini tidak lagi ditemukan di lapangan dalam kaos merah-hitam.

Hari itu, seorang generasi ketiga Maldini turun sebagai pemain pengganti di menit ke-93. Daniel Maldini namanya, masih 18 tahun. Anak pasangan Paolo Maldini dan Adriana Fossa. Lebih tepatnya lagi, cucu dari Cesare Maldini.

Nama bapak dan eyangnya sangat lekat dengan AC Milan. Sang eyang – Cesare Maldini – adalah kapten AC Milan ketika pertama kalinya klub Italia memenangkan trofi Liga Champion Eropa tahun 1963 di Wembley. Dia juga pernah menjadi pelatih timnas Italia di gelaran World Cup 1998. Berhasil membawa Italia sampai ke perempat final sebelum dikandaskan tuan rumah Perancis lewat adu pinalti. Tuan rumah yang belakangan menjadi juara setelah mengandaskan Brasil di fina yang akan selalu dikenang.

Cesare tentu bukan orang sembarangan kalau bicara soal sepakbola AC Milan dan Italia. Cesare meninggal tahun 2016 dalam usia 84 tahun.


Cesare Maldini saat membawa AC Milan juara Eropa 1963

Anaknya, Paolo Maldini lebih besar lagi namanya. Meski belum pernah berhasil membawa Italia menjadi juara dunia atau Eropa, tapi Paolo sudah kenyang dengan segala trofi di tingkat klub. Dia ada dalam kampanye 7 kemenangan liga Serie A dan 5 juara Eropa.

Paolo Maldini pensiun di tahun 2009 setelah 902 kali berkostum merah-hitam. Tidak pernah berganti kostum meski tawaran selalu ada. Bahkan pelatih sekelas Alex Ferguson pun pernah berhasrat mendatangkannya ke Old Trafford. Tapi Paolo Maldini bergeming. Jadi tidak heran ketika nomor punggung kesayangannya – nomor 3 – dimusiumkan sementara sampai salah satu anaknya dianggap pantas untuk mengenakannya.

Baca juga: Kisah di Balik Nomor Punggung

Beban Mental.

Sebelum Daniel, kakaknya Crtistian sudah lebih dulu menjajal lapangan hijau. Pernah bermain di level primavera (level junior) untuk AC Milan tapi sama sekali tidak pernah berhasil masuk ke level senior. Christian dipinjamkan ke Brescia, yang saat itu masih berkutat di Serie B. Tapi di sana pun dia tidak pernah dimainkan. Christian sampai harus melanglang buana ke berbagai klub semenjana sebelum berakhir di klub Hamrun Spartans di negara Malta. Malta! Negara yang kerap jadi lumbung gol timnas Eropa. Sebuah kisah yang menyedihkan untuk seorang pemain sepakbola yang di Wikipedia ditulis bakal mewarisi nomor punggung 3 milik ayahnya.

Christian tidak punya kapasitas membawa nama besar bapak dan kakeknya. Kalau dilihat perjalanan karirnya maka tentu semua sepakat kalau dia bahkan tidak ada seujung kuku dari keberhasilan kakek, apalagi bapaknya.

Sekarang, semua mata Milanisti – dan sebagian penggemar sepakbola – tertuju pada Daniel. Apakah dia akan menyamai kebesaran nama kakek dan bapaknya? Atau, dia akan terpental jauh seperti nasib kakaknya?

Bisa dibayangkan betapa besar beban mental yang harus dibawanya. Membawa dua nama besar di punggungnya sekaligus. Membawa satu nama saja sulitnya bukan main, ini malah dua sekaligus.


Tiga generasi AC Milan

Saya tidak tahu bagaimana situasi sosial di Italia, tapi kalau di Indonesia beban itu pasti sangat besar. Dalam skala sangat kecil saya pernah merasakannya. Almarhum Bapak adalah seorang yang sangat fasih dalam dunia listrik dan mesin. Dia bisa memperbaiki jaringan listrik, dan paham mesin. Motor Vespa miliknya – yang sekarang saya pakai – dulu sering dia bongkar sendiri tanpa harus ke bengkel. Hanya sekadar mengganti spare part atau perawatan.

Kemampuannya itu diketahui banyak orang. Ini yang kadang membayangi saya.

Saya ingat betul sebuah kejadian ketika saya masih ABG. Suatu hari di lingkungan kami ada kegiatan tujuh belasan. Sebagai anak ABG saya juga ikut menjadi panitia, membantu-bantu memasang listrik dan sound system. Saya tidak punya banyak pengetahuan soal listrik atau sound system kala itu. Benar-benar cuma bantu-bantu saja. Ketika sedang bingung dengan rangkaian listrik di panggung, seorang bapak tetangga tiba-tiba saja berujar, “Ah masak kau begitu saja nda bisa? Bapakmu itu jago sekali kalau urusan begitu.”

Ujaran itu cukup menohok saya yang masih ABG. Tidak enak rasanya dibandingkan dengan sosok yang menang pengalaman puluhan tahun dibanding saya yang masih bau kencur.

Padahal Bapak bukan sosok yang sangat besar, tapi perbandingannya sudah cukup membuat saya tertohok. Bagaimana dengan anak seorang legenda seperti Paolo Maldini? Saya membayangkan Chtistian dan Daniel pasti pernah mendapatkan komentar yang kurang lebih sama. Langsung atau tidak langsung. Membandingkan kemampuan mereka dengan kemampuan sang ayah yang sudah jadi legenda. Apalagi mereka mengambil jalan yang sama dengan ayah mereka, menjadi pesepakbola. Jika saja mereka mengambil jalan hidup berbeda, mungkin pembandingan itu tidak akan muncul.

Pembandingan itu akan selalu menjadi beban mental yang berat bagi Christian dan Daniel. Membawa nama Maldini di belakang mereka saat mereka juga memilih sepakbola sebagai jalan hidup. Di negara berbeda, seorang Enzo Zidane memilih menggunakan nama Enzo Fernandez untuk mengurangi beban berat menjadi seorang pesepakbola karena nama besar Zidane, sang ayah. Meski begitu, Enzo juga tidak bisa mendekati kebesaran nama ayahnya.

*****

Membawa nama besar orang tua di belakang nama kita memang berat. Secara sadar atau tidak sadar, orang akan membandingkan kita dengan nama orang tua kita. Di beberapa sisi, membawa nama besar orang tua bisa memudahkan. Membuka berbagai peluang atau mempersingkat jalan menuju kesuksesan. Tapi itu tidak berlaku di dunia profesional yang benar-benar fair. Enzo Fernandez pernah menjadi bagian Real Madrid ketika ayahnya menjadi pelatih, tapi dia hanya turun sekali. Bukan karena ayahnya pelatih, lalu dia akan selalu diturunkan. Tidak seperti itu.

Sudahlah dia harus berjuang mencari sendiri jalannya, dia juga akan selalu dibandingkan dengan sang ayah. Sungguh berat, bok! Entah lebih berat mana; dibanding-bandingkan dengan orang tua sendiri, atau dibanding-bandingkan dengan mantan. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Waktu SD, klub jagoan saya Milan, Daeng. Biasa lah, anak-anak SD (di zaman saya setidaknya) biasanya punya satu klub jagoan. Zaman Shevchenko jaya-jayanya. Setiap kali nonton Milan, Maldini saya lihat seperti ketua kelas/senior yang berwibawa. Makanya waktu Maldini akhirnya pensiun–meskipun saya sudah jarang menonton bola–ikut sedih dan terharu juga.

    Btw, kalau Daniel akhirnya bisa menyaingi kebesaran ayahnya dan berhasil memakai no. 3, beuh…. bakal jadi salah satu cerita mengharukan dalam sepakbola. 😀

  2. Benar juga sih. Kalau di Indonesia, ini bakal jadi cerita panjang. Minimal, kalau pas main sepakbola, komentatornya bakal mengulas generasi sebelumnya (bakap/kakeknya). Di luar negeri akayaknya hanya sebagai pengingat, tidak terlalu dibesar-besarkan.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.