FilmReview

Tiga Film Korea Yang Manis Untuk Menemani Waktu Senggang


Tiga film Korea terakhir yang saya tonton dan ternyata bagus! Sangat lumayan untuk mengisi waktu luang.


Saking banyaknya waktu luang dalam masa Work From Home, saya jadi punya kesempatan untuk mencoba hal-hal baru yang belum dicoba sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah mencoba menonton film-film Korea Utara, eh Korea Selatan. Sebelumnya saya termasuk malas dan tidak tertarik untuk menonton film dari negeri Monyong Seo ini. Tapi sekira setahun belakangan ini saya mulai rajin menyimak film-film Korea. Dan ternyata banyak film Korea yang bagus, bahkan sampai jadi film terbaik yang menyabet Oscar tahun lalu.

Di tulisan ini, saya mau bercerita tentang tiga film Korea terakhir yang saya tonton. Film drama yang menguras air mata dengan ending yang sangat menyesakkan. Yuk yak yuk, kita simak.


Poster The Chaser

The Chaser (2008)

Ini film terakhir yang saya tonton, tepatnya beberapa hari yang lalu. Berkisah tentang Joong-hoo (Kim Yoon-seok)  seorang mantan petugas polisi yang dipecat dan berubah menjadi seorang mucikari. Dia pusing karena beberapa anak asuhnya tiba-tiba menghilang setelah menerima bookingan dari seseorang.

Suatu hari si pelaku beraksi lagi, memesan layanan perempuan dalam asuhan Joong-hoo. Kali ini Joong-ho sudah bersiap-siap. Bersama anak asuhannya Mi-jin (Seou Young-hee), Joong-hoo mengatur siasat. Si pemesan layanan bernama Yeong-min (Ha Jung-woo), seorang pemuda yang misterius. Dia membawa Mi-jin ke sebuah rumah mewah di pinggiran kota. Rumah mewah yang terlihat menyeramkan.

Dan ternyata di sanalah dia melakukan aksinya, melukai para korban-korbannya dan akhirnya membunuh mereka dengan meletakkan pahat di kepala bagian belakang, dan satu kali pukulan palu untuk membuat nyawa para korban menghilang dengan cepat.


Sebelum dibunuh, aku boleh mandi dulu gak?

“Tidak sakit koq, malah kalau kamu banyak bergerak rasanya akan lebih sakit,” kata Yeong-min kepada para korbannya. So sweet.

Dari seperempat film kita sudah tahu siapa pembunuh di film ini. Bahkan dia juga sudah tertangkap dan ditahan di kantor polisi. Tapi, tidak mudah untuk tetap menahannya lebih lama apalagi mendakwanya sebagai pembunuh berantai. Ada kondisi politik saat itu yang tidak membuat polisi leluasa untuk mencari bukti atas perbuatan Yeong-min. Di sisi lain, Yeong-min juga seseorang yang cerdas. Meski dia mengaku membunuh, tapi dia punya cara untuk menyulitkan polisi.

Hingga akhirnya dia dibebaskan karena tidak cukup bukti.

Joong-hoo lah yang kemudian bersusah payah mencari bukti atas perbuatan Yeong-min. Awalnya hanya karena alasan bisnis, dia geram pada Yeong-min yang disangkanya menjual anak-anak asuhnya. Tapi kemudian alasannya berubah ketika dia bertemu anak perempuan Mi-jin yang berusia tujuh tahun.

Penutup film ini agak mencengangkan. Tidak semanis film-film Hollywood ketika jagoan datang di saat yang tepat atau jagoan kalah duluan dalam sebuah duel sebelum akhirnya menang di akhir duel. Film ini tidak seperti itu. Endingnya agak menyesakkan dan sedikit mengagetkan.

Skor: 3,8/5


Poster Oldboy

Oldboy(2003)

Tahun 1988 seorang pebisnis bernama Oh Dae-su (Choi Min-sik) diculik oleh seseorang yang tidak dikenal. Dia terbangun di sebuah kamar hotel yang kemudian jadi tempat tinggalnya selama 15 tahun. Di kamar itu dia melihat kejadian di dunia luar lewat pesawat televisi, menikmati makanan yang dimasukkan lewat lubang pintu, dan menjaga kewarasan dengan berlatih tinju dan berolahraga. Dari televisi itu juga dia tahu kalau istrinya mati dibunuh, dan dia jadi tersangka utama.

Selama 15 tahun dia ada di dalam kamar tertutup itu. Lalu secara misterius dia dilepaskan, dengan bekal sebuah handphone. Lima belas tahun tidak melihat dunia, tiba-tiba dia dilepaskan dengan berbagai pertanyaan. Siapa yang menculiknya? Kenapa dia diculik? Kenapa akhirnya dia dilepaskan? Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Di restoran Jepang dia bertemu seorang gadis bernama Mi-do (Kang Hye-jung). Gadis ini yang kemudian terlibat dalam kehidupan misterius Oh Dae-su. Kehidupan yang semakin misterius ketika seorang bernama Lee Woo-jin (Yoo Ji-tae) meneleponnya dan mengaku sebagai orang yang menculiknya. Dia memberi waktu lima hari kepada Oh Dae-su untuk mencari alasan kenapa dia diculik dan dipenjara selama 15 tahun. Kalau berhasil, Lee Woo-jin rela membunuh dirinya. Tapi kalau gagal, dia akan membunuh Mi-do.


So sweet banget sih

Proses pencarian ini membuat satu per satu cerita masa lalu Oh Dae-su terungkap. Termasuk kisah yang melibatkan Lee Woo-jin dan satu kejadian masa sekolah yang melatarbelakangi rencana penculikan yang penyekapan selama 15 tahun itu. Bahkan, satu fakta paling mengejutkan muncul menjelang akhir film. Fakta yang tidak terpikirkan selama berjalannya film.

Film ini memberikan cerita yang tidak biasa, dengan tambahan adegan-adegan kekerasan, perkelahian, dan bahkan pemotongan lidah. Cukup memuaskan dari sisi cerita dan penggambaran.

Skor: 4/5


Poster film I Saw The Devil

I Saw The Devil (2010).

Adegan dibuka dengan seorang perempuan muda yang mengalami kesialan, ban bocor di tengah jalan sepi di malam hari. Seorang supir bus angkutan sekolah bernama Jang Kyung-chul (Choi Min-sik) menepi menawarkan bantuan. Si perempuan muda menolaknya dengan sopan. Tapi penolakan itu ternyata menjadi awal bencana. Jang Kyung-chul ternyata adalah penculik. Dia memukuli si perempuan muda itu sampai pingsan dan membawanya ke sebuah tempat terpencil. Di sana si perempuan disiksa, dibunuh, lalu dimutilasi. Beberapa hari kemudian polisi menemukan potongan tubuh dan kepala si korban.


Bannya bocor ya mbak?

Kim Soo-hyun (Lee Byung-hun) adalah seorang agen rahasia pemerintah, dan juga adalah tunangan si perempuan muda yang mati dimutilasi itu. Dengan kepedihan mendalam dia mencoba mencari tahu siapa pelaku pembunuh tunangannya itu. Tidak sulit karena dia punya sumber daya dan kemampuan sebagai agen rahasia.

Akhirnya dia memang menemukan Jang Kyung-chul, sang pelaku. Di film lain, Kim Soo-hyun akan membalas dendam dengan membunuh orang yang sudah membunuh tunangannya. Tapi di film ini tidak. Meski sudah berhasil menaklukkan Jang Kyung-chul, Kim Soo-hyun tidak juga membunuhnya. Dia malah melepaskan Jang, dengan sedikit luka tentu saja. Dan Jang Kyung-chul kembali ke kehidupan biasanya termasuk meneruskan hidupnya sebagai pembunuh berantai yang menyasar perempuan muda.

Setiap kali dia beraksi, Kim Soo-hyun akan datang menghentikannya. Memukulinya, memotong tendon achillesnya, atau melakukan apa saja yang melukai Jang.

“Jangan buru-buru mati. Aku ingin kamu menikmati mimpi burukmu perlahan-lahan,” kata Kim kepada Jang yang belum mengerti siapa Kim, dan apa yang diinginkannya.

Dan ketika dia tahu siapa Kim sebenarnya, permainan jadi berubah. Jang Kyung-chul berubah dari seorang korban menjadi pemangsa, dan giliran Kim Soo-hyun yang kelimpungan. Rencana aksi balas dendamnya ternyata menyisakan lubang yang lupa diantisipasinya. Jang memegang kartu as, sementara Kim terdesak dan memutuskan untuk berhenti bermain-main.

Akhir film ini memang bisa ditebak. Kejahatan akan kalah oleh kebaikan. Pertanyaannya hanya, siapa sebenarnya yang jahat, dan siapa yang baik?

Buat mereka yang suka dengan cerita yang tidak biasa dan adegan eksplisit yang memperlihatkan badan dipotong, darah muncrat, teriakan kesakitan, badan tertusuk pisau, orang memakan daging manusia, dan kepala terputus, maka film ini sangat saya sarankan. Film yang cukup untuk membuat saya bergumam, “Gila!”

Skor: 4,5/5

*****

Nah, itulah tiga film Korea terakhir yang saya tonton. Film yang menyenangkan, penuh dengan kisah drama yang tidak tertebak, adegan tangisan haru, dan yah ada sedikit darahnya sekadar pemanis saja. Kalian juga mungkin tertarik untuk menonton film-film ini, lumayan untuk mengisi waktu luang. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman ringan karena beberapa adegan sepertinya memang cukup mengocok perut atau minimal membuat kamu menoleh dari layar.

Setelah ini ada beberapa film lagi yang siap saya tonton. Rekomendasi dari teman-teman di media sosial dengan genre yang sama. Atau, kalian punya rekomendasi film dengan genre yang sama? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. Terima kasih resensinya, Daeng. Dengan demikian saya ga perlu nonton karena ga mau liat yang ngeri-ngeri ahiahiahiahiahia…

  2. Nonton parasite daeng. Bagus bangetki itu.

  3. Ada juga film komedi, aku lupa mereka semacam detektif tapi penuh kocak tingkah lakunya. Selain itu mungkin parasite juga bisa ditontong, daeng. Kalau mau lebih militan nonton drama korea yang sekarang lagi hits hahahahahahha

  4. Oldboy kayaknya menarik, Daeng. Film Korea Selatan yang terakhir kali saya tonton itu Burning (2018), adaptasi dari cerpen Haruki Murakami. Ceritanya soal seorang pemuda yang tinggal di desa dekat perbatasan Korea Utara. Saya suka juga sama The Himalayas (2015). Tapi favorit saya Taegukgi (2004), Daeng.

  5. tak kusangka dirimu ikut arus menonton film Korea juga! 😀 tapi memang film-film Korea ini bagus bagus, yak, terutama saat film Parasite memenangkan Gammy Award sebagai best picture!

    anyway, dirimu mendapat Liebster Award dariku! silakan dicek https://matriphe.com/2020/05/10/mendapat-liebster-award.html

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.