BukuReview

Buku Biografi Yang Saya Baca di 2018

Jumlah buku yang saya baca di 2018 sangat sedikit, bahkan saya malu menceritakan berapa jumlahnya. Dari sedikit buku yang saya baca itu, secara tidak sengaja sebagian besarnya adalah buku biografi.


Buku biografi yang saya baca di 2018

OKE, SAYA HARUS MEMULAI TULISAN INI DENGAN PENGAKUAN kalau selama 2018 saya sangat jarang membaca buku. Saya lupa berapa persisnya, tapi pastinya tidak sampai 20 buku. Bahkan mungkin hanya 10 buku lebih sedikit. Sumpah, itu jumlah aslinya. Saya sama sekali tidak ambil untung dari situ. Kenapa jumlahnya sedikit sekali? Hmm, apa saya harus mengulang jawaban klasik yang sudah sering didengar di masa ketika media sosial sudah semakin jamak ini? Media sosial dan internet sangat mencuri perhatian, plus seperti biasa kata “capek” dan “tidak ada waktu” jadi pembenaran.

Dari sedikit buku yang saya baca itu, saya baru sadar kalau sebagian besarnya adalah buku-buku biografi. Iya, ternyata tanpa saya sadari saya lebih banyak membaca buku biografi di tahun 2018. Nah, saya mau bercerita sedikit tentang buku-buku biografi yang saya baca di tahun 2018 ini.

Alex Ferguson; Biografi Saya

Buku ini sebenarnya sudah lama saya idam-idamkan, mungkin tidak lama setelah terbitnya. Saya penasaran pada kisah salah satu manager klub paling berhasil di Inggris dan bahkan di dunia. Sayang sekali harganya tidak bersahabat sehingga saya lebih banyak mengurungkan niat untuk membawanya pulang secara halal dari toko buku.

Beruntung Gramedia menjelang akhir tahun 2017 punya program Harbolnas dan menempatkan buku ini sebagai salah satu buku yang mereka jual murah. Akhirnya, kantong yang tak seberapa tebal ini berhasil juga membawa pulang dengan halal buku biografi Sir Alex Ferguson.

Kisah di buku ini tentu saja menarik. Mengulik kehidupan pribadi Sir Alex yang penuh drama dari sejak masih menjadi manager sebuah klub kecil di Scotlandia sampai akhirnya didapuk memimpin klub sebesar Manchester United. Di dalam buku ini juga dikisahkan beberapa cerita yang sebelumnya mungkin tidak pernah diekspos media. Dari tragedi sepatu yang melukai pelipis David Beckham sampai kisah kenapa Roy Keane akhirnya harus didepak dari Manchester United. Tidak ketinggalan juga kisah perseteruan Sir Alex dengan beberapa pelatih papan atas liga Inggris lainnya seperti Arsene Wenger, Jose Mourinho dan Rafael Benitez.

I Am Zlatan Ibrahimovic

Bagaimana memahami isi kepala seorang pesepakbola yang bisa dianggap sebagai salah satu pesepakbola paling angkuh dan percaya diri di awal milenium kedua ini? Jawabannya adalah membaca buku biografinya.

Zlatan yang besar di salah satu kawasan paling buruk di Malmo, Swedia tumbuh menjadi seorang remaja dengan tekad yang kuat. Tekad yang dibarengi dengan kepercayaan diri, keberanian dan egoisme yang besar. Tanpa sifat-sifat seperti itu, rasanya mustahil dia bisa keluar dengan selamat dari lingkungan yang begitu buruk yang menghiasi masa kecil dan remajanya.

Sifat itu juga yang terus terbawa hingga dia pelan-pelan menjadi pesepakbola profesional yang diperhitungkan. Dari Malmo FC ke Ajax Amsterdam, lalu ke Juventus, kemudian ke Inter Milan, Barcelona, AC Milan dan di buku ini berakhir di Paris Saint Germain. Semua perjalanannya punya warna sendiri dan tidak sedikit dibumbui dengan bentrokan. Baik itu dengan rekan setim, manajemen klub atau bahkan dengan pelatihnya sendiri. Zlatan adalah Zlatan, sosok keras kepala dengan determinasi tinggi yang tidak kenal kata menyerah.

Buku ini sangat menarik buat saya karena bisa mengubah persepsi saya tentang seorang pesepakbola besar yang selama ini saya anggap hanya bermulut besar.

Steven Gerrard; Kisah Saya.

Lebih panjang tentang buku ini sudah saya tuliskan di sini. Silakan dibaca saja di tautan itu. Intinya, buku ini menarik dan saya sama sekali tidak menyesal membelinya.

Heavier Than Heaven.

Lahir dalam sebuah keluarga pekerja kelas menengah, Kurt Donald Cobain berevolusi dari seorang anak kecil yang periang dan tidak bisa diam menjadi seorang remaja pemalu yang dirundung depresi. Perpisahan orang tuanya menghancurkan masa remaja Kurt. Perlahan dia kehilangan kepercayaan diri, kehilangan semua kehangatan keluarga yang dia rindukan.

Kurt menghabiskan sebagian besar masa remajanya sebagai nomaden. Berpindah-pindah tempat tinggal karena nyaris tidak ada seorang pun yang tahan dengan sikap membangkangnya. Sampai akhirnya dia memilih musik sebagai penyelamat hidupnya, dan belakangan alkohol serta obat-obatan juga ikut masuk dalam hidupnya.

Buku ini mengangkat kisah paling intim dari seorang ikon rock tahun 90an. Kisahnya tidak jauh dari depresi-keinginan bunuh diri-sakit perut kronis-kecanduan heroin-popularitas-dan ditutup dengan bunuh diri.

Membaca buku ini menerbitkan rasa kasihan di dalam diri saya. Kasihan pada sosok Kurt yang begitu menderita secara fisik dan mental sejak muda. Tapi, tanpa semua itu mungkin dia tidak akan sempat terkenal dan jadi ikon. Mungkin.

Andrea Pirlo; I Think Therefore I Play

Salah satu gelandang terbaik yang pernah dilahirkan tim nasional Italia. Gelandang yang sepertinya pemalas, hanya bergerak seadanya tapi ketika bergerak mampu memberi letupan yang mengagetkan bagi lawan-lawannya. Andrea Pirlo, yang di lapangan selalu terlihat serius dengan kening berkerut dan tatapan tajamnya, ternyata adalah seorang yang sangat jahil. Bahkan si badak Gennaro Gattuso pun pernah jadi korbannya.

Buku ini berkisah dengan alur yang cukup berat. Tidak seperti buku Zlatan atau Stevie G. Bahkan humor di dalamya pun dikemas dengan cara yang berat. Nyaris tidak seperti sebuah humor. Tapi mungkin itu adalah karakter yang sangat tepat menggambarkan Andrea Pirlo.

Buku tipis yang cukup menyenangkan meski tidak sedetail kisah Zalatan atau Stevie G misalnya.

Rahasia-rahasia Ali Moertopo

Salah satu jenderal yang sangat loyal menyokong Soeharto di awal kepemimpinannya. Bahkan Ali Moertopo dianggap sebagai salah satu think thank Soeharto yang sukses merancang cetak biru orde baru.

Loyalitasnya pada sang Bapak Pembangunan tidak perlu diragukan, meski di penghujung karirnya dia harus terpental keluar dari lingkaran kekuasaan yang dulu ikut dibangunnya. Akhir kisah yang menyedihkan untuk seorang jenderal yang di tangannya juga penuh bercak darah. Ali Moertopo dianggap ikut andil dalam banyak kejadian penting di negeri ini. Dari peristiwa Malari 1974, sampai usahanya mendiskreditkan Islam lewat beragam operasi intelejen.

Penting untuk membaca buku biografi orang seperti beliau untuk bisa tahu wajah sejarah negeri kita yang sebenarnya.

Itulah enam buku biografi yang saya baca di tahun 2018. Saya baru sadar kalau ternyata sebagian besarnya adalah biografi pesepakbola. Di rak buku masih ada dua biografi lain yang belum tersentuh. Satu tentang pesepakbola dan satu lagi tentang jenderal lain di masa orde baru yang cukup terkenal. Mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan juga.

Bagaimana dengan kalian? Buku apa yang kalian baca di tahun 2018 kemarin? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (4)

  1. Kebanyakan pemain bola, tapi biografi selalu menarik dibaca sih memang.

  2. biografi Aex Ferguson di rumah masih tersegel. sudah tahunan tak terbuka 🙁

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.