Random Post

Menebar Paku Di Jalanan Makassar

Pakui yang fenomenal itu

Makassar termasuk sial, kotanya dianggap sebagai galeri memajang wajah para calon pemimpin bahkan jauh sebelum masa pilkada. Sayangnya, tidak semua pajangan wajah itu punya elemen visual menarik. Ada yang bahkan sangat norak.

Suatu hari kami kedatangan tamu sahabat blogger dari Kalimantan. Ketika mendaratkan kakinya di kota Makassar dia bercerita soal keheranannya melihat kota ini disesaki oleh baliho penuh wajah menebarkan senyum. Menjelang pilkadakah ? tanyanya. Ketika kami jawab tidak, dia tentu makin heran. Belum menjelang pilkada saja kota ini sudah penuh dengan baliho, bagaimana kalau menjelang pilkada ya ? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Dengan berat hati saya memang mau bilang kalau kota Makassar sekarang ini terasa sangat sesak oleh ragam baliho penuh wajah-wajah sok kenal dan sok ramah. Mereka adalah orang-orang yang mengintip peluang untuk maju menjadi pemimpin. Tahun 2013 Sulawesi Selatan akan menggelar pilkada gubernur, setelah itu akan digelar pilkada walikota untuk kota Makassar. Masih setahun lebih, tapi keramaiannya sudah mulai dari sekarang.

Sayangnya, tidak semua pameran wajah itu enak dipandang. Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah baliho yang mengundang perhatian dari banyak warga Makassar. Salah satu alasan kenapa menarik perhatian adalah karena jargon dan desainnya. Jargonnya terdengar aneh dan desainnya terkesan norak. Baliho itu disebut orang baliho PAKUI merujuk kepada jargon utama yang diusungnya.

Desainnya yang aneh

Pakui, dalam bahasa Indonesia logat Makassar berarti memaku. Dalam baliho itu, PAKUI adalah akronim dari 5 kata yang anehnya merupakan kata gabungan dari bahasa Inggris dan Indonesia. Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Inspirasi. Bagaimana ? Anda sudah menemukan kelucuan ?

Baliho ini dibuat oleh pendukung Bahar Ngitung, seorang anggota DPD RI utusan dari Sulawesi Selatan. Tujuannya selain memperkenalkan diri adalah untuk memberikan dukungan kepada Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sebentar lagi akan maju ke pertarungan SulSel1 tahun 2013 nanti.

Salah satu ciri khas dari Bahar Ngitung ini adalah akronim yang digunakannya yaitu ; OBAMA singkatan dari Om Bahar Mantap. Saya tahu anda mulai geli, tapi tahan dulu karena kegelian anda mungkin masih akan berlanjut. Obama yang satu ini memang memanfaatkan momen pemilihan presiden AS waktu itu. Dengan akronim Obama yang dipaksakan dia juga mengusung jargon HOPE, persis seperti Obama yang asli. Bahkan waktu itu beberapa materi kampanyenya juga menjiplak materi kampanye Obama.

Tapi lupakan soal itu, kita kembali ke PAKUI yang fenomenal ini. ?Coba anda lihat desain keseluruhannya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia desain saya langsung bisa merasa kalau baliho ini membingungkan. Tidak ada satu gambar atau elemen yang menjadi point of interest (POI), semua terkesan berlomba menjadi pusat perhatian.

Bagian Atas PAKUI

Baliho ini dibuka dengan foto Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sedang meretas jalan untuk kembali menjadi gubernur di pilkada nanti. Foto SYL di sebelah kiri dan di sebelah kanan tulisan pujian berbunyi : Pemimpin yang berhasil membawa Sul-Sel terbaik di Indonesia. Tolong jangan tanya saya terbaik dari segi apa karena saya sendiri tidak tahu dan belum pernah menemukan fakta soal itu.

Berikutnya ada gambar sang Obama Makassar yang sedang memaku menggunakan pakaian adat. Gambar ini muncul dalam berbagai varian. Selain berpakaian adat, sang Obama juga muncul dengan kaos dan kemeja. Gambar ini sebenarnya bisa menjadi POI, sayangnya karena di belakang sang Obama ada sebatang paku super besar yang terlihat mengintimidasi sehingga kesannya jadi numpuk.

Kemudian di bagian bawah ada tulisan PAKUI yang jadi jargon utama baliho tersebut. Bagian paling bawah ada tulisan : DON?T STOP KOMANDAN !! ini adalah jargon lain dari sang gubernur incumbent Syahrul Yasin Limpo. Jelas sudah kalau om Bahar yang mantap ini mendukung Syahrul Yasin Limpo untuk maju kembali menjadi gubernur. Tapi rupanya om Bahar kita ini masih kurang percaya diri hanya dengan sekadar menuliskan jargon khas tuannya karena dia merasa perlu untuk menuliskan inisial sang pujaan di bagian bawah.

Setelah itu baliho ini ditutup dengan gambar berbatang-batang paku yang berserakan di bagian bawah. Lengkap sudah !!

Bagian Bawah PAKUI

Saya jadi bertanya-tanya, pesan apa yang ingin disampaikan sang Obama ini ? Pesan kalau dia jago memancangkan paku ? Pesan kalau dia senang menebar paku ? Atau mungkin ada pesan tersembunyi yang hanya bisa dipecahkan a la Da Vinci Code ? Kalau dia ingin memamerkan 5 hal yang jadi kepanjangan dari PAKUI yaitu ; Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Insipirasi maka saya harus bilang kalau dia tidak berhasil. Lagipula, apa sih maksud dari kelima kata itu ? Siapa yang dimaksud ? Sang Obama atau sang tuan yang mau maju jadi gubernur lagi ?

Yah, dengan berat hati untuk anda yang tidak berada di Makassar saya peringatkan kalau ke Makassar sekarang ini maka berhati-hatilah dengan paku yang bertebaran di sepanjang jalan kota Makassar. Paku yang bukan membuat ban kendaraan anda bocor tapi mungkin membuat kening anda berkerut. Syukur-syukur kalau anda bisa tersenyum geli.

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (30)

  1. Baca judulnya, sy berpikir akan membaca pengalaman Daeng Ipul tentang menambal ban bocor. Ternyata oh ternyata..

  2. salah satu orang paling tidak penting tahun ini.

  3. Akhirnya ketahuan juga pelaku penebar ranjau paku di jalanan!

  4. hemm… sependapat!

    balihonya sulit diterjemahkan..
    bagi orang awam seperti sy yg ndak ngerti desain langsung takut liatnya..
    jangan2 nanti mauki na PAKUI jg.. 🙁

  5. Baliho ini dijalan mana ya ? kayaknya sering lewat disitu…

  6. daengrusle

    Saya melihat tipologi sense of belonging-ship yang sangat buas di sini. Si pemasang gambar ini seakan-akan merasa bahwa seluruh mata Makassar adalah miliknya, jadi dia bisa dengan leluasa memasang foto dirinya dan semua janji yang bisa dia umbar semaunya. Karakter seperti ini, maaf, ?mengingatkan saya kepada Frasa klasik Raja Louis XIV, ?L’etat c’est moi? (?Negara adalah saya?). masyarakat, termasuk semua ruang public yang ada, menurut para penganut penyakit maniak kepemilikan ini adalah ruang dan benda2 yang bisa mereka rayu dan miliki semaunya. Penghormatan terhadap hak pribadi masyarakat akan ruang yg nyaman dan indah menjadi terabaikan. ?Belum lagi bahwa kekata yang dia tampilkan dengan segala macam keseronokannya, sejatinya tidak sedap untuk dibaca atau dilihat, sebagaimana sudah dipaparkan dengan keren oleh Ipul..?

    Alhasil, saya pribadi meyakini bahwa upaya pemaksaan pandang melalui media baliho atau papan gambar seperti ini hanya berakibat buruk buat pencitraannya, terutama kalau para pemilih sudah mulai cerdas memilah, dan dengan asumsi bahwa politik uang tidak berjalan baik. Hanya sayangnya, system demokrasi kita masih dipenuhi celah yang diambil oleh orang2 maruk ini sehingga pada akhirnya bukan soal citra atau jumlah pilihan yang akan menentukan kemenangan mereka, tapi soal ?kelihaian? memainkan hasil pemilihan. Bukankah itu ironis di masa yang dianggap orde reformasi ini?

    • iPul dg.Gassing

      wah..terima kasih sekali untuk komentarnya yg panjang..
      begitulah, sebagian besar mereka yg mau jadi pemimpin itu memang hanya berharap bisa meraup perhatian dalam waktu singkat..

      yang jadi korban kemudian adalah kota dan kita..

  7. Nggak dimana-mana ya Daeng. di Jakarta juga udah penuh sama “benda begituan”. Terus terang, memuakkan. Saya nggak kenal, saya nggak bakalan milih. Wajah-wajah yang minta ditampol kepalanya satu persatu. Ketika pilkada selesai, mereka entah berada dimana. memuakkan. lagi-lagi memuakkan.

    Saya merasa terhibur dan ngakak sejadi-jadinya ketika membaca review dari Daeng. hihihihi. Entah apa maksud si pembuat (yang tentunya orang desain juga) dan si Oom Bahar ini dalam balihonya. Yah, saya nggak mau komentar banyak deh soal desainnya ini, semuanya sudah terwakilkan dengan sangat baik oleh review dari Daeng Ipul.

    mm…menurut saya, dua kali sudah lebih dari cukup untuk memberi orang-orang ini kesempatan. Kesempatan pertama mungkin khilaf, tapi kesempatan kedua disia-siakan pula? yah, saya akan menjadi si putih saja kalau begitu O:-) *curcol*

    • iPul dg.Gassing

      jadi ? golongan putih nih ?
      saya juga 😀
      meski sebenarnya tidak tepat tapi ya bagaimana lagi..masih susah membangun kepercayaan kepada para politisi itu

  8. dimana-mana sama ajalah. Bekasi juga begitu kok sekarang, pilkada masih 2013 tp wajah si incumbent yg secara ajaib lolos dari kursi pesakitan pengadilan tipikor tahun ini, sudah dipampang dimana-mana.

    saya sih otomatis ‘tutup mata’ kalo liat baliho macam itu

    • iPul dg.Gassing

      kemarin pas di Surabaya itu masih ingat gak ekspresi kagum kami pas liat perempatan kota Surabaya relatif bersih dari pajangan narsis ?

      gak tau ya, mungkin kita kebetulan aja lewat jalan yg bersih tapi minimal bisa bikin kami ( orang Makassar ) ini jadi kagum

  9. Hahahaha, saya geli ngelihat “Don’t Stop Komandan …!” Kenapa ada jarak yang jauh sekali antara titik dan ‘komandan’?? 😀

    Bagus Bang, kalo Abang melihat dari segi desain, saya dari segi penulisannya. 😀 Mirip dengan kesalahan ejaan yang di sini, di sini, dan di sini. :mrgreen:

    • iPul dg.Gassing

      wah..saya malah baru merhatiin..
      mungkin itu maksudnya biar lebih dramatis
      😀

  10. minimal poster ini berhasil..
    berhasil membuat kita gak nyaman 😀

    mungkin perlu strategi marketing juga dalam kampanye-kampanye ini yah, toh tujuannya kan untuk meraih hati rakyat bukan cuma sekedar nampang, menunjukkan ego dengan membawa-bawa sosok orang lain pula, siapa pun dia.

    maaf yah nda ngerti masalah politik, mamie cuma orang biasa 🙂

    • iPul dg.Gassing

      biasanya kaum politisi di negara maju memang punya tim khusus untuk merancang pencitraan dan promosi mereka, termasuk desain visual.
      sayangnya di Indonesia banyak yg malas pake..lebih senang main serampangan, baliho hanya diorder di percetakan tanpa ada tema..
      😀

  11. Singkatannya PAKUI pakai bahasa campur Indonesia-Inggris lagi, kalau Inggris ya Inggris semua aja, konsisten dong.. 🙂

  12. Daeng Oprek

    Aku sering lihat baliho ini kalau lagi naik motor, dipikiranku langsung terarah pada ban Motorku yang memang sering bocor, Dan dibilang norak…memang iya, dan bahkan SANGAT NORAK :D, dan awal-awalnya aku lihat baliho itu kukira sedang mempromosikan makanan dari salah satu rumah makan, soalnya dari tulisan PAKUI itu bisa ber-akronim dari PALLU BASA dan KUAH IKAN, nah akronim itu lebih pas, hehehe.

    Kalau diitung2 itu biayanya pasti sangat mahal, 1. biaya desain, 2. biaya pemasangan, 3. biaya cetak, 4. pajak (kalau tidak kongkalikong aturan). , Jadi alangkah baiknya, biaya baleho itu dipergunakan untuk memperbaiki ruas2 jalan yang rusak, apalagi saat ini hujan, maka makin terasa bagaimana warga sangat resah karena jalanan yang tidak nyaman.

    Demikian komentarnya, semoga baliho itu diterjang angin, *opss…sensorki dulu ini komentar. 😀

  13. Wah saya juga mual lihat baliho dimana-mana. Sangat merusak pemandangan!!!

    • iPul dg.Gassing

      saya membayangkan kalau saja mereka mau menata dengan baik model balihonya dan diletakkan dengan rapih, mungkin akan lebih enak dipandang..
      betul ndak ?

  14. Bahar Ngitung juga menjual nama OBAMA. Ia menggunakan nama besar OBAMA sebagai penguasa negara adikuasa sebagai akronim namanya. Menurut saya ini adalah sebuah buktu ketidak-kreatifan pemerintah kita. Satu hal lagi, PAKUI menurut saya tidak cocok untuk dijadikan semboyan kampanye. Apa tidak ada semboyan lain yang lebih pantas???

  15. HIdup ACO; *No choice sebelum anda dipakui hihii

  16. 😀 ide pakui ini judulnya gado-gado campur salad dan semur jadinya malah ancur 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.