Kolombia 7: Tentang Bogota

Hari kedua di Bogota, saya sudah lebih menikmati kota yang menginspirasi hadirnya Transjakarta itu. Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini.

Pagi masih dingin di Bogota, tapi taman di sekitar hotel yang saya tempati sudah ramai oleh warga yang berolahraga. Dari anak muda sampai orang tua, laki-laki dan perempuan. Sebagian besar berlari-lari kecil mengitari taman, sebagian lagi berjalan kecil. Beberapa dari mereka membawa anjing.

Saya perhatikan banyak sekali orang Bogota yang jalan-jalan membawa anjing. Bukan hanya di taman di pagi hari. Jenisnya pun beragam. Dari anjing kecil sejenis Chihuahua sampai anjing besar seperti German Sheperd. Di banyak tempat ada tanda agar orang memungut dan membersihkan sendiri kotoran anjingnya, ada pula tempat-tempat yang menyediakan tempat minum untuk anjing.

kotoran anjing
Tolong bersihkan kotoran anjingmu ya

Jalan dan Sarapan

Sejak hari kedua di Bogota, saya sudah jauh lebih menikmati. Tidur sudah nyenyak, bangun pun lebih segar. Saya keluar kamar sekitar jam 7 pagi dan bertemu Neil – salah satu peserta juga – yang rupanya berniat untuk jogging. Jadilah kami jalan bersama menyusuri taman Parque El Virrey yang ramai pagi itu. Sepanjang jalan kami mengobrolkan banyak hal. Neil tinggal di Uganda walaupun dia aslinya orang Kanada. Dia lumayan enak diajak ngobrol, dan jadilah kami berjalan bersama mungkin sampai 4 blok.

Kami melewati taman yang ramai, lalu berputar melintasi trotoar yang penuh dengan orang yang bergegas ke kantor. Halte TransMilenio berada tidak jauh dari tempat kami berjalan.

Sebagai informasi, Transjakarta itu terinspirasi dari TransMilenio di Bogota. Orang Jakarta mengadopsinya dan menjadikannya Transjakarta seperti yang kita tahu sekarang. Sepertinya memang transportasi umum di Bogota sangat nyaman dan terkoneksi dengan baik. Inilah yang membuat orang tidak terlalu terpikir untuk membeli kendaraan.

“I think we should try the street food,” kata saya. Sepanjang jalan beberapa kali kami melewati pedagang makanan di jalan. Bentuknya cukup menarik.

“I think we should” kata Neil.

Jadi berhentilah kami di sebuah gerobak dagangan yang dijaga oleh bapak-bapak. Ada wajan pemanggang di gerobaknya. Dagangannya seperti roti. Dengan keterbatasan bahasa kami mengambil dua roti yang dijajakan. Harganya COP2.500,- atau sekitar Rp.10.000,- per biji. Masih masuk akal.

Nama makanannya Arepa, roti dari jagung berisi keju. Di bagian atasnya juga ditaburi keju parut. Enak! Saya suka karena rasanya empuk, gabungan antara keju dan jagung. Pas sekali untuk sarapan. Siang hari di hotel, panitia juga menyediakan arepa sebagai cemilan, tapi rasanya beda. Arepa yang dijajakan mamang-mamang di tepi jalan lebih maknyos rasanya.

“Street food never fail,” kata Neil.

Setelah berputar lebih dari dua blok, kami kembali ke hotel. Neil memilih melanjutkan jogging karena katanya kurang cukup, sementara saya memilih merokok. Sungguh dua kepribadian berbeda.

Tadinya saya berniat untuk sarapan, tapi saya lihat belum jam 8 pagi. Masih sangat lowong, kayaknya lebih enak untuk jalan-jalan. Akhirnya saya keluar lagi dan berputar ke arah berlawanan. Kalau tadi belok kiri, sekarang belok kanan. Saya berputar ke arah agak dalam. Hoteles B3 bisa dibilang ada di tepi jalan besar, jadi saya memilih untuk masuk ke jalan yang lebih kecil.

Kesan saya, lingkungan itu terasa nyaman sekali. Trotoarnya lebar dan relatif bersih, sangat enak untuk berjalan kaki.

Jalanan di daerah Chico

Karena masih pagi dan daerah ini adalah daerah perkantoran, jadi banyak orang yang berlalu lalang. Sebagian besar dengan pakaian kantor yang rapi. Di sini saya merasa berada di tengah-tengah aktor dan aktris telenova. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng semua woy! Apalagi karena cuaca dingin jadi mereka terlihat sangat stylish dengan pakaian yang rapi. Jaket kulit, jas, long coat, jaket tebal, syal di leher, dan sepatu boot. Benar-benar cuci mata rasanya.

Saya berhenti di sebuah taman di seberang Parque El Virrey, menikmati pagi yang masih dingin. Satu-dua orang melintas dengan lari-lari kecil, ada juga yang bersepeda. Beberapa lainnya jalan santai dengan anjing di sampingnya. Pagi yang menyenangkan.

Bogota Itu Menyenangkan

Memang saya hanya melihat satu bagian dari kota Bogota, tidak seluruhnya. Tapi sejauh ini saya merasa kota itu sangat menyenangkan. Trotoar yang lebar yang pertama menarik perhatian saya. Lalu jalanan yang tidak terlalu ramai.

“Enak ya di sini, tidak macet,” kata saya di suatu siang.

“Oh kalau di sini sih tidak macet. Coba kalau di daerah selatan, jam kerja di sana macet sekali,” jawab Andres, orang Kolombia yang jadi teman selama di Bogota.

Besoknya saya sempat ke daerah selatan ke daerah yang disebut oleh Andres, tepat di jam bubar kerja. Tapi yang saya temukan bukan macet, hanya padat dan perlambatan. Saya bilang ke Andres kalau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan macet di Jakarta.

“Try google it ‘traffic jam in Jakarta,’” kata saya ketika kami bertemu lagi keesokan harinya.

“Wow!” Dia tersentak ketika melihat hasil googling dengan kata kunci “macet di Jakarta.” Saya yakin dia pasti sadar kalau macet di Bogota tidak ada apa-apanya dibanding Jakarta.

Selain mobil, orang Bogota juga banyak menggunakan sepeda motor, tapi bukan motor bebek. Sebagian besarnya adalah motor besar atau kadang disebut motor cowok atau motor kopling. Sepertinya hanya sekali saya menemukan motor sejenis Nmax di Bogota. Sisanya ya semacam Honda CBR, Yamaha XSR, dan semacamnya. Bahkan Triumph dan Royal Enfield juga sangat mudah ditemukan di jalanan Bogota.

Di banyak titik kita gampang menemukan polisi yang di Bogota berseragam biru tua dengan rompi atau helm berwarna hijau stabilo. Bahkan di suatu malam saya sempat menemukan mereka melakukan sweeping di dekat hotel, memberhentikan kendaraan secara acak dan memeriksa surat-surat mereka.

Pemandangan seperti ini yang buat saya menepis gambaran kalau Kolombia itu tidak aman, penuh dengan perampokan, penculikan, atau pembunuhan. Atau, jangan-jangan banyak polisi bertebaran karena sering terjadi aksi kriminalitas? Entahlah, yang jelas dengan adanya polisi di banyak titik itu saya justru merasa lebih aman untuk jalan-jalan sendiri.

Satu-satunya yang tidak terlalu nyaman saya lakukan adalah merekam video lama-lama. Bukan karena merasa tidak aman, cuma karena merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang ada di sekitar. Takutnya mereka merasa terganggu, privasinya dilanggar. Jadi saya hanya sesekali mengambil video saja. Padahal ada juga keinginan untuk membuat video buat vlog yang sudah lama terbengkalai hehehe.

Sayangnya memang karena waktu pelatihan yang padat dan tepat waktu jadi otomatis saya hanya punya waktu senggang selepas jam 5 sore. Itupun tidak bisa lama karena di atas jam 7, kota Bogota sudah sangat sepi. Jadi benar-benar saya hanya melihat bagian kecil ibukota Kolombia itu.

Nasi di Bogota
Nasi di Bogota

Pagi itu selepas jalan saya mampir sarapan. Ada nasi! Dan rasanya mirip dengan nasi goreng. Lumayanlah untuk mengikis rasa rindu makanan Indonesia. Kata Andres, orang Bogota juga sebagian makan nasi walaupun bukan makanan utama seperti kita di Indonesia. Dan karena kita ada di wilayah Bogota yang adalah daerah ketinggian, jadi semakin jaranglah yang makan nasi. Mungkin jadi seprti makanan rekreasi saja.

Selepas sarapan, saya bersiap untuk workshop hari kedua. Sore kita ke downton, kata saya dalam hati. [dG]