PapuaPerjalanan

Perbedaan Kecil Papua dan Papua Barat

Yang atas Papua, yang bawa Papua Barat

Meski sama-sama berada di pulau yang sama dan punya akar yang sama, tapi tetap ada perbedaan kecil antara Papua dan Papua Barat.

Sudah sebulan lebih saya menjadi penghuni sementara Provinsi Papua Barat setelah hampir selama tiga tahun saya menjadi penghuni sementara Provinsi Papua. Dua provinsi yang sama-sama terletak di pulau Papua, pulau terbesar kedua di dunia. Dua provinsi yang sebenarnya punya akar yang sama, tapi tetap punya perbedaan. Dua provinsi yang biasanya akan jadi perhatian nasional ketika ada ramai-ramai, tapi luput dari perhatian nasional ketika internetnya putus.

Sebulan lebih di Papua Barat dan mendatangi beberapa kabupaten di sini, saya merasakan ada sesuatu yang sedikit berbeda antara Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua yang sudah lebih dulu saya akrabi.

Beberapa perbedaan itu adalah:

Adminsitratif

Provinsi Papua Barat adalah pecahan dari Provinsi Papua (atau lebih tepatnya Irian Jaya). Rencana pemekaran Papua Barat sudah muncul sejak tahun 1999 di masa pemerintahan Gus Dur, namun baru diresmikan oleh pemerintah Indonesia tahun 2003 di masa pemerintahan Megawati. Jelas sekali kalau Papua Barat jauh lebih muda dari induknya Papua yang sudah ada sejak tahun 1968.

Papua Barat punya 12 Kabupaten dan 1 Kota, jauh lebih sedikit dibanding induknya yang punya 29 Kabupaten/Kota. Luas wilayahnya pun hanya 102.995,95 km2 atau hampir sepertiga luas Provinsi Papua yang luasnya 312.224 km2. Wajarlah, namanya juga anak, ya kan?

Usia yang berbeda jauh ini juga bisa dirasakan pada pertumbuhan ekonomi. Setidaknya yang terlihat secara kasat mata. Papua Barat hanya punya dua kota yang bisa dibilang cukup moderen; Sorong dan Manokwari sebagai ibu kota Provinsi. Meski berstatus ibu kota Provinsi, Manokwari kalah jauh dari Sorong di soal kemajuan kota. Sorong sudah mendekati model kota-kota besar di Sulawesi, sementara Manokwari masih seperti kota kabupaten di Sulawesi.

Bandingkan dengan Provinsi Papua yang punya kota dengan kemajuan ekonomi cukup bagus seperti Jayapura, Sentani, Merauke, dan Timika.

Sekali lagi, namanya juga anak dan induk, ya kan?

Geografis

Dibandingkan dengan induknya, Provinsi Papua Barat secara geografis tidak terlalu menantang. Tetap menantang, tapi tidak semenantang Papua. Kita ambil daerah pegunungan sebagai barometer tantangan geografis ya. Di Papua, daerah pegunungannya cukup mendominasi dengan ketinggian sampai di atas 3.000 mdpl. Bahkan Papua punya pegunungan tertinggi di Indonesia, Pegunungan Jayawijaya.

Beberapa wilayah kabupaten di Papua berada di ketinggian 1.600 mdpl sampai 3.200 mdpl. Itu jadi faktor yang sangat menyulitkan bahkan untuk sekadar menjangkaunya. Jalur udara selalu jadi pilihan utama saking sulitnya perjalanan darat.

Sementara Papua Barat hanya punya satu daerah di ketinggian bernama Pegunungan Arfak. Tingginya sekitar 2.900 mdpl dengan jalur darat yang mulus dan lancar. Tidak sesulit jalur menuju Kabupaten Puncak atau Puncak Jaya di Papua.

Selain itu, Provinsi Papua Barat juga punya lebih banyak kabupaten dan kota yang dekat dengan lautan. Sebut saja Manokwari, Sorong, Fakfak, Kaimana, Teluk Bintuni, Teluk Wondama, dan tentu saja yang paling terkenal, Raja Ampat. Oh ya, sebagai informasi luas Kabupaten Raja Ampat itu sama dengan luas Provinsi Jawa Timur loh.

Salah satu titik di Kaimana

Itulah perbedaan terbesar di sisi geografis antara Papua dan Papua Barat. Kalau Papua tantangannya karena daerah yang berada di pegunungan, maka Papua Barat tantangannya karena punya daerah yang banyak berada di tepi pantai atau bahkan kepulauan.

Budaya

Meski sama-sama berada di pulau Papua, tapi tentu saja ada perbedaan cukup mendasar antara Papua dan Papua Barat. Akarnya sama, tapi perbedaan itu tetap bisa dilihat jelas.

Daerah pegunungan di Provinsi Papua jelas punya budaya yang bisa dibilang asli. Ini karena sulitnya akses sehingga mereka tidak menerima banyak pengaruh dari luar. Sementara Papua Barat yang lebih banyak berada di pesisir pantai sudah dari dulu kerap menyerap pengaruh dari luar.

Salah satu yang bisa dilihat adalah bentuk tubuh dan warna kulit. Banyak orang Papua Barat yang secara fisik lebih mirip orang Maluku, kulit tidak terlalu gelap dan lebih langsing. Ini tentu saja karena pengaruh dari Maluku yang sudah kawin mawin dengan penduduk lokal selama ratusan tahun atau mungkin saja malah asalnya dari Maluku tapi kemudian bermigrasi ke wilayah yang sekarang jadi bagian dari Papua Barat. Singkatnya, Papua Barat itu bisa dibilang bagian dari gradasi Maluku.

Pengaruh Maluku itu juga yang membuat banyak penduduk asli Papua Barat memeluk Islam. Utamanya di daerah pesisir seperti Raja Ampat, Fakfak, Kaimana, dan sebagian kecil Sorong. Pengaruh itu banyak datang dari kerajaan Tidore dan Ternate ratusan tahun lalu. Jadi jangan heran kalau kamu ke Papua Barat dan bertemu orang Papua dengan tampilan khas Papua tapi bernama khas orang Muslim.

Saat pertama kali berkenalan dengan orang Fakfak belasan tahun lalu, saya bahkan sempat bertanya sudah berapa lama dia menjadi mualaf.

“Ah tidak kakak, saya ini dari nenek moyang sudah Islam,” jawaban yang membuat saya kaget dan sekaligus malu hati.

Politik

Politik yang saya maksud di sini adalah keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia. Hal ini sangat terasa di Provinsi Papua. Sampai hari ini kita masih kerap mendengar kabar geliat-geliat gerakan separatis di Provinsi Papua, utamanya di daerah pegunungan.

Di Papua Barat, hal itu bukannya tidak ada. Cuma saja tidak terlalu terasa bergema seperti di Papua. Hanya ada riak-riak kecil di beberapa kota seperti Manokwari. Waktu ramai-ramai di tahun 2019 lalu, beberapa kota di Papua Barat juga ikut bergolak seperti di Manokwari, Sorong, dan Fakfak. Tapi efeknya tidak terlalu terasa seperti yang terjadi di Jayapura.

Di sisi keamanan, hal itu juga jadi sangat berpengaruh. Seorang supir langganan yang biasa melayani rute Nabire-Paniai di Papua dan rute Manokwari-Bintuni di Papua Barat mengatakan kalau kedua jalur itu sangat berbeda. Jalur Nabire-Paniai adalah jalur yang berat dan berbahaya. Supir biasanya tidak akan berani menembus jalur itu ketika malam tiba. Risikonya terlalu tinggi. Tapi, jalur Manokwari-Bintuni kata dia adalah jalur yang nyaman. Dia berani melewati jalur itu di tengah malam sekalipun. Bahkan, dari Bintuni ke Nabire pun tidak jadi masalah karena masih dianggap aman.

*****

Setidaknya itulah sedikit perbedaan yang paling mencolok antara Provinsi Papua dan Papua Barat. Buat saya, perbedaan yang paling terasa adalah mudahnya menikmati sajian ikan bakar di Papua Barat dibanding di Papua, hahahaha. Di Papua Barat, utamanya ketika ke Sorong dan Kaimana kemarin, ikan bakar adalah menu utama dengan rasa yang nikmat dan harga yang murah. Tidak seperti di sebagian besar perjalanan di Papua kemarin yang lebih akrab dengan ikan air tawar dan ikan laut yang tidak jauh-jauh dari ikan tuna.

Namun, meski berbeda tapi Papua dan Papua Barat tetap punya akar yang sama. Sama-sama Papua dan sama-sama luar biasa! [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Aku bayangin di Kaimana itu ikannya gede-gede. Kalau yang hobi mancing pas banget ahhahahahah.

  2. aku cuma pernah ke Papua Barat, ke Raja Ampt! 😀

    soal situasi politik dan geografis ini menarik.. aku baru tahu! kira-kira kenapa bisa jauh berbeda gitu antara Papua dan Papua Barat ya? terutama kenapa Papua ingin sekali merdeka..

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.