Perjalanan

Hello Singapura!

Pertama kali ke luar negeri, dan pertama kali ditahan imigrasi. Disuruh menunggu, tanpa kejelasan bisa masuk atau harus pulang.

“You go over there sir,” perempuan itu memberi perintah sambil menunjuk satu bagian dari bandara Changi.

“Excuse me?” Saya terpaksa memintanya mengulang perintah. Aksen melayu yang kental ditambah keriuhan bandara membuat ucapan dalam bahasa inggrisnya kurang bisa saya tangkap.

“You go over there,” katanya mengulang perintah. Kali ini disertai lambaian tangan ke arah seorang pria Tionghoa yang berdiri agak jauh dari kami. Pria Tionghoa setengah baya itu mendekat. Perempuan Melayu di belakang konter imigrasi menyerahkan paspor saya ke pria Tionghoa itu.

“Okay, you come with me sir,” si pria Tionghoa mengajak saya berjalan menjauhi konter imigrasi. Aksen mandarinnya kental, tapi setidaknya saya bisa mengerti maksudnya.

Pria itu berjalan menjauh menuju sebuah bagian dari terminal kedatangan Bandara Changi Singapura. Kantor imigrasi lebih tepatnya. Konter imigrasi itu melebar dengan dinding pembatas setinggi kira-kira 1,5 m dengan kaca pembatas di bagian atasnya. Di belakang dinding itu berjejer meja-meja yang diisi komputer. Ada beberapa petugas berseragam biru tua yang duduk di belakang meja atau berdiri di belakang konter.

Pria Tionghoa yang saya ikuti menyerahkan paspor saya ke seorang petugas di belakang konter diikuti sebuah keterangan yang tidak bisa saya tangkap apa isinya. Mungkin memang mereka sengaja supaya saya tidak bisa mendengarkan percakapan mereka. Entahlah.

Pria di belakang meja bertubuh tambun, berseragam biru tua, seragam imigrasi Singapura. Dia menerima paspor saya, membuka-buka lembarannya, lalu berucap, “Sir, you wait there okay? We will call you.” Dialek India terdengar jelas dari ucapannya. Wow luar biasa, kurang dari lima menit saya sudah mendengarkan bahasa Inggris dari tiga dialek berbeda.

Suasana ruang kedatangan Singapura

Saya mengikuti perintahya, bergeser ke ruang tunggu yang ada di sebelah konter imigrasi. Ruang tunggu ini cukup nyaman dengan beberapa sofa yang dijejer rapi dan sebuah pesawat televisi. Tidak ada sekat dari ruang tunggu itu sehingga saya bisa melihat langsung suasana terminal kedatangan, khususnya di bagian imigrasi. Orang-orang turun dari eskalator, menuju konter imigrasi. Sebagian membawa tas koper yang diseret, sebagian lagi tanpa bawaaan besar. Hanya tas ransel atau tas selempang.

Beragam ras melintas di depan saya. Kulit putih, melayu, India, Tionghoa.

“Ah, begini rasanya ke luar negeri,” kata saya dalam hati.

Undangan

Semua berawal dari sebuah pesan WhatsApp dari Kang Ibe, sapaan akrab untuk Indriyatno Banyumurti dari ICT Watch. Isi pesannya kira-kira menanyakan apakah saya bersedia kalau misalnya diundang untuk mengikuti kegiatan APrIGF di Singapura nanti. Pertanyaan itu saya jawab dengan pertanyaan juga, “Saya belum punya paspor. Urus paspor lama gak ya?” Ketika pertanyaan itu dijawab kalau pembuatan paspor standarnya kira-kira satu minggu, saya langsung mengiyakan. Masih ada waktu untuk mengurus paspor, kata saya dalam hati.

“Kalau memang lancar, ini akan jadi pertama kalinya saya ke luar negeri.”

Iya, kalian tidak salah baca. Di umur setua ini saya belum pernah secara resmi ke luar negeri. Saya pernah sekali waktu menginjak negeri orang, Papua Nugini. Tapi itu tidak resmi alias cuma di perbatasan yang memang dibolehkan untuk para turis. Tanpa paspor, tanpa pemeriksaan segala macam. Dan itu tentu tidak dianggap secara resmi sebagai “ke luar negeri.”

Sebenarnya beberapa tahun lalu saya sudah pernah mendapatkan undangan ke luar negeri. Ke Singapura, Malaysia, dan bahkan pernah diajak ke Belgia. Semua gratis, dibayarkan. Tapi waktu itu saya belum punya paspor dan ada kendala yang membuat saya kesulitan membuat paspor. Masalah dokumen kependudukan yang amburadul. Sayapun belum terlalu tergerak untuk membereskan masalah itu, mengurus paspor, dan memenuhi undangan.

Entah kenapa, waktu itu saya belum begitu tertarik untuk ke luar negeri. Masih ada rasa lebih penasaran melihat Indonesia, khususnya Papua yang waktu itu belum saya akrabi. Sekarang, setelah melihat Papua dan lumayan akrab dengan Papua, saya mulai merasa sudah waktunya untuk melihat negeri lain. Dan ketika ada undangan, maka tentu rasanya sulit untuk saya menolak.

Urus Paspor

Saya akhirnya mengurus paspor, walaupun agak lambat karena awalnya malas-malasan. Belum ada kepastian saya akan ke Singapura, jadi rasanya sayang kalau urus paspor tapi tidak langsung terpakai. Mungkin akan lebih aman kalau sudah ada kepastian berangkat, barulah saya mengurus paspor.

“Mending urus sekarang, siapa tahu nanti tetap bisa dipakai,” kata Mamie.

Baiklah, kalau ibu ratu sudah bertitah saya akan tunduk. Akhirnya saya mulai mengurus paspor kira-kira seminggu lebih sebelum jadwal keberangkatan. Pengurusan paspor ternyata tidak sulit. Semua dilakukan lewat aplikasi M-Paspor yang bisa diunduh di Playstore buat Android atau di App Store buat pengguna Apple. Di aplikasi itu sudah ada tuntunan bagaimana mengisi aplikasi, apa yang harus disiapkan, berapa biayanya, dan tanggal serta jam berapa yang dipilih untuk berfoto. Sayangnya untuk foto kita hanya bisa memilih foto sendiri, tidak bisa foto bersama pasangan apalagi foto rombongan.

Setelah membayar dan memilih hari, saya tinggal datang ke kantor imigrasi yang saya pilih, yang lokasinya berada di Jln. Perintis Kemerdekaan Makassar. Saya datang pukul 12:00, karena saya memilih waktu pengurusan pukul 13:00. Tentu dengan membawa kelengkapan yang dibutuhkan seperti fotokopi e-KTP, fotokopi Kartu Keluarga, dan foto kopi akta kelahiran atau salah satu ijazah, atau buku/surat nikah. Pokoknya dokumen kependudukan yang menunjukkan kalau nama kita memang nama yang akan kita taruh di paspor. Tidak lupa juga untuk membawa dokumen asli e-KTP dan kartu keluarga yang akan ditunjukkan bila diminta. Sudah, itu saja. Sisanya adalah mengisi formulir tambahan di ruang tunggu kantor imigrasi.

“Kalau paspornya jadi, mau dipakai ke mana?” Tanya petugas foto ketika giliran saya akhirnya tiba. Saya menunggu kira-kira 2 jam dari sejak pertama kali memasukkan formulir dan kelengkapan data.

“Bapak ini urusannya apa? Koq kepo mau tahu saya mau ke mana?” Tanya saya. Tapi tentu saja itu hanya dalam hati, karena yang terucap di mulut adalah, “Rencananya ke Singapura pak,”

Kalau kata yang ada dalam hati itu saya ucapkan, mungkin perjalanan saya ke kantor imigrasi akan berakhir dengan pengusiran.

Beberapa pertanyaan lain diajukan bapak-bapak petugas imigrasi itu, dan semua saya jawab dengan santai. Lagipula kenapa harus tegang? Toh saya tidak ada masalah apa-apa. Pertanyaannya pun tidak susah, bukan pertanyaan matematika atau fisika. Hanya seputar pertanyaan, sekolah di mana? Tinggal sama siapa? Sudah pernah punya paspor sebelumnya atau tidak? Dulu pilih Jokowi atau Prabowo? Ah tidak, pertanyaan terakhir tentu saja hanya bercanda.

“Silakan pak. Lepas masker dan kacamatanya, terus menghadap ke kamera,” katanya memberi perintah.

Saya bersiap dan cekrek! Kamera berbunyi. Selesai sudah perjalanan mengurus paspor, tinggal menunggu hasilnya lima hari kemudian. Sayangnya, belakangan saya baru sadar kalau foto paspor saya jelek! Saya tidak sempat berdandan dulu, minimal merapikan rambut. Si bapak juga tidak mau repot-repot mengarahkan gaya saya. Ya sudahlah, saya pasrah saja foto lucu itu akan terpampang di paspor saya sampai lima tahun ke depan.

Singapura, saya datang!

Hai paspor!

Ditahan Imigrasi

Minggu 11 September 2022, sekitar pukul 9:00 waktu Singapura. Saya duduk di ruang tunggu kantor imigrasi bandara Changi. Belum ada kejelasan apakah saya boleh masuk ke Singapura, atau diusir pulang. Belum ada kejelasan juga kenapa saya ditahan sementara teman-teman lain serombongan semua sudah melenggang kangkung melewati imigrasi.

“Santai aja daeng, paling cuma dideportasi,” kata seseorang di grup WhatsApp selepas saya mengabari soal penahanan saya di imigrasi. Saya memang santai saja, kalau toh dilarang masuk ya sudah saya pulang. Toh saya ke sini juga karena dibayarkan, tidak keluar uang sama sekali. Dan, saya juga tidak merasa bersalah sama sekali. Saya bukan teroris, bukan pelaku kriminal. Kecuali kalau Singapura menetapkan aturan pemilik akun alter Twitter tidak boleh masuk Singapura, maka tentu saja tidak boleh masuk. Tapi kan tidak ada aturan itu.

Saya bahkan sudah menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Dari tiket pergi-pulang, bookingan hotel, SG arrival card (semacam keterangan imigrasi), vaksin COVID-19 yang sudah bersertifikasi WHO, sampai undangan dari pelaksana kegiatan. Pokoknya lengkap.

Mendarat di Chagi, Singapura

Sekitar 30 menit berlalu, dan saya belum dipanggil. Saya masih duduk santai di ruang tunggu, sesekali berdiri menengok ke kantor imigrasi. Para petugas masih terlihat santai dan bekerja seperti biasa. Ada beberapa orang lain yang juga ditahan, tapi langsung diproses. Disuruh foto dan mencap jempol, lalu dipersilakan keluar. Hanya ada tiga orang yang disuruh menunggu, termasuk saya. Mereka berdua kemudian dipanggil duluan hingga tingallah saya sendirian.

“Biasanya memang orang yang pertama punya paspor begitu, jadi perhatian. Butuh cross check,” kata Mamie di chat WhatsApp.

Kalimat itu membuat saya lebih santai meski sebelumnya juga sudah santai. Tidak ada beban sama sekali. Diperbolehkan masuk, Alhamdulillah. Disuruh pulang, ya hayuk.

“Syaifullah!’

Ah, akhirnya nama saya dipanggil. Saya mendekat ke kantor, menggeret koper dan memanggul ransel. Saya mendekati salah satu konter tempat suara itu berasal. Lelaki melayu duduk manis di belakang meja. Orang yang berbeda dengan lelaki India yang menyambut saya pertama kali.

“Okay, open your mask and your glasses. Look to the camera,” perintahnya.

Saya menuruti perintahnya, melepas masker dan kacamata, berdiri tegap menghadap kamera. Beberapa detik kemudian lampu berwarna hijau bersinar dari kamera berbentuk oval di depan saya. Tanda kalau dia berhasil mengabadikan wajah saja.

“Now, put your thumb in there,” perintah berikutnya meminta saya menaruh dua jempol saya di mesin sidik jari di depan saya.

Saya ikuti perintahnya, memasukkan jempol saya, kanan dan kiri. Hanya beberapa detik sampai lampu hijau juga menyala dari mesin itu. Tanda kalau sidik jari saya sudah masuk database pemerintah Singapura.

Pria itu mengetik sesuatu di papan kunci komputernya, lalu menyerahkan paspor saya. “Okay sir, you can go now. Go through that door,” katanya sambil menunjuk sebuah pintu.

Begitu saja. Tidak ada penjelasan kenapa dan untuk apa. Katanya memang imigrasi seperti itu, mereka bisa menahanmu berjam-jam, atau bahkan mengusirmu tanpa penjelasan. Itu hak mereka, dan saya tidak bermaksud untuk bertanya. Buat apa? Toh saya juga pada akhirnya bisa bebas memasuki wilayah Singapura.

Singapura, saya datang! [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Alur maju mundurnya bikin semangat membaca, demi apaaaa (((sayangnya foto tidak boleh bersama pasangan))) hahahaha lawakki daeng

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.