BudayaPerjalanan

Hikayat Bissu di Tanah Segeri

Bissu di Jaman Sekarang.

Setiap bissu dipimpin oleh seorang ketua yang disebut Puang Matowa. Puang Matowa pertama di Segeri bernama Sanro Laubba yang diikuti oleh Sanro Sipato. Lalu berturut-turut di belakangnya yang menjadi pemimpin para bissu adalah; Sanro Baodolo, Sanro Puang Nuru, Sanro Sanke, Sanro Daeng Baji, Sanro Puang Saidi dan sekarang Sanro Juleha.

Puang Saidi
Puang Matowa Saidi, salah seorang bissu yang sekarang sudah meninggal dunia (foto: Sharyn Adams)

Peran bissu Bugis sebagai pemimpin upacara adat dan penasehat raja masih terus ada hingga akhirnya masa kerajaan Segeri berakhir dan berganti dengan masa pemerintahan Indonesia. Peran bissu kemudian tereduksi menjadi sekadar penjaga benda keramat dan pemimpin upacara adat yang semakin hari juga semakin jarang dilakukan. Bila di jaman kerajaan para bissu hidup tenteram dalam lingkungan kerajaan, maka di masa sekarang hidup mereka sudah banyak berubah.

Para bissu tidak bisa lagi hidup dari tanggungan kerajaan yang memang sudah tidak ada lagi, mereka pun tidak masuk dalam tanggungan pemerintah Indonesia. Maka tidak ada cara lain, mereka harus bertahan hidup dengan cara seperti manusia biasa hidup. Inilah yang membuat para bissu Bugis jaman sekarang terpaksa mencari hidup sebagai penata rambut di salon atau sebagai indo’ botting (ibu pengantin, Bugis).

Sebagai indo’ botting tugas mereka sangat vital dalam memastikan jalannya sebuah prosesi pernikahan, dari awal sampai akhir. Mereka yang menentukan jenis makanan, jumlah makanan, dekorasi, pakaian hingga doa-doa yang dipanjatkan demi kelancaran acara. Puang Salma yang kami temui di Saoraja Segeri adalah salah satunya. Sehari-hari mereka tampak seperti biasa, laki-laki yang berperilaku seperti perempuan. Kesakralan mereka sebagai bissu baru muncul ketika upacara adat digelar dan mereka berada di garis depan sebagai pelaksana upacara adat yang sakral tersebut.

Di masa pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan periode 1950an-1960an di bawah pimpinan Kahar Muzakkar, keberadaan para bissu Bugis ini sangat terancam. Ritual yang mereka adakan dianggap sebagai musyrik dan karenanya harus diberantas. Banyak arajang atau benda pusaka kerajaan yang ditengelamkan di laut, para bissu Bugis dipaksa untuk menjadi laki-laki normal dan bekerja seperti layaknya laki-laki di sawah atau kebun. Sebagian yang menolak terpaksa harus meregang nyawa. Namun, di beberapa daerah ada juga warga yang menyembunyikan mereka hingga suasana aman.

Menurut penuturan Andi Baso Ali, salah seorang pemangku adat Segeri, jumlah bissu di Segeri hanya ada sembilan orang. Mereka tinggal terpisah, dari kota Pare-Pare, kabupaten Pangkep dan kabupaten Bone. Ini tentu saja berbeda dengan kondisi bissu jaman dulu yang diberi tempat nyaman dalam lingkungan istana.

Semakin hari eksistensi bissu memang semakin terdesak. Mereka para penjaga terakhir kebudayaan Bugis pra Islam itu semakin sedikit. Minat generasi muda menjadi seorang bissu Bugis semakin menguap, seiring dengan nyaris hilangnya perhatian pemerintah pada kehidupan mereka.

Adat dan ritual yang berbenturan dengan agama jadi salah satu penyebabnya di samping hilangnya kuasa kerajaan yang dulu begitu mengagungkan mereka. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti bissu hanya tinggal menjadi sebuah cerita yang mungkin hanya jadi penghias buku sejarah. Jaman telah mendegradasi peran bissu sebegitu jauhnya, dari seorang pendeta suci menjadi sekadar orang biasa yang harus terseok-seok bertahan hidup sembari tetap menjaga budaya peninggalan leluhur. [dG]

Sumber:

Wikipedia, Sex, Gender and Priest in South Sulawesi ~ Sharyn Graham, MA. Wawancara dengan Andi Baso Ali, pemangku adat Segeri (16 Mei 2016) Wawancara dengan Arifin Mude, tokoh masyarakat Segeri (16 Mei 2016) Wawancara dengan Puang Salma, seorang bissu di Segeri (16 Mei 2016)

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (9)

  1. Saya masih ingat jaman kecil dulu di tanah Kalimantan ketika ibu saya menceritakan tentang keberadaan calalai, calabai dan bissu di kampung asal beliau, Sidrap. Salah satu pesan moral yg saya tangkap dikemudian hari dari cerita beliau adalah untuk tidak mendeskriminasi manusia, terutama dari sisi gender.

  2. salam kenal mas dari blogger Batu, suka tulisannya menguak sisi sejarah. di daerah mas tinggal. Terus juga masuk web ini, mudah aksesnya.

  3. Kenapa tidak disertakan gaambar “arajang” rakkala (bajak) yg di foto” sesuai tulisannya?
    Apa tidak di izinkan puang salma?

  4. ada foto kedelapan bissunya ?

  5. untuk saat ini ada berapa bissu yang tersisa ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.