BudayaPerjalanan

Hikayat Bissu di Tanah Segeri

Bissu Bugis di Segeri.

Segeri yang saat ini merupakan bagian dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan dulunya adalah sebuah kakarengang atau kerajaan sendiri. Segeri yang terletak sekira 72 km sebelah utara kota Makassar masih memelihara tradisi bissu hingga saat ini.

Dalam sejarah awalnya, Kekaraengang  (kerajaan) Segeri yang terbentuk sejak tahun 1546M tidak memiliki bissu. Segeri sendiri dipimpin raja pertama yang merupakan kemenakan dari raja Gowa kesepuluh (I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga) bernama Datu GollaE. GollaE sendiri adalah nama kampung yang dalam bahasa Makassar berarti gula atau manis. Orang Segeri sekarang sudah tidak bisa menunjukkan secara pasti, di daerah mana kampung GollaE itu berada.

Puang Ali yang menceritakan banyak hal tentang sejarah Segeri dan bissu di Segeri
Puang Ali yang menceritakan banyak hal tentang sejarah Segeri dan bissu di Segeri

Bissu sendiri baru masuk di masa pemerintahan La Tenri Sessu Opu Cenning Luwu Arung Pancana Karaeng ri Segeri yang memerintah tahun 1776–1842. La Tenri Sessu aslinya adalah keturunan bangsawan kerajaan Luwu. Di masa muda dia terkenal sebagai orang yang temperamental dan senang berperang. Sifatnya itu meresahkan para pejabat kerajaan, namun bukan perkara mudah untuk menangkap La Tenri Sessu yang terkenal sebagai jagoan.

Ketika tingkahnya makin meresahkan, La Tenri Sessu akhirnya diusir dari kerajaan Luwu. Sang ibu, We Tenri Leleang juga memilih mengikuti anaknya. Jadilah mereka berdua diikuti beberapa pengikutnya berlayar dari sisi timur kaki pulau Sulawesi meninggalkan tanah Luwu terus ke arah selatan, sebelum berbelok ke atas ke pesisir barat kaki pulau Sulawesi. Mereka berhenti di daerah Tanete yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Barru. Sang ibu sempat menjadi raja ketiga belas dengan gelar Datuk Tanete We Tenri Leleang.

Ketika sang ibu akhirnya turun tahta, adiknya yang bernama La Maddusila Tu Pangewa yang naik menjadi raja. La Tenri Sessu tidak terima dan sempat mengamuk sampai kemudian berhasil dibujuk sang ibu. Atas bujukan sang ibu juga La Tenri Sessu kemudian hijrah ke Segeri, sekarang masuk Kabupaten Pangkep. Sebelum hijrah dengan perahu,

La Tenri Sessu mendapatkan mimpi yang mengatakan bahwa dalam perjalanannya ke Segeri dia akan menemukan benda keramat yang harus dijaganya. Dalam perjalanan, sebuah benda berupa bajak sawah terlempar ombak dan mendarat di atas kapalnya. Berkali-kali benda itu dibuang kembali ke laut tapi tetap kembali ke atas kapal, hingga akhirnya La Tenri Sessu sadar bahwa mungkin benda itulah yang dimaksud dalam mimpinya. Singkat kata jadilah La Tenri Sessu pemimpin kekaraengang Segeri setelah sempat berperang membela Segeri.

Suatu hari, 40 orang bissu dari kerajaan Bone datang ke Segeri. Mereka adalah utusan raja Bone yang mencari sebuah arajang yang hilang dari kerajaan Bone. Arajang yang hilang dari kerajaan Bone mirip betul dengan arajang di Segeri kepunyaan La Tenri Sessu. Arahan buat para bissu itu jelas, kalau mereka tidak berhasil membawa pulang arajang yang hilang maka nyawa mereka jadi taruhannya.

Di lain sisi mereka juga tidak mungkin mengambil arajang milik Segeri karena itu berarti mereka harus siap menyabung nyawa di tangan La Tenri Sessu. Tidak ada pilihan yang nyaman buat para bissu itu, hingga akhirnya mereka menerima penawaran La Tenri Sessu untuk tinggal di Segeri dan menjadi bissu bagi sang raja. Sejak itulah, bissu pun ada di Segeri.

Halaman Empat: Bissu di Jaman Sekarang

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (9)

  1. Saya masih ingat jaman kecil dulu di tanah Kalimantan ketika ibu saya menceritakan tentang keberadaan calalai, calabai dan bissu di kampung asal beliau, Sidrap. Salah satu pesan moral yg saya tangkap dikemudian hari dari cerita beliau adalah untuk tidak mendeskriminasi manusia, terutama dari sisi gender.

  2. salam kenal mas dari blogger Batu, suka tulisannya menguak sisi sejarah. di daerah mas tinggal. Terus juga masuk web ini, mudah aksesnya.

  3. Kenapa tidak disertakan gaambar “arajang” rakkala (bajak) yg di foto” sesuai tulisannya?
    Apa tidak di izinkan puang salma?

  4. ada foto kedelapan bissunya ?

  5. untuk saat ini ada berapa bissu yang tersisa ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.