BudayaPerjalanan

Hikayat Bissu di Tanah Segeri

Asal Muasal Bissu Bugis

Puang Salma, namanya memang nama perempuan, pun penampilannya seperti seorang perempuan. Sebuah selendang putih menutupi kepalanya, tubuhnya dibalut pakaian yang sepintas seperti kebaya. Sebuah sarung berwarna dominan merah melengkapi pakaiannya. Persis seperti seorang perempuan.

Tapi dia terlahir sebagai seorang laki-laki di sebuah pulau bernama Seba Tellu, masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) juga. Di usia muda selepas SD dia bermimpi aneh. Sesisir pisang dan sebuah telur tertangkup di atas perutnya, tak mau lepas meski dia sudah berputar ke samping. Mimpi itu segera diartikan sebagai panggilan untuk menjadi seorang bissu. Pisang dan telur adalah bagian dari persembahan dalam upacara adat suku Bugis dan bagi Salma, itu adalah tanda yang sangat jelas.

Selama sembilan tahun Salma belajar pada empat orang bissu Bugis. Sanro Beddolo, Sanro Seke’, Sanro Saidi dan Sanro Juleha. Kepada mereka berempatlah dia menimba ilmu menjadi seorang bissu hingga akhirnya resmi menjadi salah satu bissu yang masih tersisa hingga kini di Segeri, Kabupaten Pangkep.

Puang Salma sang bissu Bugis
Puang Salma memeragakan acara maggiri yang menguji kekebalan para bissu

Untuk menjadi bissu Bugis tidak mudah. Hanya mereka yang terpilih yang boleh ikut menjalani pendadaran yang dilakukan para bissu yang lebih tua. Dari pengenalan sejarah, adat istiadat, bahasa kuna, kitab kuna sampai ujian fisik dan mental yang tidak mudah. Para bissu yang terpilih mengikuti upacara maggiri konon harus menjalani sebuah ujian berat selama tujuh hari tujuh malam.

Mereka akan dikafani layaknya orang mati (dalam bahasa Bugis disebut diujug), disimpan dalam sebuah ruangan dan dibiarkan tanpa makan, minum dan buang air selama tujuh hari tujuh malam. Hanya mereka yang punya kemampuan lebih yang bisa menjalaninya, sisanya akan  gagal dan tidak bisa ikut dalam upacara maggiri.

Bissu adalah pendeta suci di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan pra Islam. Mereka juga disebut sebagai gender kelima dalam adat suku Bugis. Laki-laki (ura’ne), perempuan (makkunrai), perempuan yang menyerupai laki-laki (calalai), laki-laki yang menyerupai perempuan (calabai) serta para gender bernama bissu. Bissu dianggap sebagai gender sendiri meski sebagian besar dari mereka adalah para calabai atau laki-laki dengan kecenderungan tingkah seperti wanita. Orang Makassar menyebutnya kawe-kawe.

Di beberapa kerajaan Bugis lainnya ada juga bissu yang berasal dari kaum perempuan, mereka adalah para bangsawan tinggi (dengan darah bangsawan murni), tapi jumlahnya sangat sedikit bahkan konon sudah tidak ada lagi. Dalam cerita epos La Galigo, kelahiran bissu sama tuanya dengan kehadiran manusia di bumi.

Syahdan di jaman dahulu kala dewa penguasa langit memutuskan untuk membawa kehidupan ke dunia tengah (bumi)  yang tak terurus. Lalu diutusnya sang anak terbaiknya yang bernama Batara Guru untuk turun memerintah dan mengatur bumi ini. Batara Guru tepatnya turun di tanah Luwu. Sayangnya Batara Guru tidak terlalu cakap dalam organisasi, untuk itulah bersamanya diutus dua orang bissu yang dipimpin oleh Lae-Lae untuk mendampingi Batara Guru.

Para bissu itulah yang mengatur semuanya, mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat dan apapun yang dibutuhkan sebuah dunia baru. Sejak itulah keberadaan para bissu menjadi sangat penting dalam kehidupan adat kerajaan Bugis dan Luwu di masa sebelum masuknya Islam. Bissu berperan sebagai penasihat raja, orang kepercayaan, pemimpin upacara adat dan penghubung antara manusia dan para dewa. Dalam melaksanakan tugasnya, bissu menggunakan bahasanya sendiri yang disebut bahasa himme’. Di beberapa tempat bahasa para bissu disebut juga Basa Bissu atau Bahasa Dewata.

Para bissu dianggap sebagai pendeta suci yang mewakili manusia. Karenanya mereka seperti gender sendiri yang mewakili laki-laki dan perempuan. Dalam upacara resmi, mereka punya gaun sendiri yang berbeda dengan pakaian laki-laki dan perempuan. Sebagai pelengkap mereka membawa simbol laki-laki dan perempuan. Mereka membawa badik atau keris sebagai simbol laki-laki serta menyampirkan bunga di kepala sebagai simbol seorang perempuan.

Kata bissu sendiri konon berasal dari kata bessi atau dalam bahasa Bugis berarti bersih, suci. Konon karena bissu meski berperilaku seperti seorang wanita tapi tidak mengeluarkan darah haid. Namun, Christian Pelras dalam buku Manusia Bugis mengatakan kalau nama bissu bisa saja berasal dari kata bikshu atau pendeta dalam ajaran Budha. Menurut Christian Pelras, kalimat itu sebagai bukti pengaruh bahasa Sansekerta dalam budaya Bugis. Jejak keberadaan bissu bisa dilihat di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, dari kerajaan Luwu, Bone, Soppeng dan Segeri.

Halaman tiga: Kisah Bissu di Segeri

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (9)

  1. Saya masih ingat jaman kecil dulu di tanah Kalimantan ketika ibu saya menceritakan tentang keberadaan calalai, calabai dan bissu di kampung asal beliau, Sidrap. Salah satu pesan moral yg saya tangkap dikemudian hari dari cerita beliau adalah untuk tidak mendeskriminasi manusia, terutama dari sisi gender.

  2. salam kenal mas dari blogger Batu, suka tulisannya menguak sisi sejarah. di daerah mas tinggal. Terus juga masuk web ini, mudah aksesnya.

  3. Kenapa tidak disertakan gaambar “arajang” rakkala (bajak) yg di foto” sesuai tulisannya?
    Apa tidak di izinkan puang salma?

  4. ada foto kedelapan bissunya ?

  5. untuk saat ini ada berapa bissu yang tersisa ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.