Pikiran

Pro Kontra Citizen Journalism



Kehadiran citizen journalist atau pewarta warga memang tidak bisa dihindari. Namun, seperti hal lain di bumi ini, selalu ada pro dan kontra yang mengikutinya.

SUATU HARI, SEORANG KAWAN BERKISAH tentang pengalamannya ketika banjir besar menyambangi sebagian kota Makassar dan kota sekitarnya, awal Januari tahun ini. Dia tinggal di kabupaten Gowa, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar dan dialiri sungai Jeneberang, salah satu sungai yang meluap kala itu. Kebetulan rumah si teman tidak jauh dari tepi aliran sungai Jeneberang, dan saat banjir mulai datang dia masih di kantor.

Dengan tergesa-gesa dia kembali ke rumahnya. Penuh kecemasan akan nasib komplek perumahan tempatnya berdiam. Apakah juga terseret aliran sungai yang meluap? Atau baik-baik saja?

Perjalanannya ke rumah tidak mudah karena di sekitar jembatan kembar Sungguminasa – ibu kota kabupaten Gowa – dia harus tertahan cukup lama. Ada proses evakuasi warga yang sedang berlangsung, dan ada aliran sungai yang deras dan meluap. Dua kejadian itu menarik perhatian warga sekitar dan orang yang melintas. Mereka berhenti, mengamati proses itu tapi tidak banyak yang berbuat banyak membantu proses evakuasi. Mereka malah asyik mengambil gambar dan video dengan kamera handphone mereka.

“Menjengkelkannya. Mereka bukannya bantu itu ibu-ibu menyeberang pakai tali, malah asyik merekam video. Kasian itu ibu sampai harus berusaha sendiri menyeberang, hanya ada sedikit yang bantu ki,” kata teman saya. “Terus, jalanan juga jadi macet. Padahal saya ini mau buru-buru pulang, kuatir bagaimana keadaan rumahku,” lanjutnya lagi.

Saya bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Sudahlah kuatir sama keadaan rumahnya, eh harus terhambat oleh aksi banyak orang yang lebih mementingkan usaha menjadi yang paling pertama menyebar berita.

“Ini gara-gara sekarang orang terlalu banyak yang mau jadi citizen journalist,” dia menggerutu, dan saya terhenyak.

Tumbuh Karena Internet.

Saya pertama kali mengenal istilah citizen journalism sekitar tahun 2007. Kala itu saya tergabung dalam sebuah komunitas yang salah satu kegiatannya adalah mendorong sebanyak mungkin warga menuliskan pengamatan mereka pada fenomena sosial di sekitar mereka. Panyingkul namanya. Komunitas ini punya situs web yang sekarang sudah almarhum. Di situs itulah kami dilatih menulis selayaknya seorang jurnalis, tapi dengan sudut pandang warga biasa. Situs itu diampu sepasang suami-istri jurnalis asal Makassar.



Di komunitas dan situs itu saya belajar banyak dunia tulis-menulis, khususnya genre jurnalisme. Belajar mencari data, wawancara, klarifikasi, dan menyusun tulisan. Komunitas itu menerapkan standar yang tinggi kepada para anggota yang ingin berkontribusi. Tidak heran kalau selama bertahun-tahun, situs milik Panyingkul jadi salah satu acuan situs citizen journalism atau jurnalisme warga terbaik di Indonesia.

Pepi Nugraha yang pernah lama menggawangi Kompasiana bahkan mengakui kalau situs yang dirintis Kompas itu terinspirasi dari Panyingkul.

Masa itu, gaung jurnalisme warga atau citizen journalism memang sedang ramai-ramainya. Penetrasi internet sedang bergairah, seperti seorang remaja dengan adrenalin membuncah. Dan itu membawa banyak kebiasaan baru, termasuk kecepatan orang bertukar informasi. Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai menjalankan fungsi sebagai reporter. Membagikan berita, memberitakan kejadian dan apa saja di sekitar mereka. Berita tidak lagi menjadi hak eksklusif pekerja media profesional.

Menjelang akhir masa 2000an, internet semakin jamak. Media sosial sebagai anak kandung perkembangan internet lahir satu per satu. Facebook, Twitter dan Instagram jadi barang umum yang digunakan oleh orang-orang zaman now. Kebiasaan menjadi pewarta pun menjadi semakin umum. Berita dan informasi bertebaran dengan deras, setiap saat.

Pro dan Kontra Citizen Journalism

Saya yakin, semua barang di dunia ini pasti punya dua sisi; baik dan buruk. Begitu juga dengan citizen journalism atau jurnalisme warga. Saat pertama kali muncul, semua orang mulai merasakan dampak positifnya. Berita tidak lagi hanya dari satu sisi tapi bisa dikabarkan dari banyak sisi dan perspektif. Ini memperkaya pengetahuan dan wawasan orang. Informasi tidak lagi satu arah dan berita yang kita konsumsi terasa lebih kaya.

Warga atau komunitas warga pun jadi punya kesempatan untuk menyuarakan beragam hal yang memengaruhi kehidupan mereka. Tentu dari perspektif mereka sendiri. Bahkan ada saat ketika para jurnalis profesional mengolah berita dari sesuatu yang dimulai oleh warga. Berita diawali oleh warga, diendus oleh jurnalis profesional lalu diberitakan oleh mereka. Berkebalikan dengan kebiasaan zaman dulu ketika warga menggunjingkan berita yang dibuat oleh pekerja media. Posisi pewarta warga menjadi semakin kuat dan diperhitungkan. Bukan lagi semata sebagai sematan, namun kadang jadi rujukan utama.

Ini tentu karena jumlah warga biasa jauh lebih banyak dari pekerja media profesional. Jadi kesempatan mereka menjadi orang pertama yang melihat sebuah kejadian dan memberitakannya jadi jauh lebih besar. Dibantu dengan hadirnya internet, maka semakin besarlah peran warga yang ingin menjadi pewarta.

Namun, seiring perkembangan zaman kegiatan pewarta warga ini juga ternyata membawa dampak buruk. Beberapa hal di antaranya adalah:

Sulitnya Mengecek Kebenaran Sebuah Berita.

Sebagai warga biasa yang tidak dibekali skill jurnalistik, pewarta warga cenderung hanya mengejar kecepatan tanpa memikirkan akurasi data. Sepertinya sudah sering kita menerima informasi atau berita dari warga yang tidak sepenuhnya benar. Kadang terjadi disinformasi atau informasi yang salah karena penyebar berita awal tidak sepenuhnya melakukan klarifikasi atau cek dan ricek. Berita hanya disebarkan lebih dahulu, dibumbui dengan narasi yang menggiring opini.

Misalnya ketika ada berita tentang dua orang lelaki yang terlihat terlalu mesra di atas motor. Warga yang merekam kejadian tersebut menyebarkan videonya dengan narasi kekhawatiran bahwa kaum LGBT semakin berani bermesraan di depan umum. Belakangan muncul bantahan kalau apa yang dilakukan dua orang itu semata karena rasa kangen yang terhapuskan mengingat mereka adalah saudara yang sudah terpisah lama.

Hal seperti ini sudah sering kita temui. Prinsip “beritakan dulu, klarifikasi kemudian” seperti sudah jamak. Orang-orang banyak yang berbondong-bondong menjadi yang tercepat, bukan yang tertepat.

Berita yang tidak dibarengi klarifikasi serta cek dan ricek, ditambah bumbu emosi personal akan menjadi berita yang bias. Keberanannya jadi dipertanyakan.

Kaburnya Etika dan Empati.

Sekali lagi, sebagai warga yang tidak dilatih dasar jurnalisme, para citizen journalism ini pun seperti tidak paham pada etika pemberitaan. Mereka bisa seenaknya saja merekam jasad korban kecelakaan tanpa mempertimbangkan perasaan keluarga korban. Bisa seenaknya mengekspos nama korban atau pelaku, atau bahkan wajah mereka meski mereka adalah anak di bawah umur misalnya. Etika-etika dasar seperti ini kerap tidak diindahkan dan tentunya memberi bias dalam sebuah pemberitaan.

Hal lain seperti yang diceritakan teman saya di awal tulisan ini. Warga alih-alih berempati pada korban, mereka lebih memilih merekam kejadian agar bisa buru-buru menyebarkannya dan menjadi orang pertama yang memberitakannya. Kalau hal seperti ini dilakukan oleh jurnalis profesional, mungkin bisa dimaklumi karena toh itu adalah tugas mereka – meski kerap juga menghadirkan peran batin bagi mereka. Tapi, kalau ini dilakukan oleh warga dan dalam jumlah yang massif maka sepertinya ini jadi tidak tepat, bukan?

*****

Hadirnya para jurnalis warga atau citizen journalism tentu tidak bisa ditepis begitu saja. Perkembangan zaman memang mendorong tren ke arah itu. Suka atau tidak suka, para pewarta atau jurnalis warga ini akan hadir di tengah kita dan mengubah tatanan yang sudah ratusan tahun kita nikmati. Masalahnya tinggal bagaimana kita menyikapi kehadiran mereka. Pro dan kontra tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Hanya kebijakan kita para pengonsumsi berita – dan kadang sebagai pelaku penyebar berita juga – yang dibutuhkan.

Menjadi pewarta warga tentu menyenangkan, tapi jangan sampai fakta, etika dan empati jadi taruhannya. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.