Pikiran

Percaya Pada Proses

Zaman instan, ketika proses sudah tidak dianggap penting, ketika proses sudah dianggap sesuatu yang memalukan.

Sebenarnya ini kejadian setahun lalu, sekitar bulan Maret tahun 2021. Entah awalnya dari mana, tiba-tiba potongan video beberapa band sekolah (sepertinya SMP) di Probolinggo terekspos ke media sosial. Video-video itu terpotong, disebarkan, dan tentu saja dikomentari. Lalu, seperti umumnya band anak sekolahan, kemampuan mereka tentu masih dianggap pas-pasan. Jangan bayangkan band profesional seperti Dewa 19, Gigi, atau semacamnya. Pasti beda jauhlah kualitasnya.

Nah perbedaan kualitas yang jauh itu yang membuat banyak orang bersemangat memberikan komentar. Beberapa komentar memang sangat jahat. Mereka mengolok-olok penampilan band sekolah itu. Dari aksi panggung yang mereka anggap norak, suara vokalis yang sumbang, sampai permainan musik yang tidak nyaman. Komentar-komentar jahat ini sangat ramai, dan kemudian menyebar. Diramaikan oleh warganet lain yang jari-jarinya sangat lemas.

Proses

Seorang musisi, penggebuk drum kelompok band Seringai – Edy Khemod, mengomentari fenomena ini. Menurut dia, semua keriuhan caci-maki dan ejekan dari warganet itu sama sekali tidak beralasan. Mereka ini adalah orang-orang yang sangat tidak menghargai proses.

Gua ngeband dari SD, main di acara 17an komplek dan dgn sok taunya bawain Iron Maiden. Kalo jaman itu udah ada sosmed pasti diketawain juga. Indahnya jaman pre-netizen dimana tampil jelek itu tdk apa. ~ @edykhemod

Tidak ada – atau mungkin tidak banyak – orang yang bisa bermain musik dan tampil di panggung dengan sangat bagus padahal baru pertama kali tampil. Semua butuh proses. Kecuali kamu adalah bocah prodigy yang memang lahir dengan bakat musik luar biasa sehingga ketika tampil pertama kali sudah bisa langsung bagus.

Sisanya adalah orang-orang normal yang butuh proses. Orang-orang normal yang ketika tampil pertama kali bisa saja jauh dari kata “bagus”. Bahkan mungkin bisa dibilang “jelek”. Tapi, itu kan yang namanya proses. Semua dimulai dari tidak bagus, lalu dengan ketabahan dan keinginan konsisten untuk terus memperbaiki diri, bisa saja suatu saat nanti akan menjadi bagus.

Seperti Edy Khemod. Zaman SD membawakan lagu-lagu Iron Maiden di pentas 17 Agustusan, pastilah tidak bagus. Bahkan mungkin jelek. Tapi karena dia punya keinginan untuk terus belajar, puluhan tahun kemudian dia terkenal sebagai salah satu drummer terbaik di Indonesia.

Semua itu hasil dari proses kan?

Zaman Instan

Zaman sekarang mungkin sangat berbeda dengan zaman 90-an ketika media sosial belum ada. Zaman dulu, proses itu sangat dihargai. Cercaan dan makian pasti ada, tapi belum semasif sekarang. Proses diterima sebagai sebuah hal yang biasa. Jelek itu biasa, asalkan masih di awal-awal. Kalau sudah bertahun-tahun tapi tetap jelek, itu sih prosesnya yang salah.

Sekarang, zaman sudah berubah. Sekarang zamannya sudah instan. Bakat-bakat baru dijaring lewat acara pencarian bakat, menghasilkan artis-artis yang instan. Artis yang prosesnya tidak sepanjang artis zaman dulu. Media sosial juga hadir untuk menjadi corong bagi hal-hal instan itu. Coba lihat, berapa banyak pesohor yang hadir lewat jalur media sosial. Bikin sesuatu di media sosial, belum matang, lalu sudah menjadi pesohor. Melewati proses yang jauh lebih pendek dibandingkan pesohor zaman dulu.

Media sosial menutupi atau menggantikan proses-proses yang panjang, yang dulu biasa ditempuh orang sebelum sampai di satu titik. Orang-orang juga akhirnya mulai lupa proses yang berdarah-darah itu. Mereka lebih senang menerima sesuatu yang instan, yang tiba-tiba sudah terlihat bagus.

Ini juga mungkin yang membuat banyak orang dengan ringannya melemparkan cacian dan makian pada sesuatu yang ditampilkan yang dianggap mereka belum bagus, belum sesuai standar yang biasa mereka lihat. Mereka juga menutup mata pada kondisi penampil. Bahwa mereka masih muda, baru belajar, jalan masih panjang, dan sebagainya.

Pokoknya semua harus bagus ketika sudah muncul di media sosial. Proses? Apa itu proses?

Keberanian

Kembali ke anak-anak SMP yang dikomentari oleh para warganet itu. Saya juga menonton video-video mereka, dan sebagai orang yang senang mendengarkan musik – apalagi band rock, saya berani bilang mereka bagus. Untuk ukuran anak SMP, mereka sudah bagus.

Bahwa suara vokalis mereka sumbang, atau penampilan panggung mereka norak, itu biasa. Kalau orang-orang sadar, vokalis sekelas almarhum Kurt Cobain pun sering kali tampil dengan suara yang sumbang, atau penampilan panggung yang norak dan aneh.

Mungkin terlalu jauh kalau membandingkan dengan Kurt. Tapi kita tidak boleh ingat bahwa mereka baru anak SMP, belasan tahun, baru beberapa tahun melepas celana pendek warna merah dan menggantinya dengan celana biru. Tapi, mereka sudah punya keberanian tampil di panggung, di depan umum. Jangan lupa juga, mereka bisa memainkan alat musik loh. Itu tidak mudah. Coba tanya orang-orang di sekitar Anda, bisakah mereka memainkan alat musik? Mungkin hanya 3 dari 10 orang yang bisa. Jadi, mereka anak-anak yang masih SMP itu sudah bisa memainkan alat musik dan berani tampil di panggung. Sekali lagi, anak-anak SMP!

Mereka yang dengan santainya melemparkan cacian dan makian itu, apakah bisa memainkan alat musik dengan lebih baik? Pertanyaan ini memang tidak relevan, karena penonton bola yang suka menghujat tim yang bermain juga tidak atau belum tentu bisa bermain bola dengan baik. Tapi sekali lagi harus diingat, ini yang bermain anak SMP, bukan musisi profesional yang untuk bisa menonton mereka bermain kita harus membayar mahal. Jadi mempertanyakan kalau kita bisa atau tidak bermain lebih baik dari mereka masih bisa diajukan.

Buat saya, anak-anak SMP yang sudah mampu memainkan alat musik dan berani tampil di depan publik itu luar biasa. Proses yang sangat pantas diberi apresiasi.

*****

Proses memang tidak selalu menarik untuk diapresiasi. Apalagi di zaman ketika sesuatu yang instan dan serba cepat seperti sekarang lebih dihargai. Makanya, proses yang berdarah-darah dan akrab dengan kata “tidak bagus” atau malah “jelek” itu kurang diapresiasi. Setidaknya jangan diunggah di media sosial. Media sosial bagi sebagian besar orang hanyalah tempat untuk menampilkan yang bagus-bagus, bukan yang masih berproses. Sayang sekali. Karena seharusnya media sosial juga bisa jadi tempat untuk mengapresiasi hal-hal bagus yang masih berproses. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.