Merawat Ketakutan
Merawat ketakutan jadi sebuah cara untuk mengontrol orang lain. Tentu karena manusia memang lahir dengan membawa ketakutannya sendiri-sendiri.
“Republik of fear,” kata Bhivitri Susanti, salah satu penanggap dalam peluncuran laporan situasi tahunan SAFEnet, Jumat 13 Februari 2026 lalu. Kalimat itu dia ungkapkan melihat bagaimana pemerintah sekarang seperti membangun ketakutan pada warganya dengan tujuan agar lebih mudah dikontrol.
Kalimat dari mbak BIbit – panggilan akrab Bhivitri Susanti – itu jadi sesuatu yang berdengung di kepala saya beberapa hari ini. Saya mengiyakan apa yang dia lemparkan itu. Benar juga, kata saya dalam hati.
Manusia memang lahir dengan rasa ketakutan. Rasa takut menjadi salah satu hal alami yang dimiliki setiap manusia. Anak bayi takut sendirian, anak kecil takut pada hantu, anak remaja takut tidak diterima lingkungan pergaulannya, dan semakin dewasa semakin banyak ketakutan dalam diri manusia.
Manusia juga dibekali survival insting, insting untuk bertahan hidup. Ketakutan itu memicu insting untuk bertahan melawan ketakutan itu, agar bisa tetap bertahan hidup. Manusia mencari uang untuk melawan ketakutan akan kemiskinan dan mati kelaparan. Manusia memilih pendidikan yang baik untuk anaknya untuk melawan ketakutan anaknya tumbuh sebagai manusia yang bodoh, dan banyak lagi hal lain yang dilakukan manusia untuk melawan ketakutannya.
Politik
Ketakutan itu kemudian digunakan juga dalam setiap kontestasi politik, di negara manapun. Tapi mari bicara di negara kita saja. Setiap kali kontestasi politik digelar, rasa ketakutan disebar. Tujuannya untuk mengatur calon pemilih agar memilih satu calon.
Dalam setiap pemilihan umum – apalagi pemilihan presiden – selalu ada ketakutan akan salah satu calon presiden yang digaungkan.
“Jangan pilih calon yang ini, di belakangnya ada pengusaha hitam,”
“Jangan pilih calon yang itu, dia didukung aseng dan asing,”
“Jangan pilih calon yang sana, masa lalunya kelam,”
Dan lain sebagainya.
Ketakutan-ketakutan itu memudahkan salah satu kubu untuk menggiring orang agar berkumpul di kubunya yang didesain lebih memberikan sedikit rasa takut.
Bagaimanapun rasa takut memang sangat mudah didesain untuk menyatukan orang atau bahkan sampai mengatur sebuah komunitas.
Dirawat
Merawat ketakutan oleh mereka yang punya kuasa memang pada akhirnya membuat mereka bisa mengontrol massa. Ini yang dilakukan pemerintah kita sekarang. Bahkan terasa lebih terang-terangan dibanding masa pemerintahan sebelumnya.
Masih ingat aksi demonstrasi besar-besaran bulan Agustus-September 2025 lalu? Pemerintah melihat betapa besar efek dari aksi itu, dan bisa jadi akan semakin membesar bila masyarakat tidak dikontrol. Maka mulailah rencana mengontrol itu dengan memanfaatkan rasa takut.
Aparat mengejar beberapa aktivis dan akun media sosial dengan tuduhan menyulut provokasi. Puluhan orang sudah ditangkap dan beberapa di antaranya sudah menjalani sidang. Tujuannya apa? Untuk menimbulkan ketakutan bahwa kalian akan berhadapan dengan hukum dan penjara bila berani kritis. Apalagi sebagian besar yang ditangkap itu adalah anak-anak muda, mereka yang kalau tidak diawasi akan semakin berbahaya di masa depan. Mereka harus dibuat takut sedari dini.
Lalu, seberapa sering kita mendengar presiden kita berpidato dengan menyalahkan “asing” sebagai biang kerok beragam hal tidak beres di negara kita? Apapun masalahnya, “asing” adalah pelakunya.
Buat apa narasi ini terus didengungkan? Tentu saja untuk menciptakan musuh bersama yang ditakuti bersama. Di zaman Orde Baru, pemerintah Soeharto selalu mendengungkan “bahaya laten komunis” yang tujuannya sama; menimbulkan ketakutan. Masyarakat yang takut lebih mudah dikontrol. Kita sama-sama takut pada komunis, jadi mari bersama pemerintah menjamin keamanan itu. Jangan macam-macam atau kalian akan dianggap bagian dari komunis!
*****
Apa yang dikatakan oleh Mba Bibit dalam kegiatan Jumat kemarin terasa sangat relate dengan kehidupan sekarang. Terjawab sudah kenapa pemerintahan Prabowo sangat getol menunjukkan kuasa pada rakyatnya sambil tidak lupa menunjuk “pihak asing” sebagai musuh bersama. Sampai kapan ketakutan ini akan dirawat untuk menjamin perpanjangan keuasaan di negeri kita? [dG]
soal narasi “asing” ini kayanya lagi moncer akhir-akhir ini. kalo di negara barat, ketakutan akan pihak asing ini justru ke arah penduduk, imigran. lagi-lagi, akar masalahnya adalah “ketakutan”..