Menghargai Jasa

Foto orang menservis HP. Dibuat pakai Gemini AI

Kebiasaan menghargai jasa seseorang kadang masih jadi hal sulit dipraktikkan di Indonesia. Padahal mereka ini sudah meluangkan waktu, tenaga, dan kemampuan.


Ini sebenarnya cerita sudah agak lama, sudah hampir dua bulan lalu. Jadi ceritanya ponsel saya bermasalah. Ketika diisi daya, tiba-tiba mati lalu menyala kembali tapi kemudian berhenti hanya sampai logo Samsung, setelah itu mati lagi dan menyala kembali, tapi tetap hanya sampai logo Samsung. Begitu terus.

Saya sudah mencoba mencari beberapa cara memperbaikinya lewat internet. Semacam P3K, siapa tahu saya bisa menyelamatkannya. Tapi sampai beberapa cara saya coba hasilnya tetap sama, tidak ada perbaikan sama sekali. Sampai akhirnya saya tiba pada kesimpulan kalau masalahnya ada pada perangkat keras, bukan perangkat lunak. Artinya ponsel ini harus menemui tukang servis.

Ke Tukang Servis

Saya tidak punya tukang servis langganan, jadi saya hanya mencari tahu lewat mesin pencari. Hasilnya saya mendapatkan sebuah tempat servis ponsel di kawasan Jln. Rappocini Raya yang memang dikenal sebagai pusat penjualan dan servis ponsel di Makassar.

Berangkatlah saya ke tempat itu, berharap ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh tukang servis itu untuk menyelamatkan ponsel saya. Sengaja saya tidak ke tukang servis resmi dari merek ponsel saya karena tahu harganya pasti akan sangat mahal. Jadi saya ke tukang servis tidak resmi dulu untuk setidaknya tahu kisarannya berapa.

Saya tiba di tempat servis itu dan disambut seorang perempuan muda berhijab. Di sebelahnya, ada dua orang laki-laki muda duduk di belakang meja dengan peralatan servis yang lengkap. Saya ceritakan masalah ponsel saya ke si perempuan muda yang menerima ponsel saya itu.

“Dicek dulu ya pak apa kerusakannya, habis itu kita bisa kasih kisaran harga perbaikannya,” katanya. Saya mengiyakan.

Ponsel saya diserahkan ke dua orang laki-laki muda di sebelahnya. Salah seorang dari mereka menerima ponsel saya dan langsung mengutak-atiknya.

“Masalahnya apa pak?” Tanyanya.

Saya jelaskan kronologinya dan apa yang terjadi pada ponsel saya. Dia melihat-lihat sebentar, mencoba menyalakannya dan menemukan masalah yang sama seperti yang saya bilang.

“Dicek dulu ya pak. Tidak perlu bayar kalau cuma mengecek,” katanya.

Dia kemudian melakukan langkah-langkah pengecekan. Awalnya dari perangkat lunak sebelum saya lihat dia mulai membuka ponsel saya dengan alat. Lumayan lama dia melakukan pengecekan, mungkin sekitar 20 menit.

Saya mendekat ketika akhirnya dia memanggil saya.

“Sepertinya masalah di IC baterai pak, atau bahkan mungkin mainboard-nya. Kami harus cek lagi,” katanya. Dia lalu melanjutkan, “Kami belum bisa kasih estimasi biayanya sebelum tahu apa kerusakannya. Handphone-nya harus ditinggal dulu.’

Saya sudah menduga karena berdasarkan artikel yang saya temukan, memang kemungkinan ada masalah pada perangkat pengisian dayanya atau bahkan pada mainboard-nya. Jadi penjelasan si anak muda itu menguatkan dugaan awal saya.

“Oke kalau begitu. Berapa biaya ceknya?” Tanya saya.

“Gratis pak kalau hanya dicek,” jawabnya.

“Loh? Kenapa bisa gratis? Kan kalian sudah meluangkan waktu untuk mengecek,”

“Hehehe memang begitu pak,” katanya lagi dengan menyeringai.

Saya tidak setuju dengan jawabannya. Ketika semua proses administrasi selesai dan saya diberikan selembar nota perbaikan, saya mendekati salah satu dari anak muda itu lalu menyelipkan selembar uang untuk mereka.

“Kalian bagi dua ya,” kata saya sambil berbisik. Si penerima berterima kasih sambil berpaling ke temannya yang juga ikut berterima kasih.

Menghargai

Mungkin yang saya lakukan itu seperti melanggar SOP atau aturan di tempat kerja mereka, tapi buat saya itu harus saya lakukan. Saya merasa harus menghargai waktu dan kemampuan mereka. Si tukang servis sudah meluangkan waktu untuk mengecek ponsel saya, bahkan membongkarnya untuk melakukan pengecekan awal. Kemampuan itu tentu tidak datang tiba-tiba ketika mereka tidur, tapi lewat pengalaman panjang atau mungkin bahkan kursus khusus. Saya merasa itu perlu untuk dihargai.

Saya tidak nyaman ketika memanfaatkan waktu dan kemampuan seseorang lalu tidak membayarnya. Saya tidak mau jadi orang yang dimanfaatkan waktu dan kemampuannya lalu tidak dihargai. Beda cerita kalau misalnya orang minta tolong dan kebetulan saya bisa, tentu saya dengan senang hati membantu. Tapi tidak jika bicara bisnis atau profesional.

Saya dulu pernah ada di posisi ketika pekerjaan saya kadang hanya dianggap sebagai pekerjaan tidak penting.

Cuma gambar saja, koq mahal sekali?

Masak menggambar saja harganya segitu?

Dan beberapa pertanyaan lain yang intinya menganggap apa yang saya lakukan seharusnya murah atau bahkan gratis. Mereka tidak sadar kalau saya bisa mengerjakan itu karena hasil belajar selama bertahun-tahun, dan saya meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukannya.

Mungkin pengalaman itu yang membuat saya merasa saya perlu menghargai pekerjaan orang lain. Menghargai kemampuan, waktu, dan tenaga yang dia sisihkan. Karena saya kebetulan ada uang, maka saya mencoba menghargainya dengan uang. Kalau tidak ada uang maka mungkin saya akan menghargainya dengan ucapan terima kasih yang tulus.

Saya merasa apa yang dilakukan oleh si tukang servis ponsel itu sangat layak dihargai. Mungkin tidak harus dengan nominal rupiah yang besar, tapi berapapun nilainya itu harus dihargai. Mungkin masih terasa asing di negara kita yang hanya terbiasa menghargai barang dan bukan jasa. Ini bukan soal menghilangkan kebiasaan tolong menolong, tapi membiasakan diri menghargai jasa orang. Tempat dia bekerja adalah entitas bisnis, bukan lembaga sosial, jadi menurutku wajar kalau kita memberi sedikit penghargaan untuk jasa yang mereka keluarkan.

Mungkin memang kita belum terbiasa dengan model seperti itu. Saya rasa beberapa orang akan menganggap itu berlebihan karena dirasa si tukang servis belum memperbaiki masak sudah harus dibayar? Tapi mereka lupa kalau proses mengecek itu adalah bagian dari proses memperbaiki, terlepas dari apakah prosesnya akan diteruskan atau tidak.

*****

Ini mungkin akan jadi diskusi panjang, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Tapi buat saya ini jadi sesuatu yang akan saya pegang. Menghargai jasa orang lain, menghargai waktu, tenaga, dan kemampuan orang lain. Meski mungkin tidak seberapa, tapi selagi bisa saya akan membayarnya dengan uang. Hidup memang tidak selalu tentang uang, tapi tanpa uang yang lain-lain biasanya akan jadi lebih susah. Ya tidak? [dG]