Pikiran

Memanfaatkan Ketakutan

Selama manusia masih hidup, selama itu pula rasa takut akan jadi sahabatnya. Selama itu pula rasa takut akan dimanfaatkan oleh orang lain, termasuk politisi.



Ketakutan atau rasa takut adalah insting purba manusia. Naluriah, ikut bersama kita sejak detik pertama kita lahir di dunia. Dan dia terus ada di dalam tubuh kita, sampai kita mati nanti. Beberapa orang berhasil menekannya, mengabaikannya atau bahkan menggunakannya untuk membuat hidupnya lebih baik. Beberapa lagi pasrah pada rasa takut itu, menekan semua potensi dirinya dan menjadi benar-benar tidak berdaya di bawah bayang-bayang rasa takut.

Sadar ndak kalau sebagian besar keputusan yang kita ambil didasari oleh rasa takut?

Orang tua menyekolahkan anaknya karena takut si anak akan jadi bodoh dan tidak bisa hidup nyaman kelak ketika dia dewasa. Kita mencari kerja, mencari penghasilan karena takut tidak bisa membeli makanan dan menikmati kehidupan yang layak. Kita membangun rumah karena takut tidur di jalan. Dan banyak lagi keputusan yang kita ambil karena adanya rasa takut dalam diri kita.

Sebagian orang lalu memanfaatkan insting purba ini untuk kepentingan mereka dan golongannya.

Para advertiser memasukkan unsur-unsur penuh ancaman untuk mempromosikan produk mereka. “Hari Senin harga naik”, hanya salah satu contoh. Kalau tidak beli sekarang, bisa-bisa hari Senin kita akan sulit membelinya karena harganya sudah naik. “Beli sekarang atau Anda akan kehabisan,” itu hanya contoh lain. Kalian tentu bisa memberi contoh-contoh lain kampanye promosi yang mengusik rasa takut manusia. Sebagian besar berhasil, dan karenanya diproduksi berulang-ulang, terus menerus.

Ketakutan ampuh membuat orang mengambil keputusan, dan bahkan tak sadar mengikuti instruksi yang diberikan.

Ketakutan bahkan jadi senjata paling ampuh yang digunakan oleh politisi di seluruh dunia untuk menarik dukungan. Kampanye politik seringkali mempermainkan rasa takut para pemilih untuk menggiring mereka menjatuhkan pilihan, tentu saja pada si pembuat rasa takut.

Termasuk di Indonesia.

Menjual Ketakutan di Musim Pilpres.

Strategi yang sama, yang sudah terbukti berhasil di banyak tempat di dunia, juga digunakan di Indonesia. Bahkan oleh dua tim sukses dua kandidat presiden Indonesia periode 2019-2024. Kedua tim sukses sama-sama memproduksi ketakutan yang diharapkan bisa menggelitik alam bawah sadar orang Indonesia dan pada akhirnya akan menjatuhkan pilihan sesuai keinginan tim sukses.

“Kalau Prabowo jadi presiden, Indonesia akan jadi negara intoleran. Agama mayoritas akan menekan agama minoritas.”

“Kalau Prabowo jadi presiden, para koruptor akan diberi pensiun, dimaafkan. Bayangkan bagaimana kacaunya nanti negeri ini.”

Silakan kalian menambahkan. Lalu, bandingkan dengan narasi ini:

“Kalau Jokowi kembali jadi presiden, kekayaan Indonesia akan semakin banyak dikuasai asing. Dibawa ke luar dan kita hanya menikmati remah-remahnya.”

“Kalau Jokowi jadi presiden lagi, kita tidak lebih dari negara besar yang jadi kacung di negeri sendiri.”

Silakan kalian menambahkan.

Keduanya sama, sama-sama menjual rasa takut yang akan membuat para calon pemilih berpikir sebelum menjatuhkan pilihan atau memantapkan pilihan. Dengan ketakutan yang diproduksi dan disebar terus menerus itu, para pemilih diharapkan akan berpikir tentang masa depan anak-anak mereka, masa depan keluarga mereka dan tentu saja masa depan mereka sendiri.

“Duh, nanti anak-anak saya tidak akan bebas menjalankan ajaran agama dong,”

“Duh, bagaimana kalau nanti koruptor semakin merajalela di negeri ini?”

“Duh, bagaimana kita bisa hidup makmur kalau kekayaan kita bocor semua ke negeri asing?”

“Duh, anak-anak saya nanti hanya jadi jongos di negeri sendiri sementara bosnya adalah orang asing?”

Dan serentetan ketakutan lainnya.

*****

Sebagai insting paling dasar manusia, ketakutan akan terus ada. Ketakutan juga akan jadi senjata pamungkas para politisi untuk mendulang suara, menjala dukungan. Tidak peduli apakah ketakutan itu benar adanya, atau hanya rekaan semata demi tujuan pribadi dan golongan. Tidak peduli apakah ketakutan itu memang ada atau hanya dilebih-lebihkan.

“Neither a man nor a crowd nor a nation can be trusted to act humanely or to think sanely under the influence of a great fear.”


~Bertrand Russell

Selama politisi masih ada, maka selama itu pula ketakutan akan jadi salah satu hal yang akan terus dieksploitasi.

Kita? Yah kita hanya harus menerima kenyataan bahwa ketakutan kita akan terus dimainkan. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Wah benar juga…
    Saya disekolahkan juga karena orang tua takut saya nggak bisa apa-apa.
    Saya kerja juga karena saya takut saya nggak bisa beli keperluan sehari-hari kelak.

    Begitu juga hal-hal lain. Berawal dari takut.

    Terima kasih pencerahannya Kak.

    Salam.

  2. Memanfaatkan ketakutan bisa ke dua hal berarti; positif dan negatif 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.