Pikiran

Tipu-Tipu Film Porno

“Film porno atau film bokep, meskipun banyak dimusuhi tapi tetap banyak dicari orang. Sayangnya, banyak juga yang tidak mengerti kalau film ini penuh dengan tipu-tipu.”


film porno
Adegan dari film “Love”

SALAH SATU GENRE FILM yang paling banyak mengundang kontroversi. Paling dicari, tapi sekaligus paling disembunyikan. Apalagi kalau bukan film porno. Industri film dewasa yang di Indonesia juga disebut film bokep ini sudah menyerupai industri film “normal” dengan pemasukan yang aduhai menggoda. Menurut laporan situs Time, di tahun 2013 pendapatan dari industri film porno di Amerika Serikat bisa mencapai angka $5 miliar. Memang angka ini menurun jauh dari angka 10 tahun sebelumnya yang bisa mencapai $13 sampai $14 miliar. Kencangnya pembajakan daring ikut menggerus keuntungan para pengusaha film porno di Amerika Serikat. Belum lagi produksi film porno independen atau amatir yang terus meningkat.

Meski keuntungannya terus menurun, namun minat para pembuatnya tidak pernah benar-benar surut. Kalau di tahun 90an raksasa film porno yang terkenal adalah Vivid, maka di milenium kedua ini para penggemar film dewasa ini mungkin akrab dengan nama-nama seperti Brazzer, Bangbros, Blacked, Blacked Raw atau Tushy. Mereka inilah raksasa baru film dewasa yang bertahan dan terus menelurkan beberapa inovasi baru. Baik itu dari segi konten, maupun dari segi pemasaran. Ini tentu mereka lakukan karena sadar kalau peminat genre film ini masih sangat besar, dan masih sangat potensial mendatangkan keuntungan.

Peminatnya memang masih banyak, tapi sayangnya masih banyak juga yang tidak bisa membedakan mana realita, mana yang fantasi. Akibatnya, para peminat tipe ini mulai jatuh dalam jebakan film porno yang kalau tidak disadari bisa membuat hidup berantakan.

Bagaimana kisah para bintang film dewasa itu ketika pensiun? Baca kisah mereka di sini

Di mesin pencari akan sangat banyak data dan artikel yang menuliskan tentang dampak buruk film porno. Bukan hal yang sulit untuk ditemukan. Apa yang saya tuliskan di sini sebenarnya lebih banyak mengulas hal teknis film porno yang bila ditelaah dengan logika akan terasa tipu-tipunya. Kalau sudah terasa tipu-tipunya, maka harusnya kita sudah sadar kalau apa yang ada dalam film itu murni hanya fantasi saja, fiksi dan bukan realita.

Apa saja yang – menurut saya – adalah tipu-tipu khas film porno? Mari kita simak.

#1. Jalan Cerita Yang Menggampangkan

Namanya film kan ya? Pastilah ada ceritanya yang mengawang-awang, dilebih-lebihkan. Film “normal” pun sebenarnya banyak menyajikan adegan fantasi yang kadang tidak masuk akal. Tapi berbeda dengan film bokep, orang masih lebih menerima itu sebagai khayalan. Sementara di film porno, para penikmatnya kadang lupa kalau itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata yang masih waras.

Misalnya ya, di salah satu film porno ada cerita tentang cewek yang naik kereta dan tahu-tahu sudah berada di antara penumpang cowok. Salah satu dari penumpang itu kemudian mulai melecehkannya, menggerayanginya. Alih-alih marah atau jijik, si cewek malah menikmatinya dan bahkan membiarkan saja ketika penumpang cowok lainnya mulai melakukan hal yang sama hingga kemudian adegan berakhir dengan persetubuhan massal di atas kereta yang masih berjalan itu.

Seberapa persen hal itu bisa jadi kenyataan di dunia nyata? Jangan-jangan karena menonton film itu, ada cowok yang kemudian mempraktikkannya dan berharap si korban akan menikmati dan kemudian berakhir dengan adegan persetubuhan di dalam kereta.

Oh tidak semudah itu Ferguso! Alih-alih berakhir jadi adegan persetubuhan, yang ada malah adegan pemukulan oleh penumpang lain karena si cewek berteriak meminta tolong.

Jadi ya singkirkan saja pikiran kalau cerita yang ada di film bokep itu bisa terjadi di dunia nyata.

Mari bicara tentang seks di sini

#2. Ukuran Harus Super Wow

Hampir semua film porno menyajikan gambar persetubuhan dengan aktor dan aktris yang memiliki perangkat wow. Dari perempuan dengan dada seperti buah melon sampai pria dengan penis seperti terong. Bagi para produsen film porno, ukuran adalah segalanya. Semakin besar, maka semakin menarik perhatian.

Sayangnya, para penikmat film ini lupa kalau itu hanya trik bisnis. Mereka lalu mematok di alam bawah sadar bahwa kenikmatan seks baru bisa dicapai kalau pelakunya memiliki ukuran yang wow. Pria baru bisa mencapai kenikmatan kalau bercinta dengan perempuan yang punya aset besar, begitu juga perempuan baru bisa menikmati seks kalau bercinta dengan pria dengan aset besar. Kalau aset kamu biasa saja, maka jangan berharap akan menikmati seks.

Oh salah sekali, Justo!

Apa yang ditampilkan oleh film-film porno itu benar-benar hanya tipuan saja. Seks tidak selamanya mengharuskan ukuran yang wow, tapi lebih kepada perasaan terikat, terhubung dan saling sayang. Percuma punya ukuran wow kalau dua pelakunya tidak saling sayang dan tidak punya ikatan perasaan yang kuat.

Jadi jangan percaya begitu saja pada tipu-tipu nomor dua dari film porno itu.

#3. Durasi Berpuluh-puluh Menit.

Rata-rata film bokep menyajikan adegan pesetubuhan yang memakan waktu belasan sampai puluhan menit. Mulai dari pemanasan sampai adegan inti. Sialnya, durasi ini oleh para penikmat dijadikan sebagai patokan bagaimana sebuah persetubuhan harus berlangsung. Mereka kemudian merasa persetubuhan mereka di dunia nyata sama sekali tidak berkualitas karena hanya berlangsung selama beberapa menit.

Oh kasihan sekali kamu Fernando!

Harus diketahui kalau adegan-adegan yang dikemas dalam film porno itu adalah adegan-adegan yang sudah dilebih-lebihkan. Dari ekspresi, teriakan sampai durasi. Semua jauh di atas hal yang umum dilakukan manusia biasa.

Menurut pakar seks, tidak ada durasi patokan paten tentang berapa menit durasi yang pas untuk sebuah hubungan seksual. Masing-masing pasangan punya pilihan waktunya sendiri-sendiri. Tapi, penetrasi sampai belasan menit atau bahkan puluhan menit diyakini justru hanya membuat rasa tidak nyaman, khususnya pada sang perempuan. Alih-alih merasa senang dan terpuaskan, yang ada malah rasa perih tak terperi karena cairan pelicin sudah habis diproduksi.

Jadi, tidak usahlah menempatkan durasi percintaan dalam film porno sebagai patokan. Itu hanya tipu-tipu saja, untuk menimbulkan kesan wow. Di dalam produksinya ada obat-obatan yang ikut ambil bagian, ada pula proses editing yang membuat durasinya tampak lama.

******


film porno
Ilustrasi

MENGHINDARI FILM PORNO dalam kehidupan nyata memang jadi pilihan ideal. Menikmati hidup dengan pasangan tanpa harus melibatkan film porno adalah hal yang bagus. Tapi kita tidak bisa menghindari realita bahwa hiburan dewasa ini masih banyak peminatnya. Terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Semakin dilarang, semakin dicari, kata orang. Karena sesungguhnya setiap orang punya rasa penasaran dan sisi gelap yang kadang susah untuk dikontrol.

Syarat utama untuk menonton film porno tentu saja adalah usia. Penontonnya harus benar-benar dewasa secara usia dan pikiran, serta bisa memilah dampaknya dengan logika yang sehat. Kalau cuma untuk memuaskan rasa penasaran atau sebagai hiburan, okelah. Asal jangan dijadikan patokan.


film bokep
Infografis

Semua harus dilakukan dengan bertanggungjawab.

Kemampuan memilah antara realitas dan khayalan sangat dibutuhkan ketika memutuskan untuk menonton film porno. Ingatlah selalu, bahwa apa yang Anda saksikan bukanlah hal yang nyata dan jelas sekali dilebih-lebihkan. Atau singkatnya; film porno itu penuh dengan tipu-tipu. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (37)

  1. Saya protes!
    Kenapa cuma Ferguso, Justo, dan Fernando yang disebut? Bagaimana dengan Pedro, Alfredo, dan Bulgoso?

  2. Sekarang salah satu yg bikin orang banyak cari film bokep karena banyaknya produksi amatir yang diberitakan. Biasa tdk ditauji tp krn berita dibaca jadi dicarimi.

  3. Padahal dokter k, tapi jijik kurasa kalo nonton begituan. Dan kentara sekali tipunya. Masa iya berhubungan sampai 1 jam dan ceweknya masih mendesah2 enak padahal harusnya lecetmi vaginanya? Apalagi pasti take-nya berulang2 kali. Kasihan…. 🙁
    Eh tapi GOT masuk kategori film porno tidak? Karena kalo GOT, kusukaki. Hahaha….

  4. Teringat jaman SMa dulu….rela bolos kelas demi nonton rame-rame filmnya Bandung Lautan Asmara 😆 😆 😆

  5. Mungkin ceweknya pake Resik V Khasiat Manjakani Whitening yang mencerahkan dan mengencangkan.
    #eh 😆

  6. Seperti Ayi, mau ka’ tanya kenapa ndak ada nama Marimar, Alexandra, Izaura, di dalam tulisan ini? Ah ya … mereka bukan penikmati film porno kayaknya, ya?

  7. Film tipu-tipu tapi banyak yang suka ditipu-tipu 😀 bisnis yang satu ini juga banyak memasang iklan di web game dan film gratisan, kadang kesel juga liat web game iklan-iklannya berkonten dewasa terpaksa install addon macan2 di browser biar anak2 gak lihat iklan2 yg bikin ibunya teriak2 🙁

  8. Walaupun bnyak tipu-tipunya ini film porno tetap banyak penggemarnya.. Bnyak yang cantik tapi pengen terkenal instan , jadi aktor film porno juga menjadi pilihan..kalau soal adegan yang berlebihan-lebihan kayak durasi terlalu lama itu cuma soal editan supaya betah penonton..

  9. jangan2 salah satu produser ini sampe tau detil ttg tipu2 film porno wkwkwk

  10. waduh.. jadi selama ini saya tertipu yah? gak lagi-lagi deh nonton fllm porno kalau begitu..

  11. Harusnya film seperti ini masuk dalam kategori film yang penuh dengan kekerasan baik secara visual, emosional dan fisik.
    Ndak cocok ka saya nonton film begini karena dihantui rasa mengerikan. XD

  12. 18+
    dulu sebelum nikah aku juga mikirnya gitu Daeng.. pas udah nikah, ah semuanya rekayasa kampret! hahaha

  13. Saya cukup nonton film GoT saja, karena sudah terwakili unsur dewasanya. Jadi nggak monoton nonton begitu dari awal sampai akhir *eh

  14. Namanya juga film ya Daeng, nggak ada yang sesuai dengan kenyataan apalagi film porno. Semua penuh dengan “baku tipu”. Aduh mamayo mending stop sudah, tarada gunanya sama sekali kitong percaya yang beginian haha? *sok logat papua

  15. Ini mereka yang konsumsi film ini belinya ofline kah kak? klu misal ada onlinenya, kenapa situsnya nda di blokir ? btw untung saja nda ikut2an nonton film begini.

  16. Untuk nulis blogpost ini sudah berapa film yang Daeng jadikan bahan untuk penelitian ? Atau jangan2 karena kebanyakan nonton jadi akhirnya muncul ide untuk menulis. *peace ?

  17. Hahahaha.. kalau nonton yang durasinya lama-lama itu malah jadi ngantuk ya, soalnya gerakannya konstan dan terlihat monoton sampai para aktor dan aktris berganti posisi 😀

  18. Saya pernah baca cerita para aktor. Kasihan juga mereka. Kadang kala harus beberapa kali take gambar. Trus mereka harus konsumsi obat-obatan tertentu juga biar tetap bisa on di depan kamera. Akibatnya, mereka malah sudah kehilangan sense of apaaa itu istilahnya. Yang jelas di antara mereka ada yang sudah tidak bisa lagi menikmati sex di kehidupan sehari-harinya.

    • iyyaaaa, utamanya yang cowok
      keseringan disuntik supaya tetap ereksi dan akhirnya jadi kebas, mati rasa
      di kehidupan nyata benar-benar nda bisa mi merasakan enaknya seks

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.